Warisan Budaya

Kampung Cina Odeon Sukabumi Menjaga Jejak Tionghoa dan Budaya Sunda

Di tengah perkembangan Kota Sukabumi, Jawa Barat, ada satu kawasan yang menyimpan lapisan sejarah tentang perjumpaan berbagai budaya. Namanya Kampung Cina Odeon, atau dikenal pula dengan nama Odeon Chinatown Soekaboemi. Berada di Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, kawasan ini memperlihatkan bagaimana jejak komunitas Tionghoa tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan kota. Warisan tersebut tidak […]

Oleh Ridwan

Kampung Cina Odeon Sukabumi Menjaga Jejak Tionghoa dan Budaya Sunda
Kampung Cina Odeon menghadirkan kembali jejak sejarah komunitas Tionghoa dalam lanskap perkotaan Sukabumi. Foto: Disparbud Jabar
Diterbitkan

Di tengah perkembangan Kota Sukabumi, Jawa Barat, ada satu kawasan yang menyimpan lapisan sejarah tentang perjumpaan berbagai budaya. Namanya Kampung Cina Odeon, atau dikenal pula dengan nama Odeon Chinatown Soekaboemi.

Berada di Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, kawasan ini memperlihatkan bagaimana jejak komunitas Tionghoa tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan kota. Warisan tersebut tidak hanya hadir melalui bangunan lama, tetapi juga melalui tempat ibadah, museum, kuliner, kegiatan ekonomi, hingga perayaan budaya yang terus hidup.

Kampung Cina Odeon karena itu bukan sekadar kawasan wisata perkotaan. Ia menjadi ruang untuk membaca kembali sejarah Sukabumi melalui pengalaman sebuah komunitas yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan kota.

Jejak Komunitas Tionghoa dalam Sejarah Sukabumi

Eksistensi masyarakat Tionghoa di wilayah Sukabumi telah berlangsung sejak masa kolonial.

Dalam materi sejarah lokal mengenai kawasan ini, komunitas Tionghoa disebut datang melalui jalur Cianjur dan Bogor. Sebagian kemudian berkembang sebagai komunitas pedagang dan membangun kehidupan ekonomi di wilayah Sukabumi.

Pertumbuhan kota dan meningkatnya konektivitas kemudian ikut mengubah skala aktivitas perdagangan. Jalur kereta api menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan konektivitas kawasan Sukabumi, meski informasi dalam bahan awal mengenai tahun pembukaannya perlu diverifikasi kembali sebelum angka tahun tertentu digunakan sebagai fakta final.

Selain perdagangan, perkembangan perkebunan juga menjadi bagian dari konteks ekonomi Sukabumi pada masa kolonial. Kehadiran perkebunan teh dan berbagai aktivitas ekonomi turut membentuk masyarakat perkotaan yang semakin beragam.

Karena itu, sejarah masyarakat Tionghoa di Sukabumi tidak dapat dilepaskan dari sejarah pertumbuhan kota itu sendiri. Mereka bukan sekadar kelompok pendatang, tetapi kemudian menjadi bagian dari jaringan ekonomi dan sosial yang membentuk kehidupan perkotaan.

Vihara Widhi Sakti, Saksi Panjang Kehidupan Komunitas

Salah satu bangunan paling menonjol di Kampung Cina Odeon adalah Vihara Widhi Sakti.

Menurut informasi sejumlah artikel, vihara ini didirikan pada 1908 dan menjadi salah satu rumah ibadah bersejarah yang masih digunakan hingga sekarang. Meski telah mengalami renovasi, karakter arsitekturnya tetap menjadi bagian penting dari identitas kawasan.

Dari luar, pengunjung dapat melihat perjumpaan unsur lokal dengan karakter arsitektur Tionghoa. Begitu memasuki ruang dalam, atmosfernya berubah.

Lampion merah, ornamen naga, atap dengan bentuk melengkung, ruang sembahyang, serta berbagai representasi dewa-dewi dalam tradisi keagamaan Tionghoa menghadirkan karakter visual yang kuat.

