Desir angin malam yang berembus di Lapangan Duwa’ Labuh, Kecamatan Ganding, membawa aroma tanah basah dan hasil bumi yang segar. Pada Senin malam, 21 September 2026, pendar lampu panggung menandai dimulainya Festival Tani Ganding 2026. Selama 10 hari penuh, lapangan di pelosok Kabupaten Sumenep itu bersolek menjadi ruang perjumpaan antara tradisi agraris, seni pertunjukan lokal, dan denyut ekonomi pedesaan.
Masuk dalam jajaran resmi Kalender Event Sumenep 2026, perhelatan yang mengusung tema “Dari Tani untuk Masa Depan, Ganding Maju, Sumenep Sejahtera” ini digadang-gadang oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep sebagai percontohan (pilot project) bagi penyelenggaraan acara berbasis potensi lokal di tingkat kecamatan.
Merayakan Tanah dan Regenerasi Petani Muda
Bagi masyarakat Madura, tanah dan pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan fondasi kebudayaan yang membentuk struktur sosial dan nilai gotong royong. Di Ganding, komoditas unggulan seperti tembakau dan hasil holtikultura telah lama menghidupi garis keturunan warga.
Festival ini menjadi ikhtiar untuk menegaskan kembali posisi krusial sektor agraris di tengah derasnya arus modernisasi. Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan produktivitas lahan pedesaan.
“Selain mengangkat pertanian di Kecamatan Ganding, kegiatan ini juga menjadi pemicu semangat bagi kawula muda untuk tidak mengesampingkan sektor pertanian,” tutur Imam Hasyim saat membuka acara.
Melalui pameran komoditas lokal dan industri tembakau, ruang festival ini sekaligus menjadi ajang edukasi visual yang memperlihatkan betapa kaya khasanah tradisi agraris masyarakat Madura bila dikelola secara inovatif.
Ruang Sinergi Seni, Tradisi, dan Pelaku Lokal
Kekuatan Festival Tani Ganding 2026 terletak pada konsep tata kelolanya yang inklusif. Camat Ganding, Abdul Khalid, menjelaskan bahwa event ini dirancang sebagai wadah kolaborasi yang mengikat pemerintah kecamatan, kelurahan, kelompok tani, komunitas seni, hingga masyarakat umum.
Di panggung utama, riuh pertunjukan seni budaya dan kegiatan keagamaan bergantian menyapa pengunjung setiap malam. Sambil menikmati sajian tari dan musik tradisional yang menjadi bagian penting dari agenda kebudayaan dan pariwisata Sumenep, para pengunjung diajak mengitari area pameran yang dipadati oleh puluhan pelaku usaha mikro.
Ketua Panitia, Helman JR, menyebutkan bahwa festival ini menghadirkan 58 UMKM lokal yang menjejerkan beragam produk unggulan—mulai dari racikan olahan pangan, kerajinan tangan, busana, hingga kopi lokal Madura.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya hadir menikmati pertunjukan, tetapi juga ikut berpartisipasi dengan membeli produk-produk lokal sebagai bentuk dukungan nyata,” ujar Helman.
Model Pembangunan Budaya Berbasis Wilayah
Geliat di Lapangan Duwa’ Labuh menjadi potret bagaimana sebuah event tingkat kecamatan mampu menjelma menjadi ekosistem pendukung yang saling menguatkan. Pertanian menyediakan narasi dan produk, seni pertunjukan memberikan ruh estetika, sedangkan UMKM menggerakkan roda ekonomi warga.
Model percontohan yang dipelopori oleh Kecamatan Ganding ini membuktikan bahwa strategi pengembangan ekonomi berbasis komunitas budaya tidak harus selalu berpusat di perkotaan.
Melalui kolaborasi antarsektor yang mengakar kuat pada identitas agrarisnya, Sumenep sedang merajut jalan baru: merawat akar tradisi di pedesaan sembari memberi ruang bagi kesejahteraan masyarakat lokal untuk terus tumbuh.






