Di Kepulauan Riau, terdapat salah satu cerita rakyat yang terkenal Putra Mahkota Lokan. Cerita ini mengisahkan seorang putra mahkota yang dibuang. Hal ini dikarenakan wujudnya yang menyerupai lokan (kerang besar) karena hasil kutukan Datuk Bendahara.
Suatu masa ada sebuah kerajaan cukup besar yaitu Kerajaan Bintan yang diperintah oleh Raja Jauhari. Sang Raja memiliki permaisuri bernama Putri Bulan Purnama yang dikenal dengan kecantikannya. Namun, mereka belum juga mendapatkan seorang keturunan.
Pada suatu pagi, Raja Jauhari mengungkapkan kegundahannya kepada Datuk Bendahara. Sebenarnya, Datuk Bendahara ini mempunyai dendam terhadap keponakannya yang menjadi raja itu. Tiba-tiba saja terdengar keributan dari pemandian sang Permaisuri.
Mereka menemukan Putri Bulan Purnama terjatuh. Setelah diperiksa, tabib yang bernama Mak Cik Nor mengumumkan bahwa kerajaan akan segera mempunyai seorang putra mahkota. Setelah 9 bulan mengandung, tibalah saatnya Putri Bulan Purnama melahirkan.
Selang beberapa saat, Mak Cik Siah dan dan Mak Cik Nor sangat kaget ketika melihat yang dilahirkan permaisuri bukan seorang bayi manusia, melainkan seekor lokan. Raja Jauhari yang mengetahui hal tersebut berteriak tidak terima.
Datuk Bendahara yang diam-diam senang menyarankan untuk membunuh bayi itu. Namun, rencana pembunuhan berubah menjadi pembuangan sebab Putri Bulan Purnama tidak ingin berpisah dengan bayinya. Maka dengan sedih, permaisuri meninggalkan istana.
Dibuang di Hutan Belantara
Sesampainya di hutan belantara, Putri Bulan Purnama melihat sebuah gubuk. Dia mendekati gubuk itu dihuni seorang nenek yang tinggal sendiri. Sang nenek kemudian mengajak untuk tinggal bersama Sejak saat itu, mereka bertiga hidup bersama di gubuk tengah hutan yang sunyi.
Suatu malam terdapat dua bayangan di pinggir perigi kecil tak jauh dari belakang gubuk. Ternyata itu adalah Lokan dan seorang kakek-kakek. Kemudian, kakek tersebut berkata bahwa saat purnama empat belas, setelah Lokan berusia delapan belas tahun, kutukan jin jahat pengikut Datuk Bendahara akan segera hilang.
Disisi lain Putri Bulan Purnama dan Nenek sedang bercerita di gubuk. Tiba-tiba mereka mendengar suara berderak-derak dari arah perigi di samping gubuk. Mereka keluar dan menemukan seorang pemuda gagah mengenakan pakaian indah kilau keemasan, yang ternyata adalah lokan.
Setelah tiga bulan lebih Lokan berubah wujud menjadi manusia, dia dan ibunya memutuskan kembali ke Negeri Bintan dengan membawa sang Nenek. Di suatu malam saat menginap di pondok warga mereka mendengar pembicaraan tentang liciknya Datuk Bendahara.
Pembalasan Putra Raja
Ternyata selama ini Datuk Bendahara menyebar fitnah bahwa Raja Jauhari menumbalkan istri dan anaknya kepada iblis. Raja Jauhari dikurung dalam sebuah kerangkeng kayu besi yang dibangun di atas tiang-tiang di tengah telaga beracun.
Setelah mengatur strategi Putra Lokan dan Putri Bulan Purnama mengendap-endang menuju Istana. Putra Lokan yang sudah dibekali ilmu dan berlatih menghabisi lawannya. Dia kemudian menemui Datuk Bendahara yang dapat ditangkap dengan mudah.
Setelah itu, Raja Jauhari dijemput dari pondok dan dibawa ke istana. Putra Mahkota Lokan kemudian dinobatkan menjadi raja. Mereka bertiga kemudian hidup bahagia. (Dari berbagai sumber)