Komunitas Aksara Literasi kembali menggelar acara Bincang Buku, yang kali ini menghadirkan dua penulis lokal, Annadzofah dan M. F. Munif pada Jumat (28/02/2025).
Acara yang berlangsung di Kedai Grapyak, Jl. Jawar, Kalibeber, Mojotengah, ini menjadi ajang diskusi sekaligus apresiasi terhadap dunia kepenulisan di Wonosobo.
Annadzofah dan M. F. Munif, berbagi kisah tentang proses kreatif mereka dalam menulis novel di acara ini.
Baca Juga: https://emmanus.com/basecamp-gunung-kembang-via-lengkong-ditutup-sementara/
Literasi dalam Diskusi: Perjalanan dan Harapan
Ketua Panitia, Nok Yayang, menjelaskan bahwa bincang buku ini merupakan bagian dari kegiatan rutin komunitas Aksara Literasi.
Namun, untuk sementara waktu, acara serupa akan dihentikan selama bulan Ramadan.
“Biasanya, Aksara Literasi mengadakan diskusi buku setiap dua minggu sekali setelah sesi silent reading. Tapi bulan ini, karena mau memasuki Ramadan, kegiatan rutin dihentikan sementara. Jadi, acara ini sekalian jadi penutup sebelum jeda selama sebulan,” ujarnya.
Selain itu, Nok Yayang juga menuturkan bahwa kehadiran dua penulis dalam acara ini berawal dari ide spontan.
“Mbak Annadzofah memang bagian dari Aksara Literasi, sedangkan Mas Munif, awalnya saya lihat bukunya di kedai ini. Ternyata beliau penulisnya, jadi langsung terpikir untuk berkolaborasi di acara ini,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan literasi seperti ini bisa terus berkembang.
“Harapannya sih nggak cuma berhenti di sini, tapi terus berlanjut. Bisa kenal lebih banyak penulis, atau bikin acara lain yang tetap menghidupkan dunia literasi,” katanya.

Baca Juga: https://emmanus.com/arkiv-vilmansa-dan-biota-laut-dari-trauma-ke-karya-seni/
Kisah dalam Buku: Cinta, Janji, dan Perjalanan Hidup
Annadzofah, penulis novel Anna Keyla, mengisahkan bahwa bukunya menceritakan seorang mahasiswi jurnalisme di Turki yang tidak percaya akan cinta hingga akhirnya bertemu dengan seorang pelukis.
“Awalnya, dia tidak percaya cinta, tapi ternyata takdir mempertemukan mereka,” tuturnya.
Dalam sesi diskusi, ia juga membagikan pengaruh besar dari novel-novel Habiburrahman El Shirazy terhadap karyanya.
“Saya banyak terinspirasi dari Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-Ayat Cinta,” ungkapnya.
Annadzofah berpesan bahwa cinta sejati akan menemukan jalannya di waktu yang tepat.
“Dalam hidup, kita akan mengalami jatuh dan bangun, tapi kita bisa menjadi siapa saja dan mencapai impian kita selama mau berjuang dan berdoa,” ujarnya.
Sementara itu, M. F. Munif, penulis buku Karsa, menuturkan bahwa karyanya menyoroti makna janji dalam kehidupan.
“Buku ini ingin menyampaikan bahwa janji kecil bisa berdampak besar di masa depan. Banyak orang lupa akan janji-janji kecil, padahal itu bisa menentukan arah hidup,” jelasnya.
Dalam menulis, Munif mengaku mendapat inspirasi dari pengalaman pribadi dan juga observasi terhadap orang lain.
“Saya nggak hanya menulis dari sudut pandang pribadi, tapi juga dari apa yang saya lihat di sekitar,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa menulis merupakan cara untuk mengabadikan momen.
“Menulis itu seperti menyimpan sejarah. Kalau kita tidak menulis, dua atau tiga tahun ke depan kita bisa lupa. Tapi kalau ada tulisan, kita bisa mengingatnya lagi secara rinci,” ujarnya.
Acara bincang buku ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Kedepannya, diharapkan semakin banyak penulis dan pembaca yang terinspirasi untuk menulis serta berkontribusi dalam dunia literasi Wonosobo.
Baca Juga: https://emmanus.com/dlh-wonosobo-gelar-ceremony-hari-peduli-sampah-nasional-2025/