By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Cerita Rakyat Rihatayya, Kisah Ayah dan Anak yang Menjadi Batu 
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Cerita Rakyat > Cerita Rakyat Rihatayya, Kisah Ayah dan Anak yang Menjadi Batu 
Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Rihatayya, Kisah Ayah dan Anak yang Menjadi Batu 

Anisa Kurniawati
Last updated: 04/01/2025 06:55
Anisa Kurniawati
Share
Ilustrasi batu rihatayya. Foto: pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id
SHARE

Rihatayya dalam Bahasa daerah Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan artinya adalah dua buah gua. Kedua gua ini terletak di pinggir pantai Dusun Bansiang.

Masing-masing menghadap ke Barat dan Timur yang melambangkan perempuan dan laki-laki. Rihatayya adalah kisah yang mengandung keanehan dan keganjilan. 

Dirangkum dari pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id, dahulu kala di bagian muara Sungai Bansiang ada sebuah dusun bernama Kuwanraya.

Di dusun itu ada seorang anak tiri bernama Isah. Usianya sekitar 14 tahun yang hidup bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Pekerjaan sang ayah adalah menjala ikan di laut.

Pada suatu ketika, ayah Isah pergi melaut. Sementara, Ibu tiri Isah sibuk dengan urusannya sendiri. Dia membiarkan Isah kelaparan dengan hanya memberinya endapan air nasi dari periuk. 

Pada saat Tengah hari suaminya kembali di rumah. Sang suami tidak mengetahui perlakuan Ibu tirinya. Dia kemudian memasak hasil tangkapan untuk dimakan bersama-sama dengan suaminya. Sementara Isah masih kelaparan. 

Sang ayah melihat hal itu dengan curiga. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ia melihat suasana malam harinya baik-baik saja dan mereka makan bersama-sama dengan gembira. 

Kecurigaan Sang Ayah

Suatu hari untuk mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya, sang ayah berpura-pura pergi melaut. Tanpa sepengetahuan istrinya dia bukan pergi melaut, melainkan naik ke loteng untuk mengintai apa yang terjadi di rumah. 

Dari situlah dia mengetahui semua yang terjadi. Dia melihat bagaimana kekejaman istrinya terhadap anaknya. Perlahan suami keluar dari persembunyiannya dan pura-pura pulang ke rumah. Meski begitu, dia tetap berlaku seperti biasa.

Keesokan harinya, sang suami pergi ke laut menjala ikan. Namun kali ini ia mengajak anaknya, Isah bersama-sama pergi melaut. Ia meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Tak lama kemudian sampailah mereka ke tempat yang di tuju. 

Mereka beristirahat di atas batu karang di pinggir laut. Kemudian sang ayah untuk turun ke laut menjala ikan. Begitu asyiknya sang ayah menjala ikan, ia terlupa bahwa anaknya di tinggalkan sendirian di atas batu karang. 

Baca juga: Legenda Putri Lumimuut, Kisah Asal-usul Etnis Minahasa

Batu Sakti

Sementara itu, Isah kelaparan dan kehausan. Dia tidak bertahan lagi dan mengulurkan tangan kepada batu lalu berkata: “hai batu sakti tolong aku yang sengsara karena ibu tiri, aku ingin bersamamu. Bukalah mulutmu supaya aku bisa masuk”. 

Batu sakti itu mendengar rintihan Isah dan terbuka. Isah kemudian masuk dan batu itu tertutup kembali. Sang ayah baru teringat akan anaknya yang sedang lapar dan ditinggal sendirian. Dengan cepatnya dia menemui anaknya. 

Namun malang nasibnya dia tidak menemukan anaknya. Kemudian sang Ayah melihat air berjatuhan dari sela-sela batu. Ayah mendekat dan melihat segumpal rambut.

Dengan tidak menyadari diri, tiba-tiba ia melompat memegang rambut yang ternyata milik anaknya. Sang Ayah sangat sedih menerima kenyataan itu.

Ia pun beranjang akan pulang. Namun tiba-tiba turun hujan. Terbayang pada air mata Rihatayya, Ia kemudian berkata: “hai batu sakti, perkenalkanlah aku masuk ke dalammu, aku rela bersamamu untuk berdampingan dengan anakku. 

Matanya tertutup dan di telan batu sakti. Batu ini kemudian dinamakan Rihata Bura`nea dan di sampingnya adalah anaknya, yaitu rihata Bahinea.

You Might Also Like

Batu Sakti Plintheng Semar Ikon Kondang Wonogiri

Kisah Si Pahit Lidah, Legenda yang Mendunia

Legenda Sanak Pogalan, Kisah Terciptanya Air Terjun Sedudo

Legenda Rawa Baya, Perjanjian Abadi Manusia dan Buaya

Sre Saring dan Kisah Anaka yang Ditelan Tempayan Ajaib

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Libur Naturu, 5 Destinasi Wisata di Batang Dipadati Pengunjung  
Next Article Sensasi Terowongan Alami di Danau Napabale Sulawesi Tenggara
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?