Salah satu kesenian yang dikenal di Cirebon, Jawa Barat adalah tari Topeng Cirebon. Tarian ini menggunakan topeng sebagai propertinya. Topeng Cirebon sendiri terdiri dari lima pokok topeng yang disebut juga Topeng Panca Wanda.
Kelima topeng tersebut adalah Topeng Panji berwarna putih yang melambangkan kesucian bayi yang baru lahir. Topeng Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah. Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja.
Topeng Patih (Tumenggung), menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, serta Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah. Topeng tersebut menggambarkan perjalanan dan karakter manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Selain lima topeng, Ki Waryo (maestro Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) menyebutkan, pada masa silam di dalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan topeng Kencana Wungu yang masih disimpan hingga kinu.
Topeng tersebut mempresentasikan bahwa setiap manusia seperti mengenakan topeng. Misalkan jika ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.
Baca juga: Museum Topeng Cirebon, Unik dan Edukatif
Berpusat di Keraton
Dilansir dari laman cirebonkota.go.id, Topeng Cirebon semula berpusat di Keraton-keraton, kemudian tersebar di lingkungan rakyat. Diketahui, tari topeng sudah dikenal sejak zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, antara tahun 1300 sampai 1400 Masehi.
Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari dengan menggunakan topeng emas. Hayam Wuruk menarikan topeng ini di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan untuk penonton perempuan keluarga kerajaan.
Setelah jatuhnya Majapahit (1525), tarian ini dihidupkan Sultan-sultan Demak. Hal ini diceritakan dalam babad, Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu dihadapan Raja Majapahit, Brawijaya.
Tarian ini kemudian terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Ketika itu Demak memperluas kekuasaannya di seluruh daerah pesisir Jawa, hingga sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Topeng Majapahit ini hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat.
Baca juga: Wayang Kulit Cirebon, Media Diplomasi Dakwah Religi
Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang didasarkan pada sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Topeng ini menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal memecahkan diri-Nya.
Pemecahan tersebut dibuat dalam pasangan-pasangan kembar yang saling bertentangan. Misalkan seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama.
Tari Panji menyimbolkan terciptanya alam semesta beserta manusia. Tarian ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Jadi tidak mengherankan jika di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja untuk saudara-saudara perempuan saja.