Di sini, arsitektur bekerja sebagai penanda identitas.

Bangunan bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bukti material bahwa komunitas Tionghoa telah memiliki ruang sosial dan spiritual di Sukabumi selama lebih dari satu abad.

Arsitektur sebagai Ruang Pertemuan Budaya

Hal menarik dari kawasan ini justru terletak pada perjumpaan berbagai unsur budaya.

Di lingkungan perkotaan Sukabumi, bangunan dengan karakter Tionghoa berdiri di tengah masyarakat yang juga memiliki akar budaya Sunda. Perjumpaan itu tidak selalu menghasilkan penghapusan identitas satu sama lain.

Sebaliknya, ia dapat terlihat sebagai bentuk adaptasi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah yang membuat Kampung Cina Odeon menarik dibaca bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang budaya. Identitas Tionghoa tetap dapat dikenali melalui rumah ibadah, ornamen, tradisi dan kuliner, sementara kehidupan kawasan tetap berada dalam konteks sosial masyarakat Sukabumi.

Museum Tionghoa Membaca Kota dari Perspektif Komunitas

Selain vihara, Museum Tionghoa menjadi salah satu tempat penting untuk memahami sejarah kawasan ini.

Museum tersebut menyimpan beragam koleksi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Tionghoa pada masa lalu. Di antaranya terdapat perabot rumah tangga, radio, gramofon, alat komunikasi klasik, pakaian tradisional, perlengkapan upacara dan keagamaan, mata uang tempo dulu, hingga dokumentasi fotografi Kota Sukabumi pada masa kolonial.

Koleksi seperti itu memberikan pengalaman sejarah yang berbeda.

Sejarah tidak hanya diceritakan melalui tanggal dan nama tokoh, tetapi melalui benda-benda yang pernah digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah radio, misalnya, dapat menjadi pintu untuk membayangkan bagaimana informasi dan hiburan hadir di rumah-rumah pada masa lalu. Foto lama dapat memperlihatkan perubahan wajah kota dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ruang Museum Tionghoa Sukabumi yang menampilkan koleksi benda dan dokumentasi sejarah komunitas Tionghoa di masa lalu. Foto: Ist

Dari Kedatangan hingga Kontribusi terhadap Kota

Museum ini diprakarsai oleh lima pemerhati sejarah dan budaya, yaitu Satrio HP, Budiyanto HP (Budi Chung), Irman Firmansyah, Yudi Julianto, dan Vidi Jensen.

Gagasan pendirian museum tersebut berangkat dari kepedulian terhadap sejarah leluhur dan keinginan memperluas pengetahuan masyarakat mengenai keberadaan komunitas Tionghoa di Sukabumi.

Museum terdiri atas empat lantai dengan tema yang berbeda. Alur penyajiannya membawa pengunjung mengikuti perjalanan sejarah secara kronologis, mulai dari kedatangan masyarakat Tionghoa, perkembangan kawasan Pecinan, kehidupan sosial, hingga kontribusi komunitas terhadap pembangunan kota.

Dengan pendekatan tersebut, museum tidak hanya berbicara tentang satu etnis. Ia juga berbicara tentang bagaimana sebuah kota terbentuk melalui perjumpaan banyak kelompok masyarakat.

Sejarah yang Hadir di Meja Makan

Warisan budaya tidak selalu tersimpan di balik kaca museum. Di Kampung Cina Odeon, ia juga hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Kawasan ini memiliki pusat kuliner dan UMKM dengan beragam pilihan makanan, mulai dari dimsum, bakmi, kopi tiam, jajanan tradisional, makanan khas Nusantara, hingga minuman kekinian.

Menurut bahan yang diberikan, tenant kuliner di kawasan tersebut telah mengantongi sertifikasi halal. Informasi mengenai status sertifikasi ini sebaiknya tetap diperbarui secara berkala oleh redaksi karena status sertifikasi usaha dapat berubah.

Pertemuan kuliner Tionghoa dan Nusantara menunjukkan bagaimana makanan dapat mengalami proses adaptasi ketika berpindah ruang dan generasi.

