Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Riau, Kisah Putra Mahkota Lokan yang Dikutuk

Di Kepulauan Riau, terdapat salah satu cerita rakyat yang terkenal Putra Mahkota Lokan. Cerita ini mengisahkan seorang putra mahkota yang dibuang. Hal ini dikarenakan wujudnya yang menyerupai lokan (kerang besar) karena hasil kutukan Datuk Bendahara. Suatu masa ada sebuah kerajaan cukup besar yaitu Kerajaan Bintan yang diperintah oleh Raja Jauhari. Sang Raja memiliki permaisuri bernama […]

Oleh Anisa Kurniawati

Cerita Rakyat Riau, Kisah Putra Mahkota Lokan yang Dikutuk
Ilustrasi Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Rimbang Baling di Provinsi Riau. Foto: GoogleMaps/Zuki Rama
Diterbitkan

Di Kepulauan Riau, terdapat salah satu cerita rakyat yang terkenal Putra Mahkota Lokan. Cerita ini mengisahkan seorang putra mahkota yang dibuang. Hal ini dikarenakan wujudnya yang menyerupai lokan (kerang besar) karena hasil kutukan Datuk Bendahara. 

Suatu masa ada sebuah kerajaan cukup besar yaitu Kerajaan Bintan yang diperintah oleh Raja Jauhari. Sang Raja memiliki permaisuri bernama Putri Bulan Purnama yang dikenal dengan kecantikannya. Namun, mereka belum juga  mendapatkan seorang keturunan.

Pada suatu pagi, Raja Jauhari mengungkapkan kegundahannya kepada Datuk Bendahara. Sebenarnya, Datuk Bendahara ini mempunyai dendam terhadap keponakannya yang menjadi raja itu. Tiba-tiba saja terdengar keributan dari pemandian sang Permaisuri. 

Mereka menemukan Putri Bulan Purnama terjatuh. Setelah diperiksa, tabib yang bernama Mak Cik Nor mengumumkan bahwa kerajaan akan segera mempunyai seorang putra mahkota. Setelah 9 bulan mengandung, tibalah saatnya Putri Bulan Purnama melahirkan. 

Selang beberapa saat, Mak Cik Siah dan dan Mak Cik Nor sangat kaget ketika melihat yang dilahirkan permaisuri bukan seorang bayi manusia, melainkan seekor lokan. Raja Jauhari yang mengetahui hal tersebut berteriak tidak terima. 

Datuk Bendahara yang diam-diam senang menyarankan untuk membunuh bayi itu. Namun, rencana pembunuhan berubah menjadi pembuangan sebab Putri Bulan Purnama tidak ingin berpisah dengan bayinya. Maka dengan sedih,  permaisuri meninggalkan istana. 

Dibuang di Hutan Belantara

Sesampainya di hutan belantara, Putri Bulan Purnama melihat sebuah gubuk. Dia mendekati gubuk itu dihuni seorang nenek yang tinggal sendiri.  Sang nenek kemudian mengajak untuk tinggal bersama Sejak saat itu, mereka bertiga hidup bersama di gubuk tengah hutan yang sunyi.

Suatu malam terdapat dua bayangan di pinggir perigi kecil tak jauh dari belakang gubuk. Ternyata itu adalah Lokan dan seorang kakek-kakek. Kemudian, kakek tersebut berkata bahwa saat purnama empat belas, setelah Lokan berusia delapan belas tahun, kutukan jin jahat pengikut Datuk Bendahara akan segera hilang.

Disisi lain Putri Bulan Purnama dan Nenek sedang bercerita di gubuk. Tiba-tiba mereka  mendengar suara berderak-derak dari arah perigi di samping gubuk. Mereka keluar dan menemukan seorang pemuda gagah mengenakan pakaian indah kilau keemasan, yang ternyata adalah lokan. 

Setelah tiga bulan lebih Lokan berubah wujud menjadi manusia, dia dan ibunya memutuskan kembali ke Negeri Bintan dengan membawa sang Nenek. Di suatu malam saat menginap di pondok warga mereka mendengar pembicaraan tentang liciknya Datuk Bendahara.

Pembalasan Putra Raja

Ternyata selama ini Datuk Bendahara menyebar fitnah bahwa Raja Jauhari menumbalkan istri dan anaknya kepada iblis. Raja Jauhari dikurung dalam sebuah kerangkeng kayu besi yang dibangun di atas tiang-tiang di tengah telaga beracun. 

Setelah mengatur strategi Putra Lokan dan Putri Bulan Purnama mengendap-endang menuju Istana. Putra Lokan yang sudah dibekali ilmu dan berlatih menghabisi lawannya. Dia kemudian menemui Datuk Bendahara yang dapat ditangkap dengan mudah.

Setelah itu, Raja Jauhari dijemput dari pondok dan dibawa ke istana. Putra Mahkota Lokan kemudian dinobatkan menjadi raja. Mereka bertiga kemudian hidup bahagia. (Dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat11 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati