Dwi Pranyoto, atau yang akrab disapa Kang Dwi, adalah seorang seniman sekaligus budayawan asal Dusun Giyanti, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo.
Lahir pada 16 Oktober 1979, ia tumbuh dalam keluarga seniman yang sudah lama menggeluti seni tradisional secara turun-temurun.
“Latar belakang saya memang dari keluarga seniman, seni tradisi. Dari Kakek, turun ke Bapak, dan sekarang saya yang meneruskan,” ujarnya.
Pendidikan formalnya di dunia seni dimulai di SMKI Yogyakarta, meskipun ia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
Kini, ia tetap menetap di Desa Wisata Giyanti, melanjutkan perjuangan dalam bidang kesenian.
Baca Juga: Agung Wiera dan Perjalanan Panjang Fotografi Budaya
Menghidupi Kesenian dan Mendidik Generasi Muda
Sebagai seorang seniman, Kang Dwi tidak hanya berfokus pada seni tradisional, tetapi juga terbuka terhadap berbagai bentuk kesenian lain.
Ia saat ini mengelola Sanggar Rukun Putri Budaya, sanggar yang didirikan kakenya pada tahun 1980 dimana beliau melatih Karawitan dan Tari Topeng Lengger.
“Saya hanya meneruskan apa yang dikerjakan kakek dulu. Bagaimanapun keadaannya, saya tetap harus mempertahankan sanggar ini,” jelasnya.
Di sanggar ini, ia membimbing anak-anak tanpa memungut biaya administrasi.
Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana anak-anak bisa berkembang sebagai seniman yang mampu menjadikan kesenian sebagai sumber penghidupan.
“Saya ingin anak-anak di Wonosobo yang pintar di kesenian bisa mencari nafkah dari sini. Saya suka melihat mereka menyalurkan hobi, tapi saya lebih suka kalau hobi itu bisa menjadi mata pencaharian,” tambahnya.
Baca Juga: Arkiv Vilmansa dan Biota Laut, Dari Trauma ke Karya Seni
Menjaga Tradisi di Tengah Arus Budaya Baru
Sebagai seorang budayawan, Kang Dwi menyadari bahwa budaya asing semakin banyak masuk dan digemari anak muda.
Namun, ia menekankan pentingnya tetap menjaga jati diri budaya lokal.
“Kita boleh mempelajari budaya luar, asalkan jangan sampai menjadi tamu di rumah sendiri. Kalau ada budaya asing masuk, silakan pelajari, tapi jangan sampai melupakan budaya sendiri,” tegasnya.
Di Desa Wisata Giyanti, kesenian tradisional masih sangat kuat. Anak-anak muda di desa ini telah terbiasa dengan budaya yang diwariskan para leluhur.
Namun, ia mengakui bahwa di luar Giyanti, tren budaya luar memang semakin mendominasi.
Baca Juga: Mie Ongklok Instan Mas Desta, Pasta Jawa Khas Wonosobo
Dedikasi Penuh untuk Kesenian
Dalam kesehariannya, Kang Dwi sepenuhnya mengandalkan kesenian sebagai sumber mata pencaharian.
“Saya bisa dikatakan 85 persen murni seniman. Sisanya, ya seadanya,” katanya.
Ia bangga karena dari kesenian, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.
Salah satu anaknya kini bahkan tengah menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta, sebuah institusi seni ternama di Indonesia.
Bagi Kang Dwi, harapannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi lebih kepada perkembangan kesenian secara umum.
Ia ingin anak-anak muda benar-benar bisa menjadikan seni sebagai profesi yang menghidupi mereka.
“Kalau berkesenian tanpa hasil, ending-nya pasti kapok. Saya ingin pemerintah daerah tidak hanya ‘nguri-uri’ (melestarikan) kesenian, tapi juga ‘ngurib-urib’ (menghidupkan) kesenian. Karena kalau senimannya ingin bertahan hidup, harus ada yang bisa menghidupi,” pungkasnya.
Baca Juga: Siti Aminah Marijo, Pelopor Bekatul Beras Merah di Wonosobo
Dengan dedikasi dan semangatnya, Kang Dwi terus menjadi bagian penting dalam menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional di Wonosobo.
Ia berharap akan muncul generasi baru yang bisa melampaui pencapaiannya, sehingga seni tradisi tetap lestari dan semakin berkembang di masa depan.