Pariwisata

Menikmati Hidup yang Berjalan Pelan di Bantaragung

Akhir pekan barangkali tidak harus selalu diisi perjalanan yang padat. Tidak harus pula mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu hari. Sesekali, ada baiknya pergi ke tempat yang justru mengajak kita berhenti sejenak dan menjalani kehidupan dengan pelan. Desa Wisata Bantaragung di Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menawarkan pengalaman semacam itu. Berada di kaki Gunung […]

Oleh Ridwan

Menikmati Hidup yang Berjalan Pelan di Bantaragung
Diterbitkan

Akhir pekan barangkali tidak harus selalu diisi perjalanan yang padat. Tidak harus pula mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu hari. Sesekali, ada baiknya pergi ke tempat yang justru mengajak kita berhenti sejenak dan menjalani kehidupan dengan pelan.

Desa Wisata Bantaragung di Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menawarkan pengalaman semacam itu. Berada di kaki Gunung Ciremai, desa ini mempertemukan bentang alam, kehidupan pertanian, budaya Sunda, keramahan warga, dan berbagai aktivitas wisata dalam suasana yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Bagi wisatawan yang berangkat dari Bandung, Desa Wisata Bantaragung dapat menjadi pilihan perjalanan darat menuju kawasan kaki Gunung Ciremai di Majalengka. Jaraknya sekitar 140–160 kilometer dari Bandung, dengan waktu tempuh kurang lebih 3–4 jam menggunakan kendaraan, tergantung rute yang dipilih, kondisi lalu lintas, dan situasi jalan.

Perjalanan yang cukup panjang justru dapat menjadi bagian dari pengalaman menuju desa. Setelah meninggalkan suasana perkotaan, perjalanan perlahan membawa wisatawan menuju kawasan Majalengka dengan lanskap yang semakin hijau dan kontur yang lebih berbukit.

Di Bantaragung, wisatawan dapat berjalan di antara persawahan, menyusuri kawasan alam, menikmati Curug Cipeuteuy, berkemah, tinggal bersama warga melalui program live-in, hingga mencicipi kuliner dan melihat produk UMKM dalam suasana Pasar Bumi Pakuwon.

Bantaragung bukan tempat untuk terburu-buru. Justru di situlah keunikannya.

Datang ke Bantaragung untuk Menikmati Desa dari Dekat

Ada perbedaan antara berkunjung ke sebuah desa dan benar-benar mengalami kehidupan desa. Di Bantaragung, wisatawan memiliki kesempatan untuk melakukan yang kedua.

Pengembangan desa wisata di kawasan ini tidak hanya bertumpu pada satu objek alam. Potensi wisata dikembangkan melalui berbagai daya tarik, antara lain Curug Cipeuteuy, Ciboer Pass, Bumi Perkemahan Awi Lega, Kampung Herbal Mertasela, Sawah Pakuwon, serta kawasan pertanian yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata dan edukasi.

Karena itu, perjalanan ke Bantaragung dapat disusun sesuai cara masing-masing menikmati liburan.

Ingin menyepi? Ada alam dan area perkemahan.

Ingin berjalan-jalan? Ada persawahan dan jalur wisata.

Ingin mengenal kehidupan warga? Ada program live-in.

Ingin membawa pulang sesuatu? Ada kuliner, hasil pertanian, dan produk UMKM.

Bahkan, jika tujuan awal hanya ingin menghabiskan akhir pekan tanpa agenda yang terlalu padat, Bantaragung menyediakan ruang untuk itu.

Ciboer Pass dan Lanskap Sawah yang Mengajak Berjalan Pelan

Salah satu pengalaman yang dapat dicari ketika berkunjung ke Bantaragung adalah menikmati lanskap persawahan Ciboer Pass.

Hamparan sawah bertingkat memperlihatkan bagaimana kehidupan agraris menjadi bagian penting dari wajah desa. Pemandangan tersebut bukan sekadar latar untuk berfoto. Di baliknya terdapat aktivitas pertanian yang terus berjalan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Wisatawan bahkan dapat mengikuti aktivitas yang berkaitan dengan pertanian dalam program tertentu. Pengalaman seperti ini mempertemukan pengunjung dengan sisi lain perjalanan: memahami dari mana pangan berasal dan bagaimana masyarakat merawat kehidupan yang bergantung pada tanah.

