Dinamika

Dari Kejar-kejaran hingga Kerja Sama, Pelajaran dari Bentengan

Dalam permainan bentengan, anak belajar menyusun strategi, mempercayai teman, dan menerima kekalahan. Namun, kesempatan memainkan permainan bersama juga bergantung pada ruang yang tersedia di lingkungan mereka.

Oleh Narendra

Dari Kejar-kejaran hingga Kerja Sama, Pelajaran dari Bentengan
Bentengan memberi anak kesempatan belajar menyusun strategi, mempercayai teman, dan bekerja sama melalui permainan bersama.
Diterbitkan

Ada permainan yang tidak membutuhkan layar, perlengkapan mahal, atau tempat khusus. Cukup beberapa anak, dua kelompok, dan benda yang disepakati sebagai benteng, permainan bisa dimulai. Bentengan tumbuh dari kesederhanaan semacam itu, tetapi keseruannya tidak hanya terletak pada kejar-kejaran. Anak harus membaca gerak lawan, menentukan kapan menyerang, dan memutuskan apakah ia perlu menyelamatkan teman atau menjaga wilayahnya sendiri.

Aturan bentengan memiliki variasi di berbagai lingkungan. Dalam bentuk yang umum dikenal, setiap kelompok mempertahankan bentengnya sambil berusaha menyentuh benteng lawan, sementara pemain yang tersentuh dapat menjadi tawanan atau harus menjalani ketentuan tertentu sesuai kesepakatan. Perbedaan aturan bukan sesuatu yang perlu diseragamkan; justru dari pembicaraan tentang aturan itulah anak mulai berhadapan dengan persoalan sederhana tentang keadilan, kepercayaan, dan hidup bersama.

Strategi yang Tidak Bisa Dikerjakan Sendiri

Dalam bentengan, anak yang paling cepat berlari belum tentu membawa kelompoknya menuju kemenangan. Ia bisa saja menerobos terlalu jauh dan tertangkap lawan, sementara teman-temannya belum siap membantu. Keberhasilan lebih sering bergantung pada kemampuan membaca situasi, membagi peran, dan memahami kapan sebuah kesempatan layak diambil.

Di sinilah kerja sama mendapat bentuk yang nyata. Seorang pemain dapat memancing lawan keluar dari wilayahnya, sementara teman lain mencari jalan menuju benteng yang dijaga. Strategi semacam itu tidak selalu dibicarakan secara resmi; terkadang anak hanya saling memberi isyarat, mengubah arah, lalu belajar dari keputusan yang ternyata keliru.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa solidaritas bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Ada anak yang berani mengambil risiko, ada yang lebih cermat mengamati, dan ada yang memilih bertahan untuk menjaga kelompoknya. Perbedaan kemampuan dapat menjadi kekuatan selama setiap pemain diberi ruang untuk berkontribusi dan tidak terus-menerus dianggap sebagai beban.

Permainan ini tentu tidak otomatis membuat setiap anak menjadi kompak. Pertengkaran, tuduhan bermain curang, atau kekecewaan karena kalah tetap bisa terjadi. Justru ketika hal-hal itu muncul, anak mendapat kesempatan belajar menjelaskan pendapat, mendengarkan orang lain, dan kembali bermain setelah persoalan diselesaikan.

Belajar Adil Saat Menang dan Kalah

Bentengan tidak hanya menguji kelincahan, tetapi juga cara anak menghadapi hasil yang tidak sesuai harapan. Kelompok yang kalah mungkin merasa strategi mereka kurang berhasil, sedangkan kelompok pemenang tergoda mengejek lawannya. Dalam keadaan seperti itu, sikap menghormati teman menjadi sama pentingnya dengan kemampuan memenangkan permainan.

Aturan yang disepakati bersama membantu anak memahami batas. Jika seseorang dinyatakan tertangkap, misalnya, keputusan itu perlu mengikuti aturan yang berlaku, bukan semata-mata ditentukan oleh pemain yang paling keras bersuara. Ketika terjadi perbedaan pendapat, anak dapat belajar bahwa permainan yang menyenangkan membutuhkan kesepakatan yang dipahami semua pihak.

Orang dewasa tidak harus mengambil alih setiap perselisihan. Selama situasinya aman dan tidak mengarah pada kekerasan atau penghinaan, anak bisa diberi kesempatan menyelesaikan persoalan sederhana dengan pendampingan seperlunya. Jika ada pemain yang terus dikucilkan atau dijadikan sasaran ejekan, barulah orang dewasa perlu turun tangan untuk memastikan permainan tetap aman bagi semua.

Pelajaran semacam ini dekat dengan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Menghargai teman bukan hanya bersikap baik ketika keadaan menyenangkan, melainkan juga mampu menahan diri saat kecewa dan tidak merendahkan orang lain ketika berada di pihak yang menang. Bentengan menyediakan salah satu ruang untuk mempraktikkannya, meskipun nilai tersebut tetap perlu dikuatkan melalui contoh dan kebiasaan di luar permainan.

Ruang Bermain yang Terus Berubah

Kesempatan bermain bentengan bergantung pada tersedianya ruang yang cukup aman untuk berlari dan bergerak. Dahulu, sebagian anak memanfaatkan halaman, lapangan, atau jalan lingkungan yang relatif lengang. Kini, pengalaman anak berbeda-beda: ada yang masih memiliki akses ke lapangan, ada yang bermain di fasilitas perumahan, dan ada pula yang tinggal di lingkungan padat dengan lalu lintas yang menyulitkan permainan semacam ini.

Perubahan tersebut tidak berarti bentengan telah menghilang atau anak-anak sekarang tidak lagi menyukai permainan tradisional. Kegiatan bermain dipengaruhi banyak hal, mulai dari lokasi tempat tinggal, jadwal sekolah, kebijakan pengelola lingkungan, hingga kekhawatiran keluarga terhadap keselamatan. Menyalahkan telepon genggam saja akan menyederhanakan persoalan yang sebenarnya berkaitan pula dengan ruang publik dan kesempatan berkumpul.

Bagi keluarga yang tidak memiliki halaman, mencari tempat bermain yang aman bisa menjadi urusan tersendiri. Lapangan mungkin terlalu jauh, sementara ruang terbuka di sekitar rumah digunakan untuk parkir atau keperluan lain. Dalam keadaan seperti ini, anak tidak selalu mempunyai pilihan untuk sekadar mengajak teman bermain di luar rumah.

Perubahan ruang bermain menjadi persoalan bersama ketika kebutuhan anak tidak pernah masuk dalam pembicaraan lingkungan. Warga dapat mempertimbangkan waktu penggunaan lapangan, area yang aman untuk berlari, atau kegiatan bermain bersama di tempat yang sesuai. Tidak setiap lingkungan harus membangun fasilitas baru; terkadang yang diperlukan adalah kesepakatan penggunaan ruang yang sudah tersedia dan perhatian terhadap keselamatan.

Mewariskan Permainan, Merawat Kebersamaan

Mewariskan bentengan tidak cukup dengan meminta anak mengenal namanya atau memperagakan aturan permainan dalam sebuah acara. Anak membutuhkan kesempatan untuk benar-benar bermain, menemukan strategi sendiri, berdebat tentang aturan, lalu belajar memperbaiki hubungan setelah terjadi perselisihan. Pengalaman itulah yang membuat permainan menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar pertunjukan tentang masa lalu.

Peran orang dewasa dapat dimulai dari hal sederhana: mengenalkan permainan, membantu anak menemukan tempat yang aman, atau ikut menyepakati aturan ketika beberapa kelompok menggunakan ruang yang sama. Warga juga dapat mengadakan permainan bersama tanpa mengharuskan setiap anak sudah mahir. Anak yang baru belajar perlu mendapat kesempatan bergabung, bukan langsung disisihkan karena dianggap memperlambat kelompok.

Bentengan memang bukan satu-satunya cara anak belajar solidaritas. Olahraga, permainan lain, kegiatan seni, dan pekerjaan bersama juga dapat memberi pengalaman serupa. Namun, permainan ini memperlihatkan dengan jelas bahwa kemenangan kelompok tidak hanya bergantung pada satu pemain, melainkan pada hubungan antara orang-orang yang berusaha mencapai tujuan bersama.

Pada akhirnya, keberlanjutan bentengan bukan semata-mata soal apakah permainan itu masih dikenal oleh generasi berikutnya. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah apakah anak masih memiliki waktu dan ruang untuk bermain bersama, mengenal teman di luar lingkaran terdekatnya, serta mengalami sendiri arti bekerja sama. Ketika lingkungan menyediakan kesempatan itu, permainan sederhana dapat menjadi bagian dari pewarisan nilai yang tidak berhenti pada cerita orang dewasa tentang masa kecil mereka.

CATATAN REDAKSI

Artikel ini merupakan esai budaya untuk rubrik DINAMIKA EMMANUS yang membahas permainan tradisional bentengan sebagai ruang interaksi sosial anak. Fokus tulisan terletak pada kerja sama, strategi, penyelesaian perselisihan, sikap terhadap kemenangan dan kekalahan, serta perubahan kesempatan bermain di lingkungan tempat tinggal.

Aturan bentengan memiliki variasi menurut kelompok dan daerah. Penjelasan dalam artikel menggambarkan bentuk permainan yang umum dikenal dan tidak dimaksudkan sebagai aturan baku untuk seluruh Nusantara.

Gambaran mengenai perubahan ruang bermain merupakan pembahasan umum, bukan laporan hasil observasi atau wawancara di lokasi tertentu. Artikel tidak menyatakan bahwa bentengan telah hilang, bahwa semua anak masa kini kehilangan ruang bermain, atau bahwa generasi terdahulu selalu memiliki pengalaman bermain yang lebih baik.

Artikel ini mengajak pembaca melihat pelestarian permainan tradisional sebagai upaya menjaga kesempatan anak mengalami permainan bersama, dengan tetap memperhatikan keselamatan, kebutuhan anak, dan kondisi lingkungan setempat.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Dinamika

Lihat semua →
Di Perantauan, Bahasa Keluarga Ikut Berubah

Di Perantauan, Bahasa Keluarga Ikut Berubah

Di keluarga perantau, bahasa daerah berhadapan dengan kebiasaan baru dan bahasa Indonesia. Pewarisannya berlangsung melalui percakapan sehari-hari, bukan sekadar nasihat agar anak tidak melupakan asal-usulnya.

Narendra

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →