Di tengah Jakarta yang bergerak cepat, ada cara lama untuk menjaga kebersamaan yang belum sepenuhnya hilang. Namanya Andilan Kebo, tradisi patungan masyarakat Betawi untuk membeli kerbau yang kemudian disembelih dan dibagikan kepada warga.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menghadiri Andilan Kebo yang digelar Forum Betawi Rempug di Cakung, pertengahan Maret 2026, menyebut Andilan sebagai bagian dari semangat gotong royong dan identitas budaya Betawi, terutama menjelang Lebaran.
Namun, yang menarik dari Andilan bukan semata kerbau yang menjadi pusat kegiatan. Di baliknya terdapat cara masyarakat mengatur kebutuhan bersama: berembuk, mengumpulkan uang sesuai kemampuan, membeli hewan secara kolektif, lalu membagi hasilnya kepada mereka yang ikut andil.
Dengan kata lain, Andilan memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi cara masyarakat mengelola kehidupan sehari-hari.
Ketika kebutuhan Lebaran dikerjakan bersama
Dalam praktiknya, Andilan berangkat dari kesepakatan keluarga atau kelompok warga. Mereka mengumpulkan dana berdasarkan kemampuan dan kesepakatan bersama, kemudian membeli kerbau sesuai dengan jumlah dana yang terkumpul.
Dalam beberapa praktik, pembelian dapat dilakukan jauh sebelum Lebaran dan kerbau dipelihara terlebih dahulu. Ada pula yang mengumpulkan uang terlebih dahulu dan membeli kerbau menjelang waktu penyembelihan.
Tradisi ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum Idulfitri. Daging kerbau kemudian menjadi bagian dari persiapan makanan Lebaran bagi keluarga yang ikut dalam patungan.
Di sinilah istilah andil menjadi penting. Setiap orang hadir dengan kemampuan yang berbeda, tetapi tetap memiliki ruang untuk berpartisipasi.
Rano Karno menggambarkan mekanisme itu ketika menghadiri Andilan Kebo di Cakung. Menurutnya, kontribusi yang lebih besar dapat menghasilkan bagian yang lebih besar, sementara kontribusi yang lebih kecil tetap membuat seseorang menjadi bagian dari kebersamaan tersebut.
Logikanya sederhana: bukan semua orang harus memberi dalam jumlah yang sama, melainkan semua orang diberi kesempatan untuk ikut.
Dari kampung agraris ke kota metropolitan
Andilan Kebo juga menyimpan jejak perubahan masyarakat Betawi.
Pilihan kerbau sebagai hewan yang dibeli secara kolektif berkaitan dengan kehidupan masyarakat Betawi pada masa ketika kegiatan pertanian dan peternakan masih menjadi bagian dari kehidupan di sekitar Batavia. Seiring urbanisasi, ruang-ruang agraris tersebut semakin menyusut dan kehidupan masyarakat bergeser ke perdagangan, jasa, serta pekerjaan perkotaan.
Karena itu, Andilan dapat dibaca sebagai salah satu jejak dari cara hidup lama yang beradaptasi dengan lingkungan baru. Kini, tradisi tersebut semakin jarang ditemukan di wilayah inti Jakarta dan lebih banyak bertahan di sejumlah kawasan pinggiran.
Dalam wawancara yang dilansir Tirto.id, M. Ichwan Ridwan atau Boim dari Pemuda Kaum Betawi menyebut praktik Andilan masih ditemukan antara lain di Cengkareng, Rawa Buaya, dan Kembangan, meski pelaksanaannya cenderung lebih sederhana.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu hilang sekaligus. Ia dapat mengecil, berubah bentuk, berpindah ruang, lalu muncul kembali ketika masyarakat menemukan alasan untuk menghidupkannya.
Gotong royong tanpa harus seragam
Salah satu kekuatan Andilan terletak pada prinsip kontribusinya.
Warga tidak harus memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk duduk dalam satu lingkaran kebersamaan. Besaran patungan dapat disesuaikan dengan kemampuan, sementara tujuan akhirnya tetap sama: memenuhi kebutuhan bersama menjelang Lebaran.
Dalam konteks Jakarta yang metropolitan, prinsip semacam ini terasa menarik. Kota dapat membuat hubungan antarwarga menjadi semakin cair dan individual, tetapi Andilan bekerja dengan logika sebaliknya: kebutuhan keluarga justru menjadi alasan untuk kembali berembuk.
Rano Karno melihat nilai tersebut ketika mengenang masa kecilnya di kawasan Kepu, Kemayoran. Ia mengatakan masih terkejut sekaligus terharu melihat praktik kebersamaan semacam itu bertahan di Jakarta. Tradisi ini juga memiliki dimensi sosial.
Menurut Fauzi Bowo, Ketua Dewan Adat Betawi, Andilan dapat menjadi ruang bagi warga yang mengalami kesulitan ekonomi untuk tetap merasakan suasana Lebaran. Ia menyebut nilai tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat Betawi.
Dengan demikian, Andilan bukan hanya soal memperoleh daging. Ia juga tentang memastikan bahwa seseorang tidak sepenuhnya berjalan sendiri ketika menghadapi kebutuhan besar.
Kerbau, toleransi dan perjumpaan budaya
Sejumlah penuturan tentang Andilan juga mengaitkan pemilihan kerbau dengan pengalaman hidup masyarakat Betawi yang berdekatan dengan komunitas dan tradisi berbeda.
Boim menuturkan bahwa dalam sejarah kehidupan masyarakat Betawi terdapat interaksi dengan masyarakat yang memiliki pantangan terhadap daging sapi. Dalam konteks tersebut, kerbau menjadi pilihan yang memungkinkan makanan dibagikan dalam ruang sosial yang lebih luas.
Keterangan tersebut sebaiknya dibaca sebagai penuturan mengenai makna yang berkembang dalam masyarakat, bukan sebagai satu-satunya penjelasan historis mengenai asal-usul Andilan.
Yang lebih jelas terlihat adalah watak sosialnya: tradisi ini tumbuh di tengah masyarakat yang beragam dan membutuhkan kesepakatan agar kehidupan bersama tetap berjalan.
Di Jakarta, perjumpaan budaya bukan sesuatu yang baru. Kota ini sejak lama menjadi ruang bertemunya berbagai kelompok, agama, bahasa, dan kebiasaan. Andilan memperlihatkan salah satu cara masyarakat Betawi merespons keberagaman tersebut melalui praktik sehari-hari.
Ketika tradisi bertemu teknologi
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana tradisi seperti Andilan dapat bertahan ketika cara hidup masyarakat telah berubah.
Jawabannya mungkin bukan dengan mempertahankan semua bentuk lama secara persis, melainkan menjaga nilai yang menjadi intinya.
Andilan memiliki unsur patungan, pencatatan peserta, pengumpulan dana, pembelian bersama, hingga distribusi hasil. Secara prinsip, mekanisme itu dekat dengan sesuatu yang sekarang sangat dikenal masyarakat: arisan, koperasi, penggalangan dana, bahkan pengelolaan komunitas berbasis digital.
Karena itu, gagasan tentang Andilan yang memanfaatkan teknologi sebenarnya menarik untuk dibicarakan. Bentuknya bisa berubah, tetapi prinsip andil, musyawarah, gotong royong, dan berbagi tetap dapat dipertahankan.
Teknologi dalam hal ini bukan harus menjadi lawan tradisi. Ia dapat menjadi alat baru untuk membantu tradisi menemukan ruang hidupnya.
Justru di sinilah dinamika budaya bekerja: sesuatu yang diwariskan tidak selalu bertahan dengan bentuk yang sama, tetapi dapat terus menemukan cara baru untuk menjadi relevan.
Dari Cakung menuju Jakarta 500 tahun
Upaya menghidupkan kembali Andilan juga berlangsung dalam konteks perhatian yang lebih besar terhadap kebudayaan Betawi menjelang 500 tahun Jakarta pada 2027.
Sehari sebelum Rano menghadiri Andilan di Cakung, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri kegiatan Andilan Kebo yang digelar Majelis Kaum Betawi di Puskeswan Pondok Rangon, Cipayung. Dalam kegiatan tersebut, sembilan ekor kerbau disumbangkan dan disembelih untuk mendukung pelaksanaan Andilan.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya berlangsung dalam ruang keluarga, tetapi juga mulai mendapat ruang dalam agenda kebudayaan kota.
Namun, keberlanjutan tradisi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh acara yang digelar pemerintah atau komunitas. Tradisi akan hidup ketika masyarakat masih menemukan makna di dalamnya.
Andilan tidak perlu menjadi pertunjukan nostalgia tentang Betawi masa lalu. Ia justru menarik ketika dibaca sebagai pengetahuan sosial yang masih bisa digunakan hari ini.
Tradisi yang tidak selesai di masa lalu
Jakarta boleh berubah menjadi kota global. Teknologi boleh mengubah cara orang berkomunikasi, berbelanja, bekerja, dan berkumpul. Tetapi kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas tidak ikut hilang.
Andilan Kebo mengingatkan bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari patungan kecil, pembicaraan antaranggota keluarga, kesediaan menunggu, lalu berbagi ketika waktunya tiba.
Di situlah tradisi menemukan kekuatannya. Bukan karena ia tidak berubah, melainkan karena nilai yang dikandungnya masih dapat menemukan tempat di zaman yang berubah.
Di tengah Jakarta yang individual dan metropolitan, Andilan Kebo menawarkan sebuah ingatan sederhana: hidup bersama berarti mengetahui bahwa kebutuhan seseorang juga dapat menjadi urusan bersama.
Dan mungkin, itulah makna andil yang paling panjang umurnya.
CATATAN REDAKSI
Tulisan ini memandang Andilan Kebo sebagai tradisi kebersamaan masyarakat Betawi yang mencakup patungan, musyawarah, pembagian hasil, dan kepedulian sosial menjelang Lebaran. Sejumlah keterangan mengenai keberadaan, praktik, serta makna Andilan bersumber dari penuturan tokoh dan pelaku budaya, sehingga perlu dibaca dalam konteks tradisi yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai satu-satunya versi mengenai sejarah atau asal-usulnya.
Khusus mengenai pemilihan kerbau dan kaitannya dengan perjumpaan masyarakat Betawi dengan komunitas yang memiliki pantangan terhadap daging sapi, tulisan ini menyajikannya sebagai penuturan budaya yang disampaikan narasumber, bukan sebagai kesimpulan tunggal tentang asal-usul Andilan. EMMANUS membedakan antara fakta yang dapat diverifikasi, penuturan masyarakat, dan interpretasi budaya agar tradisi dapat dipahami dalam konteks sejarah dan kehidupan sosialnya tanpa menyederhanakan keragaman pengalaman masyarakat Betawi.