Bagi yang terbiasa dengan ritme kota, berjalan di kawasan persawahan dapat menjadi pengalaman sederhana tetapi berbeda. Tidak ada kebutuhan untuk mengejar sesuatu. Cukup berjalan, melihat lanskap, dan membiarkan waktu bergerak sebagaimana mestinya.

Jika ingin menjelajahi lebih banyak destinasi sejenis, [wisata alam Majalengka](Topik Internal Link: Wisata Alam Majalengka) dapat menjadi bagian dari rencana perjalanan berikutnya.

Menyusuri Alam hingga Curug Cipeuteuy

Bantaragung juga menawarkan pengalaman wisata alam melalui Curug Cipeuteuy.

Air terjun ini menjadi salah satu daya tarik yang turut mengawali pengembangan pariwisata di desa. Pemerintah Jawa Barat mencatat Curug Cipeuteuy sebagai salah satu objek wisata alam Bantaragung bersama sejumlah daya tarik lain di sekitarnya.

Perjalanan menuju kawasan alam semacam ini menghadirkan pengalaman yang berbeda dari wisata perkotaan. Suara air, pepohonan, udara pegunungan, dan kontur alam menjadi bagian dari perjalanan.

Karena berada di lingkungan alam, wisatawan tetap perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca dan mengikuti ketentuan pengelola. Keindahan alam akan tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan ketika dinikmati dengan cara yang bertanggung jawab.

Desa Wisata Bantaragung Majalengka menawarkan alam, budaya Sunda, pertanian, live-in, dan Pasar Bumi Pakuwon di kaki Gunung Ciremai. Foto: Disparbud Jabar

Ingin Lebih Dekat dengan Warga? Coba Live-In

Keunikan lain Bantaragung terletak pada kesempatan untuk tinggal lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui program live-in, wisatawan dapat menginap di rumah penduduk dan mengikuti berbagai aktivitas keseharian. Kegiatan yang ditawarkan antara lain bertani, beternak, memanen buah, hingga mengolah makanan tradisional. Program tersebut tercatat sebagai salah satu pengalaman wisata yang ditawarkan Bantaragung melalui platform Jejaring Desa Wisata.

Bagi wisatawan, pengalaman ini memberi sudut pandang berbeda.

Rumah tidak lagi hanya menjadi tempat bermalam, namun menjadi ruang untuk berbincang. Sawah bukan hanya panorama tapi menjadi tempat memahami pekerjaan. Makanan tradisional bukan hanya hidangan semata, ada relasinya dengan bahan pangan, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan di tengah masyarakat.

Di titik inilah desa wisata memiliki kekuatan yang tidak selalu dimiliki destinasi wisata biasa: pengunjung dapat menjadi bagian dari pengalaman, bukan sekadar melihatnya dari luar.

Konsep ini juga berkaitan erat dengan [wisata berbasis masyarakat](Topik Internal Link: Wisata Berbasis Masyarakat), ketika masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam pengelolaan dan pengalaman pariwisata.

Bermalam dengan Suasana Desa

Bantaragung juga dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin memperpanjang waktu tinggal.

Data yang dicantumkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menyebut adanya 132 homestay, enam villa dan cottage, serta area perkemahan. Fasilitas pendukung lainnya mencakup pusat UMKM, tempat ibadah, dan akses menuju pusat pelayanan kesehatan.

Pilihan tempat menginap tersebut membuat wisatawan dapat menentukan pengalaman sesuai kebutuhannya.

Bagi yang ingin nyaman, tersedia pilihan akomodasi. Bagi yang ingin merasakan kehidupan warga secara lebih dekat, homestay dan live-in menawarkan pengalaman yang berbeda. Sementara mereka yang ingin lebih dekat dengan alam dapat memilih area perkemahan.

Dengan begitu, Bantaragung tidak harus menjadi perjalanan singkat yang selesai dalam beberapa jam.

