Budaya

Kuliner Wonosobo Bucu Pendem, Ayam Panggang Utuh dalam Nasi

Kuliner Wonosobo dikenal beragam dan memiliki keunikannya masing-masing. Salah kuliner tradisional unik yaitu Bucu Pendem yang berasal dari Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo. Tradisi merayakan sebuah acara dengan makan nasi tumpeng mungkin sudah biasa. Namun berbeda dengan Desa Erorejo yang menyajikan kuliner Bucu Pendem. Kata Bucu sendiri memiliki makna nasi yang dibentuk kerucut atau lebih […]

Oleh Anisa Kurniawati

kuliner wonosobo
Bucu Pendem yang sudah dibagikan, berisi ayam panggang dan nasi gurih. Foto: Anisa
Diterbitkan

Kuliner Wonosobo dikenal beragam dan memiliki keunikannya masing-masing. Salah kuliner tradisional unik yaitu Bucu Pendem yang berasal dari Desa Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo.

Tradisi merayakan sebuah acara  dengan makan nasi tumpeng mungkin sudah biasa. Namun berbeda dengan Desa Erorejo yang menyajikan kuliner Bucu Pendem.

Kata Bucu sendiri memiliki makna nasi yang dibentuk kerucut atau lebih dikenal dengan istilah tumpeng. Sedangkan pendem berasal dari bahasa Jawa yang artinya terpendam. Secara harfiah, bucu pendem adalah sajian nasi yang di dalamnya terdapat ayam panggang utuh.

Makna Filosofi Bucu Pendem

Bucu Pendem biasanya disajikan ketika terdapat acara-acara hajatan, selamatan, atau acara adat lainnya. Secara keseluruhan hidangan ini memiliki makna filosofi yang mendalam. Misalkan mulai dari ayam panggang yang digunakan harus jenis ayam jengger (Ayam jantan yang belum menjadi jago).

Menurut Tri, salah satu tokoh masyarakat Desa Erorejo, menjelaskan bahwa pemilihan ayam jengger ini sebagai simbol yang melambangkan keberanian dan semangat. Uniknya ketika dimasak bagian paruhnya diikat dengan serai.

Artinya kita sebagai manusia harus selalu menjaga lisan agar selamat dunia dan akhirat. Kemudian bagian kaki ayam juga ditekuk sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Di dalam nasi juga terdapat serundeng yang terbuat dari kelapa.

Pohon kelapa sendiri dari akar, buah, pohon, sampai daunnya semua berguna. Sehingga ketika manusia hidup hendaknya dapat bermanfaat bagi orang lain. Keunikan lainnya yaitu ayam panggang itu dipendam dalam nasi. Sehingga hanya menampakkan nasinya saja.

“Dipendem itu termasuk untuk rendah diri. Jadi dilihat dari luar hanya bucu, tapi begitu kita buka isinya ternyata mewah juga, ada dagingnya. Mewah dalam bentuk daging, dalam bentuk rasa, dalam bentuk filosofi” jelas Tri.

kuliner wonosobo
Proses pembuatan bucu pendem. Foto: Kuswanto

Dalam acara selamatan atau hajatan, setelah doa bersama selesai kemudian nasi bucu yang masih berbentuk ditumpahkan ke atas daun pisang. Lalu, nasi tersebut dibagi rata kepada semua yang hadir. Sehingga semuanya mendapatkan bagian yang sama.

Menurut Tri, tradisi Bucu Pendem perlahan mulai menghilang. Hal ini karena disebabkan perkembangan zaman dan perubahan generasi. Tri berharap supaya tradisi seperti ini terus dilestarikan karena merupakan identitas bangsa.

“Pelestarian itu memang biasanya hilang seiring perkembangan zaman dan perubahan generasi. Maka dari itu, di sini untuk acara-acara tentu masih menggunakan tradisi ini. Selain itu, kita juga melestarikan ke generasi selanjutnya supaya tidak hilang.” Tri melanjutkan.

“Maka dari itu, dengan adanya tradisi baik yang terus dilestarikan, kita berharap nanti generasi muda juga akan menemukan nilai-nilai baik dari tradisi yang sudah ada.” pungkas Tri.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati