By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Rahasia ‘Kekebalan’ Penari Tari Piring: Mistik atau Teknik?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Rahasia ‘Kekebalan’ Penari Tari Piring: Mistik atau Teknik?
Warisan Budaya

Rahasia ‘Kekebalan’ Penari Tari Piring: Mistik atau Teknik?

Achmad Aristyan
Last updated: 02/11/2024 01:49
Achmad Aristyan
Share
5 Min Read
tari piring
Tari Piring yang jadi salah satu kesenian khas dari Sumatera Barat. Tangkapan Layar YouTube Emmanus TV
SHARE

Para penari Tari Piring Minangkabau kerap dianggap memiliki kekebalan saat atraksi di atas pecahan kaca atau beling.

Ranah Minang tidak hanya kaya akan sumber daya alam dengan pemandangan alam yang memukau di daratan Sumatera bagian barat, namun juga memiliki beragam hasil karya seni yang sarat akan Cipta, Rasa, dan Karsa, yang mengalir dalam bentuk seni seperti tarian, musik, serta berbagai produk budaya lainnya. Salah satu karya seni yang terkenal hingga ke seluruh Nusantara adalah Tari Piring.

Di Sumatera Barat, Tari Piring memiliki beberapa varian, seperti Tari Piring Injak, dan Tari Piring Suluah. Varian ini menggunakan obor sebagai properti utama, memberikan kesan yang indah, lemah lembut, namun tetap lincah dan cekatan. Keindahan harmoni gerak tari ini dibangun dari beberapa jenis gerakan yang menjadi satu rangkaian, di antaranya adalah:

  1. Gerak Pasambahan: Gerakan ini dilakukan para penari pria di awal tarian sebagai bentuk syukur kepada Allah dan permohonan kepada para penonton untuk tidak mengganggu jalannya tarian.
  2. Gerak Ju Lalai: Gerakan lembut yang dibawakan oleh penari wanita, melambangkan suasana pagi yang sejuk.
  3. Gerak Mencangkul, Menyiang, Membuang Sampah, dan Menyemai: Berbagai gerakan ini terinspirasi dari aktivitas petani dalam mengolah sawah, mencerminkan rangkaian kegiatan pertanian yang menjadi sumber inspirasi Tari Piring.

Baca Juga: Huriah Adam: Seniman Tari Legendaris Padang Panjang

Menurut sejarahnya, Tari Piring sudah ada sejak abad ke-12, di masa ketika masyarakat Minangkabau masih memuja para dewa. Tarian ini awalnya merupakan simbol syukur atas hasil pertanian, terutama sawah. Dulu, hasil panen disajikan di atas “pinggan” atau piring, sebagai bentuk persembahan kepada dewa-dewa.

Selain menyajikan estetika gerakan, Tari Piring juga menyimpan unsur bela diri. Pada masa kolonial Belanda, tarian ini dijadikan alat untuk melatih keterampilan bela diri secara terselubung, sehingga Belanda melarangnya. Karena kolonial Belanda melarang segala bentuk kegiatan bela negara, masyarakat Minangkabau mengemas gerakan bela diri dalam bentuk tarian. Maka, gerakan silat diadaptasi dan dipadukan dalam Tari Piring sehingga tidak terlihat sebagai latihan bela diri.

Dahulu, Tari Piring hanya hanya dibawakan oleh kaum laki-laki. Di Minangkabau, perempuan memiliki peran khusus dan tidak diperkenankan tampil di depan umum. Namun, seiring waktu, perempuan pun mulai membawakan tari ini.

Sebagian besar tarian ini juga dilakukan di atas pecahan kaca atau beling. Dalam kepercayaan lokal, gerakan di atas kaca ini terkait dengan unsur mistis dan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki ilmu kebal secara spiritual. Gerakan ini dianggap membutuhkan pengendalian diri dan disiplin yang tinggi, serta mengajarkan untuk tidak bersikap takabur.

Para penari Tari Piring dari Minangkabau sering kali dianggap memiliki kekebalan ketika melakukan atraksi di atas pecahan kaca atau beling. Keyakinan ini tumbuh dari perpaduan unsur mistis, latihan khusus, dan teknik yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga penari diyakini bisa menghindari cedera saat menari di atas benda tajam.

Baca Juga: Malamang, Tradisi Membuat Lemang dari Minangkabau

Beberapa faktor yang menjadi dasar kepercayaan tentang “kekebalan” penari Tari Piring:

  1. Pelatihan Fisik dan Teknik Khusus

Para penari tradisional Minangkabau ini menjalani latihan fisik yang intensif dan menguasai teknik menginjak kaca tanpa menekan terlalu dalam atau memindahkan beban tubuh secara drastis. Ini membantu mereka menghindari cedera saat menginjak benda tajam.

  1. Penguasaan Diri dan Fokus Mental

Selama latihan, penari belajar mengendalikan diri dan menjaga fokus. Ketenangan pikiran serta teknik pengaturan napas membantu mereka lebih berhati-hati saat melakukan gerakan, sehingga risiko cedera bisa dikurangi.

  1. Elemen Mistis atau Spiritual

Dalam tradisi Minangkabau, unsur mistis juga dipercaya menjadi bagian dari Tarian ini, terutama pada gerakan menginjak kaca. Konon, para penari dibekali “ilmu kebal” atau kekuatan spiritual yang diyakini bisa melindungi mereka dari bahaya. Dalam beberapa tradisi, doa-doa atau ritual khusus dilakukan sebelum pertunjukan untuk meminta perlindungan.

  1. Penggunaan Mantra atau “Ilmu Kebal”  

Di masa lalu, sebagian masyarakat percaya bahwa penari yang melakukan atraksi berbahaya ini telah mendapatkan “ilmu kebal” dari sesepuh atau guru yang memberi perlindungan melalui mantra. Mantra ini dianggap mampu melindungi mereka dari cedera akibat pecahan kaca.

Dengan kombinasi unsur latihan, kontrol diri, dan keyakinan mistis, Tari Piring tidak hanya menjadi hiburan visual yang menakjubkan tetapi juga memperlihatkan daya tahan fisik serta tradisi spiritual yang mendalam. (Sumber: YouTube Emmanus TV)

Liputan terkait Tari Piring ini dapat disaksikan di Youtube: EmmanusTV:

You Might Also Like

Seni Rontek Pacitan, Dari Hiburan Budaya Hingga Alat Keamanan

Kampung Cireundeu Cimahi Hidup Satu Abad Tanpa Nasi

Lomba Berjepin ASN Pontianak, Lestarikan Budaya Melayu

Camilan Tradisional Ampo Tuban akan Berstatus Warisan Budaya

Mencicipi Minuman Penghangat Bir Pletok Khas Betawi

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Achmad Aristyan
Content Writer
Previous Article Taman Nasional Wasur di Papua Menyaksikan Kangguru Mini di Taman Nasional Wasur, Papua
Next Article Titik Nol Kilometer Merauk papua Titik Nol Kilometer Merauke, Monumen Penanda Indonesia
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?