Suasana Kampung ke Tengah Pasar Bumi Pakuwon

Perjalanan ke Bantaragung juga dapat dilengkapi dengan pengalaman kuliner dan produk lokal.

Ada Pasar Bumi Pakuwon yang digelar secara berkala dengan suasana tradisional. Pasar ini menghadirkan kuliner khas desa, produk UMKM, hasil pertanian, serta pertunjukan seni dan budaya.

Pasar tersebut menawarkan pengalaman yang barangkali sulit ditemukan di ruang wisata modern.

Wisatawan dapat berjalan dari satu lapak ke lapak lain, mencicipi makanan, melihat hasil bumi, membeli produk warga, dan menyaksikan aktivitas budaya dalam satu ruang.

Ada nostalgia yang muncul dari suasana seperti ini. Bukan nostalgia terhadap sesuatu yang pernah dialami semua orang, melainkan ingatan kolektif tentang kampung: pasar yang ramai, hasil kebun yang baru dipanen, makanan yang dibuat dari bahan lokal, serta orang-orang yang saling menyapa.

Untuk mengenal konteks yang lebih luas, pembaca juga dapat menyusuri [budaya Sunda di tanah Priangan](Topik Internal Link: Budaya Sunda dan Tradisi Priangan) yang menjadi bagian dari lanskap budaya Jawa Barat.

Bantaragung Tumbuh Bersama Masyarakatnya

Perjalanan Bantaragung menjadi desa wisata tidak berlangsung dalam semalam.

Pengembangan dimulai antara lain melalui pengelolaan Curug Cipeuteuy, kemudian berkembang dengan menghadirkan berbagai daya tarik dan aktivitas lain. Pemerintah Jawa Barat mencatat bahwa pengembangan tersebut melibatkan potensi alam, budaya, dan masyarakat setempat.

Perkembangan itu juga membawa Bantaragung ke panggung penghargaan nasional.

Pada 2026, Bantaragung tercatat dalam 15 besar Wonderful Indonesia Awards untuk kategori Desa dan Kampung Wisata. Informasi tersebut tercantum dalam platform resmi Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata.

Pengakuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Bantaragung dalam mengembangkan potensi desa. Namun, bagi wisatawan, nilai sebuah desa wisata pada akhirnya tidak hanya diukur dari penghargaan.

Nilainya juga terasa ketika seorang pengunjung pulang membawa cerita.

Datang dengan Waktu yang Lebih Luang

Jika akhir pekan selama ini selalu terasa sama, mungkin yang perlu diubah bukan destinasi yang jauh, melainkan cara menikmati perjalanan.

Bantaragung dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mengisi akhir pekan dengan pengalaman yang lebih dekat dengan alam dan masyarakat.

Datanglah untuk melihat sawah, tetapi jangan berhenti pada pemandangannya. Datanglah ke Curug Cipeuteuy, tetapi nikmati pula perjalanan menuju ke sana.

Cobalah live-in jika ingin mengenal kehidupan warga lebih dekat. Berkemahlah jika ingin merasakan malam di lingkungan desa. Datangi Pasar Bumi Pakuwon jika ingin mencicipi makanan dan produk lokal.

Atau, jika tidak ingin melakukan banyak hal, tidak apa-apa. Duduk lebih lama. Berjalan lebih pelan. Berbincang dengan orang yang baru dikenal. Membiarkan sore datang tanpa tergesa.

Sebab, keunikan Bantaragung bukan hanya terletak pada apa yang bisa dilihat, tetapi pada cara desa ini mengajak wisatawan mengalami kehidupan dengan tempo yang berbeda.

Di kaki Gunung Ciremai, akhir pekan tidak harus menjadi perlombaan mengumpulkan tempat yang telah dikunjungi.

Bantaragung bisa menjadi waktu untuk mengingat kembali bahwa perjalanan juga berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti.

Dan mungkin, ketika pulang dari Bantaragung, yang dibawa bukan hanya foto atau oleh-oleh, melainkan satu pengalaman sederhana: pernah merasakan hidup berjalan sedikit lebih pelan.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT