By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Brem Madiun: Kelezatan Fermentasi Tape Ketan yang Melegenda
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Brem Madiun: Kelezatan Fermentasi Tape Ketan yang Melegenda
Warisan Budaya

Brem Madiun: Kelezatan Fermentasi Tape Ketan yang Melegenda

Anisa Kurniawati
Last updated: 14/02/2025 07:41
Anisa Kurniawati
Share
Brem sudah ada sejak masa kolonial. Pada saat itu, brem merupakan makanan yang tergolong mewah. Foto: yoitsme
SHARE

Makanan kecil Brem merupakan penganan legendaris yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Kudapan ini terbuat fermentasi tape ketan. Kini brem tidak hanya dapat ditemukan di Jawa Timur, tetapi juga di banyak daerah lain juga seperti Jawa Tengah dan Bali.

Bentuk Brem umumnya persegi panjang, berwarna putih gading, tersusun rapi simetris dalam kemasan. Rasanya asam manis.

Nama brem berasal dari kata peram. Dalam bahasa Jawa, istilah peram berarti proses menyimpan bahan dalam waktu tertentu. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya harus diperam.

Proses peram atau fermentasi tape ketan ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Istilah prem kemudian dilafalkan menjadi “prem,” yang kemudian berubah menjadi “brem.” 

Sejarah Brem 

Brem sudah ada sejak masa kolonial. Pada saat itu, brem merupakan makanan yang tergolong mewah. Hanya segelintir orang yang mampu membelinya, mengingat saat itu kebutuhan pokok seperti nasi pun sulit terpenuhi. 

Menurut beberapa sumber, brem berasal dari Dusun Bodang. Kudapan ini dibuat Marsiyem yang telah menguasai teknik pembuatan brem sejak usianya masih belasan tahun. Ia mempelajari cara membuat brem dari Mbah Lurah Dusun Bodang. 

Pada masa lalu, mendapatkan bahan baku dan alat untuk membuat brem bukanlah perkara mudah. Marsiyem harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota Madiun.

rem yang awalnya hanya diproduksi di Dusun Bodang kemudian menyebar ke beberapa dusun lain.

Baca juga: Kuliner Legendaris Bubur Gunting Warisan Leluhur Singkawang

Proses Pembuatan Brem

Pembuatan brem diawali dengan mencuci beras ketan hingga bersih, lalu dikukus selama 20 menit. Setelah itu, beras ketan dicuci kembali dan dikukus lagi selama 1,5 jam untuk memastikan warna brem nantinya tetap putih. 

Setelah matang, nasi ketan didinginkan di atas kain, kemudian ditaburi ragi untuk fermentasi. Pemberian ragi harus dilakukan saat nasi benar-benar dingin, karena jika masih hangat, brem yang dihasilkan akan memiliki rasa kecut.

Fermentasinya selama tujuh hari hingga ketan berubah menjadi tape dengan tekstur lunak dan berair.

Air tape inilah yang menjadi bahan utama brem. Tape ketan kemudian diperas untuk mendapatkan sari tape yang lebih jernih, lalu direbus hingga sarinya terpisah. 

Setelah itu, adonan diaduk menggunakan mesin hingga berbentuk pasta. Adonan ini kemudian dicetak sesuai selera, baik dalam bentuk persegi panjang pipih maupun bulat pipih.

Langkah terakhir adalah menjemur atau memanggang brem hingga kering sebelum dikemas.

Ampas tape ketan yang tersisa tidak dibuang begitu saja. Teksturnya yang lunak namun kering biasanya dimanfaatkan untuk membuat bolu kukus dengan aroma khas tape. Cukup dengan mencampurkannya dengan telur, gula, garam, dan tepung, lalu dikukus hingga matang.

Seiring perkembangannya, brem juga dibuat dengan berbagai rasa seperti cokelat, stroberi, melon, jeruk, bahkan durian. Hal ini dilakukan supaya Brem lebih bervariasi dan tidak hanya menjadi makanan khas Indonesia tapi juga bisa mendunia.

You Might Also Like

Patung Sapundu Simbol Budaya dan Spiritualitas Suku Dayak

Teh Solo dalam Budaya Minum Teh Indonesia

Wisata Religi Menengok Jam Matahari di Masjid Al-Manshur

Menelusuri Jejak Kuliner Wajik Menjadi Jajanan Klasik

Tari Siwar, Rayakan Keindahan Seni dan Budaya Lahat

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Keunikan Tradisi Pemakaman di Desa Trunyan Pulau Dewata
Next Article KKN UMP di Wonosobo Berakhir, Pemda Apresiasi Mahasiswa
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?