Makanan yang memiliki akar budaya tertentu dapat hadir dalam konteks masyarakat yang lebih luas. Pada saat yang sama, cita rasa lokal dan kebiasaan makan masyarakat setempat turut memengaruhi bagaimana kuliner tersebut diterima dan berkembang.

Imlek dan Cap Go Meh Menghidupkan Kawasan

Kampung Cina Odeon juga menjadi ruang perayaan budaya ketika Imlek dan Cap Go Meh tiba.

Pada momentum tersebut, kawasan dapat dipenuhi berbagai kegiatan seperti pertunjukan barongsai, liong, bazar UMKM, serta pertunjukan seni.

Perayaan seperti ini mempunyai makna lebih dari sekadar atraksi wisata. Bagi komunitas, perayaan keagamaan dan kebudayaan merupakan bagian dari keberlanjutan tradisi. Bagi masyarakat yang lebih luas, momentum tersebut membuka ruang untuk mengenal budaya Tionghoa melalui pengalaman langsung.

Di sinilah festival dapat berfungsi sebagai jembatan. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi dapat melihat bagaimana tradisi yang diwariskan lintas generasi terus menemukan ruang dalam kehidupan kota modern.

Ketika Keberagaman Menjadi Identitas Kota

Kampung Cina Odeon menunjukkan bahwa identitas sebuah kota tidak selalu dibangun oleh satu kebudayaan.

Sukabumi tumbuh melalui pertemuan berbagai kelompok, sejarah migrasi, perdagangan, agama, ekonomi, serta perubahan ruang perkotaan. Jejak masyarakat Tionghoa merupakan salah satu lapisan dari perjalanan tersebut. Karena itu, pelestarian kawasan semacam ini mempunyai arti penting.

Menjaga vihara, merawat koleksi museum, mempertahankan tradisi perayaan, mengembangkan UMKM, dan memperkenalkan kuliner kepada generasi baru merupakan cara yang berbeda-beda untuk melakukan hal yang sama: memastikan memori sebuah komunitas tetap memiliki tempat dalam sejarah kota.

Pada saat bersamaan, kawasan tersebut juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berarti membekukan tradisi di masa lalu.

Budaya dapat terus bergerak. Ia dapat hidup berdampingan dengan pusat kuliner, UMKM, pariwisata perkotaan, generasi muda, dan kebutuhan masyarakat masa kini.

Kampung Cina Odeon dan Masa Depan Wisata Budaya Sukabumi

Kekuatan Kampung Cina Odeon terletak pada lapisan pengalaman yang ditawarkannya.

Pengunjung dapat memulai perjalanan dari ruang kota, kemudian mengenal sejarah komunitas melalui museum, melihat jejak kehidupan keagamaan di vihara, mencicipi kuliner, dan pada waktu tertentu menyaksikan perayaan budaya.

Rangkaian tersebut membuat wisata tidak berhenti pada aktivitas melihat-lihat.

Ada pengetahuan sejarah yang bisa dipelajari, identitas budaya yang dapat dikenali, serta kehidupan ekonomi masyarakat yang terus berlangsung.

Pada akhirnya, Kampung Cina Odeon merupakan contoh bagaimana warisan budaya dapat menjadi bagian dari kehidupan kota masa kini tanpa harus kehilangan akar sejarahnya.

Di tengah perubahan Sukabumi yang terus bergerak, kawasan ini menyimpan pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan. Kota juga dibentuk oleh manusia, ingatan, tradisi, tempat ibadah, makanan, perdagangan, dan berbagai kebudayaan yang hidup berdampingan.

Kampung Cina Odeon dengan demikian bukan sekadar cerita tentang jejak Tionghoa di Sukabumi. Ia adalah bagian dari cerita yang lebih besar tentang Indonesia sebagai ruang perjumpaan budaya—tempat identitas yang berbeda dapat hadir, beradaptasi, dan bersama-sama membentuk wajah sebuah kota.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT