Pariwisata

Jejak Janji Bung Hatta dan Asa Baru Cagar Budaya Puncak

ANGIN dingin Megamendung sore itu seolah memutar kembali pita memori delapan dekade silam. Di sebuah bangunan beraksen kayu yang tenang di kawasan Puncak, Bogor, Mohammad Hatta pernah menancapkan salah satu momen paling personal dalam hidupnya: mengikat janji suci bersama Rahmi Rachim. Bukan sekadar tempat peristirahatan, Vila Bung Hatta di Megamendung adalah tempat berteduh sang Proklamator […]

Oleh Ridwan

Jejak Janji Bung Hatta dan Asa Baru Cagar Budaya Puncak
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau bangunan cagar budaya Vila Bung Hatta dan Vila Riung Gunung di Cisarua, Bogor. Kunjungan tersebut dilakukan untuk merumuskan langkah revitalisasi dan penyelamatan cagar budaya bersejarah. (Foto: Kementerian Kebudayaan)
Diterbitkan

ANGIN dingin Megamendung sore itu seolah memutar kembali pita memori delapan dekade silam. Di sebuah bangunan beraksen kayu yang tenang di kawasan Puncak, Bogor, Mohammad Hatta pernah menancapkan salah satu momen paling personal dalam hidupnya: mengikat janji suci bersama Rahmi Rachim.

Bukan sekadar tempat peristirahatan, Vila Bung Hatta di Megamendung adalah tempat berteduh sang Proklamator usai menunaikan nazar bersahaja. Hatta muda pernah bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan melangsungkan pernikahan sebelum Indonesia menghirup udara kemerdekaan.

Ketika proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, janji itu pun ditunai. Di vila inilah, lembaran baru hidup sang Wakil Presiden pertama dimulai—tersimpan rapi dalam jajaran foto hitam-putih, tumpukan buku tua, hingga lembar-lembar surat bertinta cakar ayam khas Hatta.

Kini, jejak-jejak sunyi di Megamendung dan sekitarnya coba dihidupkan kembali. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama rombongan meninjau langsung kondisi fisik Vila Bung Hatta serta Vila Riung Gunung di Cisarua, Agustus 2026. Langkah ini menjadi titik awal merumuskan tata kelola restorasi sekaligus mendorong kenaikan status bangunan tersebut menjadi Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Dari Dapur Pemikiran Hingga Status Nasional

Bagi Bung Hatta, vila di kawasan Megamendung bukan cuma ruang rekreasi keluarga. Di sudut-sudut ruangan yang hening inilah, sang ekonom bangsa merajut gagasan-gagasan besar mengenai kebangsaan dan fondasi ekonomi kerakyatan.

Menelusuri riwayat bangunan ini membawa kita pada pertautan mendalam antara narasi sejarah dan pemikiran dan rekam jejak Proklamator Mohammad Hatta yang tidak lekang oleh zaman.

“Puncak punya potensi yang luar biasa untuk menjadi destinasi budaya, destinasi kuliner, destinasi sejarah dan juga berbagai wisata lainnya. Termasuk Vila Riung Gunung ini, di mana kita bisa melihat pemandangan Puncak dari satu angle yang berbeda. Tentu adanya Vila Riung gunung ini juga bisa memberi tambahan ilmu bagi masyarakat di sekitar, sehingga semakin banyak lagi wisatawan, pengunjung, baik domestik maupun internasional yang datang ke wilayah Puncak,” ujar Fadli Zon di sela-sela peninjauan.

Pengusulan status nasional tersebut dipandang penting. Selain memperkuat payung hukum pelestariannya, penetapan ini menjadi benteng agar situs bernilai sejarah tinggi tersebut tidak tergerus komersialisasi lahan Puncak yang kian masif.

Wajah Lain Puncak di Riung Gunung

Tak jauh dari Megamendung, hamparan kebun teh Cisarua menyimpan riwayat lain. Vila Riung Gunung berdiri meliuk mengikuti kontur perbukitan, menawarkan cara pandang berbeda dalam menikmati bentang alam Puncak.

Bangunan karya arsitektur masa lalu ini menyimpan potensi besar sebagai ruang perjumpaan antara sejarah, edukasi, dan lanskap alam.

Pemerintah mendorong penetapan Vila Riung Gunung sebagai cagar budaya agar fungsinya dikembalikan ke niat mulia pembangunannya: pemantik rasa cinta tanah air melalui artefak arsitektur.

Rencananya, kawasan ini tidak hanya dirawat struktur fisiknya, tetapi juga dihidupkan ekosistemnya agar berdampak ekonomi bagi warga sekitar.

Integrasi antara wisata sejarah, sentra kuliner lokal, dan ruang interaksi budaya diharapkan mampu mengubah wajah Puncak dari sekadar tempat kemacetan akhir pekan menjadi episentrum destinasi cagar budaya nasional yang kaya makna.

Menghidupkan Batu Tua, Menjaga Ingatan

Agenda peninjauan hari itu tampak cair. Sejumlah tokoh lintas bidang hadir mendampingi perjalanan, mulai dari Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno beserta Nur Asia, jajaran pimpinan Bobobox Indra Gunawan dan Antonius Wong, hingga perwakilan keluarga almarhum Haji Abdul Aziz Marzuki.

Kehadiran para arsitek, anggota DPRD Kabupaten Bogor, pegiat GEKRAFS, hingga seniman lokal mempertegas bahwa pelestarian warisan budaya memerlukan kerja kolaboratif.

Akselerasi penetapan cagar budaya di Bogor ini menjadi bagian dari denyut besar pembenahan warisan sejarah tanah air. Kerja serupa tengah berlangsung di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari pemugaran Candi Perwara di Kompleks Prambanan hingga revitalisasi situs cagar budaya Nusantara di Muara Jambi.

Merawat bangunan tua seperti Vila Bung Hatta dan Riung Gunung sejatinya adalah usaha merawat ingatan. Sebab, sebuah bangsa yang besar tak hanya dibangun dari beton dan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari seberapa kokoh ia menjaga jejak sejarah dan menghormati ikhtiar para pendirinya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT