Salah satu sosok legendaris dalam dunia seni lukis Indonesia adalah Raden Saleh. Pelopor seni lukis modern ini, karya-karyanya bernilai tinggi tetap dikenal hingga sekarang.
Raden Saleh pernah menjadi pelukis Istana Belanda sehingga dijuluki sebagai Sang Pelukis Raja.
Raden Saleh Sjarif Boestaman, atau lebih dikenal sebagai Raden Saleh, lahir di Terboyo, dekat Semarang. Tahun kelahirannya masih menjadi perdebatan, tetapi berdasarkan sebuah lukisan potret diri, ia mencantumkan Mei 1811.
Pada 23 April 1880, Raden Saleh meninggal dunia akibat gangguan aliran darah di dekat jantung. Jasadnya dimakamkan di TPI Bondongan, Bogor, dengan batu nisan yang mencatat prestasinya sebagai pelukis kerajaan Belanda.
Awal Perjalanan Raden Saleh
Lahir dari keluarga keturunan Jawa-Arab, ayah Raden Saleh adalah Sayyid Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya. Sementara ibunya, Mas Adjeng Zarip Hoesen, yang berasal dari keluarga ningrat Jawa.
Raden Saleh merupakan cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari garis ibu.
Pada usia 10 tahun, ia diserahkan kepada pamannya, Kyai Adipati Soero Menggolo, Bupati Semarang yang juga anggota Javaansch Weldading Genootschap, sebuah komunitas filantropi yang sebagian besar anggotanya pejabat Belanda.
Dari lingkungan ini, minatnya terhadap seni lukis dan budaya Eropa semakin berkembang. Berdasarkan catatan sejarah, Raden Saleh mulai belajar melukis tahun 1819 dan bersekolah di Volks-School (sekolah rakyat).
Bakat melukis Raden Saleh mulai terlihat sejak ia bersekolah di Volks-School. Pada usia remaja, bakatnya menarik perhatian A.A.J. Payen, seorang pelukis asal Belgia. Saat itu ia mengajak Raden Saleh untuk menjadi muridnya.
Menimba Ilmu di Eropa
Pada tahun 1829, dengan dukungan Van der Capellen, Raden Saleh dikirim ke Belanda untuk memperdalam ilmu seni lukis. Selain itu, ia juga bertugas mengajarkan adat dan bahasa Jawa kepada Inspektur Keuangan Belanda, de Linge.
Setibanya di Belanda, ia mendalami bahasa Belanda, litografi, dan seni lukis dibimbing Cornelis Kruseman dan Andries Schelfhout. Keduanya adalah pelukis ternama mengasah bakat Raden Saleh melukis potret dan pemandangan.
Kesempatan belajar di luar negeri ini dimanfaatkan dengan baik Raden Saleh. Ia bahkan berhasil mengadakan pameran di Den Haag dan Amsterdam, yang membuatnya semakin dikenal di kalangan masyarakat Belanda.
Karena minatnya yang besar, ia tinggal lebih lama di Eropa guna mempelajari ilmu pasti, ukur tanah, dan teknik pesawat. Permohonannya disetujui oleh Raja Willem I dan pemerintah Hindia Belanda, meskipun beasiswanya dihentikan.
Baca juga: Lukisan Raden Saleh Laku Puluhan Miliar di Sotheby’s Singapura
Menjadi Pelukis Kerajaan
Pada tahun 1839, Raden Saleh berangkat ke Jerman dan tinggal selama lima tahun sebagai tamu kehormatan Kerajaan Jerman. Saat itu, Jerman belum mengenal gaya orientalisme, sehingga Raden Saleh menjadi pelopor di bidang ini.
Setelah kembali ke Belanda tahun 1844, ia telah menjadi pelukis besar yang diakui Raja Willem II. Sebagai bentuk penghargaan, Raden Saleh dianugerahi Bintang Eikenkoon dari Luxemburg dan diangkat menjadi pelukis istana.
Setelah menghabiskan bertahun-tahun di Eropa, Raden Saleh kembali ke Jawa pada tahun 1851. Ia mendapat tugas sebagai konservator koleksi benda seni.
Meskipun diakui sebagai pelukis besar, pemerintah kolonial tetap mencurigai Raden Saleh. Dia diduga terlibat dalam beberapa kerusuhan. Namun, tuduhan itu tidak pernah terbukti.
Penangkapan Pangeran Diponegoro
Ada banyak sekali karya Raden Saleh. Dalam karyanya, Raden Saleh banyak menggambarkan romantisme yang berkembang di Eropa pada awal abad ke-19 Masehi.
Namun, lukisannya juga mengandung paradoks, misalkan Raden Saleh menggambarkan keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan atau nilai religius sekaligus ketidakpastian takdir.
Salah satu karya terkenal Raden Saleh adalah lukisan Penangkapan Diponegoro yang selesai ia buat pada 1857. Lukisan itu dipersembahkan Raden Saleh kepada Raja Willem III dan baru dibawa pulang ke Indonesia pada 1978.
Raden Saleh melukiskan peristiwa ini dengan nuansa yang lebih tragis dan penuh perlawanan. Pangeran Diponegoro digambarkan dalam posisi tegang, dengan ekspresi menahan marah.
Beberapa lukisan Raden Saleh yang lain adalah Potret H.W. Daendels (1840), Berburu Singa (1840), Perburuan Rusa (1846), Perburuan Banteng (1855), Hutan Terbakar, dan Berburu Kerbau di Jawa, Antara Hidup dan Mati.
Lukisan Raden Saleh Termahal
Lukisan Perburuan Banteng yang juga disebut “Wild Bull Hunt” atau “La Chasse au Taureau Sauvage”, salah satu karya Raden Saleh yang sangat terkenal bertema perburuan yang memperlihatkan konflik antara manusia dan hewan liar.
Perburuan Banteng karya Raden Saleh, ini terjual hampir Rp 150 miliar di Prancis, mencatat rekor penjualan yang menghebohkan dunia seni.
Sedangkan dua karya langka maestro seni rupa Raden Saleh lainnya, berhasil mencetak rekor dalam lelang di Sotheby’s Singapore, 18 Januari 2025.
Lukisan pertama berjudul Lanskap Jawa: Pemandangan Merbabu dan Merapi (1862), mencatatkan harga luar biasa Rp24,4 miliar. Lukisan kedua, Lanskap Jawa: Pemandangan Talagabodas, sebuah lukisan cat minyak berukuran 35,8 x 61 cm, terjual Rp7,7 miliar.