Tenun Ikat Sumba adalah jenis kain tradisional berasal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kain ini telah lama dikenal karena keunikan bahan yang digunakan, motif yang khas, dan proses pembuatannya yang memerlukan waktu yang sangat lama.
Dikenal sebagai salah satu karya seni tekstil terbaik di Indonesia, tenun ikat Sumba merupakan simbol dari kebudayaan yang telah terjaga turun-temurun masyarakat Sumba, terutama para wanita.
Pulau Sumba dikenal sebagai destinasi wisata impian wisatawan dunia. Namun, meski penilaian terhadap keindahan pulau ini baru populer pada tahun 2000-an, daya tarik tenun ikat tradisionalnya sudah ada sejak berabad-abad lalu.
Hingga kini, wanita Sumba masih menjaga dan melestarikan tradisi ini dengan penuh dedikasi.
Proses Pembuatannya yang Panjang dan Rumit
Dilansir dari indonesia.go.id, pembuatan tenun ikat Sumba bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Sebuah kain tenun berukuran lebar membutuhkan waktu hingga 4 sampai 6 bulan untuk selesai.
Proses pembuatannya melalui 42 langkah yang detail dan memerlukan ketelitian tinggi.
Langkah-langkah ini melibatkan berbagai orang yang memiliki keterampilan khusus, yang saling bekerja sama untuk menghasilkan selembar kain yang sempurna.
Pembuatan kain dimulai dengan proses lamihi, yaitu memisahkan biji kapas dari tanaman kapas.
Selanjutnya, kapas akan dipintal menjadi benang, kemudian benang-benang itu akan diwarnai menggunakan pewarna alami yang diperoleh dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar pulau.
Setelah benang siap, proses selanjutnya adalah menenun benang itu dengan menggunakan alat tenun tradisional.
Selama proses penenunan, motif yang direncanakan sebelumnya mulai terbentuk di atas kain. Tidak hanya memerlukan waktu lama, pembuatan tenun ikat Sumba juga melibatkan banyak orang.
Satu kain ikat biasanya dikerjakan 3 hingga 10 orang yang memiliki tugas masing-masing, seperti mencari bahan, memintal benang, mewarnai benang, menenun, hingga membuat motif.
Karena itu, tidak mengherankan jika kain tenun ikat Sumba dihargai dengan harga yang relatif mahal. Setiap helai kain yang dihasilkan merupakan karya seni yang sangat bernilai.
Baca juga: Keindahan Kain Tenun Kamohu Buton Asal Sulawesi Tenggara
Keunikan Motif dan Filosofi dalam Tenun Ikat Sumba
Melansir dari budaya-data.kemdikbud.go.id, setiap motif yang ada pada kain tenun ikat Sumba memiliki makna dan filosofi yang mendalam.
Motif-motif ini sering kali menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba, seperti alam sekitar, hewan, dan simbol-simbol budaya mereka.
Motif juga melambangkan status sosial atau upacara adat seperti pernikahan atau ritual lainnya.
Motif yang paling terkenal dalam tenun ikat pulau Sumba adalah motif geometris dan bentuk-bentuk yang terinspirasi alam, seperti bunga, daun, dan hewan.
Setiap desain memiliki ciri khas yang membedakan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Pulau Sumba, menciptakan keanekaragaman yang sangat kaya dalam tradisi tenun ikat ini.
Menjaga Tradisi dan Meneruskan Warisan Budaya
Masyarakat Sumba, terutama wanita, memainkan peran utama dalam menjaga dan melestarikan tradisi tenun ikat.
Bagi mereka, menenun bukan hanya sekadar pekerjaan atau keterampilan, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya dan spiritualitas mereka.
Proses menenun ikat ini juga mengajarkan nilai-nilai seperti kesabaran, ketelitian, dan kerja keras.
Namun, meskipun tenun ikat Sumba memiliki nilai budaya yang sangat tinggi, tantangan besar yang dihadapi para pengrajin adalah keberlanjutan dan pemeliharaan tradisi ini.
Saat ini, banyak generasi muda lebih tertarik pekerjaan lain, yang membuat pekerjaan sebagai penenun mulai terancam punah. Karena itu, upaya untuk mengedukasi dan menarik minat generasi muda untuk melestarikan tenun ikat menjadi sangat penting.
Nilai Ekonomi dan Peran Tenun Ikat Sumba dalam Ekonomi Lokal
Selain sebagai warisan budaya, tenun ikat Sumba juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kain tenun ini tidak hanya dijual di pasar lokal, tetapi juga dipasarkan ke luar negeri, terutama untuk para kolektor dan pecinta seni tekstil.
Dengan harga yang bisa mencapai jutaan rupiah untuk selembar kain, tenun ikat Sumba memberikan kontribusi penting bagi perekonomian masyarakat Sumba. Keunikan kain ini juga menarik perhatian wisatawan yang datang ke Pulau Sumba.
Banyak wisatawan yang membeli kain tenun ikat sebagai oleh-oleh atau barang koleksi. Karena itu, keberadaan tenun ikat ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi sektor pariwisata di Pulau Sumba. (Dari berbagai sumber)