By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Kisah Perjalanan Maestro Seni Raden Saleh, Sang Pelukis Raja
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Profil > Kisah Perjalanan Maestro Seni Raden Saleh, Sang Pelukis Raja
Profil

Kisah Perjalanan Maestro Seni Raden Saleh, Sang Pelukis Raja

Anisa Kurniawati
Last updated: 24/02/2025 01:53
Anisa Kurniawati
Share
Potret pelukis legendaris dari Indonesia, Raden Saleh. (Dok. BPSMP Sangiran)
SHARE

Salah satu sosok legendaris dalam dunia seni lukis Indonesia adalah Raden Saleh. Pelopor seni lukis modern ini, karya-karyanya bernilai tinggi tetap dikenal hingga sekarang.

Raden Saleh pernah menjadi pelukis Istana Belanda sehingga dijuluki sebagai Sang Pelukis Raja. 

Raden Saleh Sjarif Boestaman, atau lebih dikenal sebagai Raden Saleh, lahir di Terboyo, dekat Semarang. Tahun kelahirannya masih menjadi perdebatan, tetapi berdasarkan sebuah lukisan potret diri, ia mencantumkan Mei 1811. 

Pada 23 April 1880, Raden Saleh meninggal dunia akibat gangguan aliran darah di dekat jantung. Jasadnya dimakamkan di TPI Bondongan, Bogor, dengan batu nisan yang mencatat prestasinya sebagai pelukis kerajaan Belanda.

Awal Perjalanan Raden Saleh

Lahir dari keluarga keturunan Jawa-Arab, ayah Raden Saleh adalah Sayyid Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya. Sementara ibunya, Mas Adjeng Zarip Hoesen, yang berasal dari keluarga ningrat Jawa.

Raden Saleh merupakan cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari garis ibu. 

Pada usia 10 tahun, ia diserahkan kepada pamannya, Kyai Adipati Soero Menggolo, Bupati Semarang yang juga anggota Javaansch Weldading Genootschap, sebuah komunitas filantropi yang sebagian besar anggotanya pejabat Belanda. 

Dari lingkungan ini, minatnya terhadap seni lukis dan budaya Eropa semakin berkembang. Berdasarkan catatan sejarah, Raden Saleh mulai belajar melukis tahun 1819 dan bersekolah di Volks-School (sekolah rakyat).

Bakat melukis Raden Saleh mulai terlihat sejak ia bersekolah di Volks-School. Pada usia remaja, bakatnya menarik perhatian A.A.J. Payen, seorang pelukis asal Belgia. Saat itu ia mengajak Raden Saleh untuk menjadi muridnya. 

Menimba Ilmu di Eropa

Pada tahun 1829, dengan dukungan Van der Capellen, Raden Saleh dikirim ke Belanda untuk memperdalam ilmu seni lukis. Selain itu, ia juga bertugas mengajarkan adat dan bahasa Jawa kepada Inspektur Keuangan Belanda, de Linge. 

Setibanya di Belanda, ia mendalami bahasa Belanda, litografi, dan seni lukis dibimbing Cornelis Kruseman dan Andries Schelfhout. Keduanya adalah pelukis ternama mengasah bakat Raden Saleh melukis potret dan pemandangan.

Kesempatan belajar di luar negeri ini dimanfaatkan dengan baik Raden Saleh. Ia bahkan berhasil mengadakan pameran di Den Haag dan Amsterdam, yang membuatnya semakin dikenal di kalangan masyarakat Belanda. 

Karena minatnya yang besar, ia tinggal lebih lama di Eropa guna mempelajari ilmu pasti, ukur tanah, dan teknik pesawat. Permohonannya disetujui oleh Raja Willem I dan pemerintah Hindia Belanda, meskipun beasiswanya dihentikan.

Baca juga: Lukisan Raden Saleh Laku Puluhan Miliar di Sotheby’s Singapura

Menjadi Pelukis Kerajaan

Pada tahun 1839, Raden Saleh berangkat ke Jerman dan tinggal selama lima tahun sebagai tamu kehormatan Kerajaan Jerman. Saat itu, Jerman belum mengenal gaya orientalisme, sehingga Raden Saleh menjadi pelopor di bidang ini. 

Setelah kembali ke Belanda tahun 1844, ia telah menjadi pelukis besar yang diakui Raja Willem II. Sebagai bentuk penghargaan, Raden Saleh dianugerahi Bintang Eikenkoon dari Luxemburg dan diangkat menjadi pelukis istana.

Setelah menghabiskan bertahun-tahun di Eropa, Raden Saleh kembali ke Jawa pada tahun 1851. Ia mendapat tugas sebagai konservator koleksi benda seni.

Meskipun diakui sebagai pelukis besar, pemerintah kolonial tetap mencurigai Raden Saleh. Dia diduga terlibat dalam beberapa kerusuhan. Namun, tuduhan itu tidak pernah terbukti. 

Penangkapan Pangeran Diponegoro

Ada banyak sekali karya Raden Saleh. Dalam karyanya, Raden Saleh banyak menggambarkan romantisme yang berkembang di Eropa pada awal abad ke-19 Masehi.

Namun, lukisannya juga mengandung paradoks, misalkan Raden Saleh menggambarkan keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan atau nilai religius sekaligus ketidakpastian takdir.

Salah satu karya terkenal Raden Saleh adalah lukisan Penangkapan Diponegoro yang selesai ia buat pada 1857. Lukisan itu dipersembahkan Raden Saleh kepada Raja Willem III dan baru dibawa pulang ke Indonesia pada 1978. 

Raden Saleh melukiskan peristiwa ini dengan nuansa yang lebih tragis dan penuh perlawanan. Pangeran Diponegoro digambarkan dalam posisi tegang, dengan ekspresi menahan marah. 

Beberapa lukisan Raden Saleh yang lain adalah Potret H.W. Daendels (1840), Berburu Singa (1840), Perburuan Rusa (1846), Perburuan Banteng (1855), Hutan Terbakar, dan Berburu Kerbau di Jawa, Antara Hidup dan Mati.

Lukisan Raden Saleh Termahal

Lukisan Perburuan Banteng yang juga disebut “Wild Bull Hunt” atau “La Chasse au Taureau Sauvage”, salah satu karya Raden Saleh yang sangat terkenal bertema perburuan yang memperlihatkan konflik antara manusia dan hewan liar.

Perburuan Banteng karya Raden Saleh, ini terjual hampir Rp 150 miliar di Prancis, mencatat rekor penjualan yang menghebohkan dunia seni.

Sedangkan dua karya langka maestro seni rupa Raden Saleh lainnya, berhasil mencetak rekor dalam lelang di Sotheby’s Singapore, 18 Januari 2025.

Lukisan pertama berjudul Lanskap Jawa: Pemandangan Merbabu dan Merapi (1862), mencatatkan harga luar biasa Rp24,4 miliar. Lukisan kedua, Lanskap Jawa: Pemandangan Talagabodas, sebuah lukisan cat minyak berukuran 35,8 x 61 cm, terjual Rp7,7 miliar.

Kedua lukisan ini, yang selama lebih dari satu abad tersimpan dalam koleksi pribadi, terjual dengan nilai fantastis mencapai Rp32,1 miliar.

You Might Also Like

Akar Kreasi Nuswantara, Greenhouse Berkonsep Smart Farming

Patrick Kluivert Janjikan Timnas Indonesia Tampil Menyerang

Bone Hacker, Pijat Kretek di Wonosobo dengan Sistem Bayar Seikhlasnya

Kue Keranjang Ny. Lauw, Ikon Tradisi Imlek Sejak Tahun 60an

Mulyani, Medunia Bersama Bundengan dan Tari Lengger

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Sanggar Satria Wonosobo, Wadah Bakat dan Pelestarian Seni
Next Article Legenda Bhre Pamotan dan Misteri Hilangnya Raja Majapahit
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

wamenpar
Wamenpar Tegaskan Pungli Tak Boleh Terjadi di Destinasi Wisata
Berita 22/05/2025
Sistem Penerimaan Murid Baru
Kemendikdasmen Resmi Terapkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Tahun Ajaran 2025/2026
Berita 22/05/2025
Mengapa 20 Mei Diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional?
Profil 21/05/2025
Pemkab Wonosobo Optimistis Kampung KB Candimulyo Maju ke Tingkat Nasional
Berita 21/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?