Video

Kesenian Ajeng, Pusaka Leluhur Sumedang Yang Menolak Punah

Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sebuah warisan leluhur terus menggeliat membawakan kisah keharmonisan alam dan manusia melalui alat musik sangat tua yakni kesenian ajeng. Dilansir dari sumedangtandang.com, Seni tradisional di Desa Cipelang yang perangkat atau alat musiknya sudah berusia ratusan tahun. Menurut cerita, seni musik ini berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam. Alat musik ini […]

Oleh Ridwan

Kesenian Ajeng, Pusaka Leluhur Sumedang Yang Menolak Punah
seni ajeng
Diterbitkan

Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sebuah warisan leluhur terus menggeliat membawakan kisah keharmonisan alam dan manusia melalui alat musik sangat tua yakni kesenian ajeng.

Dilansir dari sumedangtandang.com, Seni tradisional di Desa Cipelang yang perangkat atau alat musiknya sudah berusia ratusan tahun. Menurut cerita, seni musik ini berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam.

Alat musik ini diberi nama Jangkar Alam. Alasannya karena ditemukan dari dalam tanah yang penuh oleh jangkar saat penggalian. Sebuah nama yang memiliki sejarah panjang jika dilihat dari penemuannya.

Alat musik seni tradisional ini merupakan hasil penemuan anak sultan Jaya Ningrat yaitu Jaga Kerti dalam melaksanakan perintah ayahnya.

Baca juga: Merasakan Akulturasi Budaya dalam Sepotong Tahu Sumedang

Jaga Kerti melaksanakan perintah sang ayah untuk membuat saluran air di Gunung Garunggang di daerah Ranji Majalengka. Dalam usahanya menembus tanah tegal Garunggang ia menemukan seperangkat keromong dari dalam tanah galian. Perangkat keromong yang berjumlah 28 buah ini kemudian dieksplorasi menjadi alat musik.

Jaga Kerti kemudian pindah ke daerah Belendung (sekarang Desa Cipelang) didampingi oleh Embah Kadar. Mereka kemudian memperkenalkan Jangkar Alam kepada masyarakat sekitar dan kerap memainkannya bersama-sama, hingga alat musik ini diwariskan turun-temurun sampai sekarang.

Seiring berjalannya waktu, pada pertengahan abad, nama Jangkar Alam berubah menjadi ‘Ajeng’ dari kata ‘pangajeng-ajeng’ atau pengiring bagi pengantin, karena saat itu alat musik ini kerap ditampilkan di acara-acara pernikahan.

Karena kesenian Ajeng dianggap sebagai pusaka leluhur, maka Ajeng dimainkan di tempat ‘keramat’ dalam acara ritual budaya seperti guar bumi, ampih pare, sebagai salah satu penghargaan kepada para pewaris sebelumnya (karuhun) dan juga bukti pelestarian seni tradisional.

Upacara-upacara tersebut rutin digelar satu tahun sekali antara bulan Agustus-Spetember di tiga lokasi, yakni Sumur Jaha Kahuripan (Ujungjaya), makam Mbah Buyut Jagakerti (Cipelang), dan Makam Mbah Kenjar (di Taman Babakan Asem).

TopikVideo
Video13 FEB 2025

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Video

Kodim Wonosobo Kawal Ketat Pemberangkatan 875 Calon Haji

Kodim Wonosobo Kawal Ketat Pemberangkatan 875 Calon Haji

Suasana haru dan khidmat menyelimuti Pendopo Bupati Wonosobo pada Minggu pagi (25/5/2025), saat ribuan warga berkumpul untuk melepas keberangkatan calon jemaah haji asal Kabupaten Wonosobo. Acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar ini mendapat perhatian khusus dari unsur TNI, dengan Kodim 0707/Wonosobo turut mengerahkan personelnya untuk membantu pengamanan. Mewakili Komandan Kodim, Kapten Cke Sapta Wibawa

Achmad Aristyan
seleksi PPPK wonosobo

1.482 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap 2, Wabup Wonosobo Tekankan Pentingnya Optimisme dan Integritas

Sebanyak 1.482 peserta dari Kabupaten Wonosobo mengikuti seleksi Tahap 2 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang digelar di dua lokasi, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Gedung PRPP Semarang. Pada hari pertama pelaksanaan seleksi, sebanyak 1.127 peserta mengikuti tes di ISI Yogyakarta. Wakil Bupati Wonosobo, Amir Husein, hadir langsung untuk memberikan semangat kepada

Anisa Kurniawati
Kirab Waisak

Kirab Waisak 2025 di Candi Borobudur Meriahkan Pariwisata Magelang

Perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE tahun 2025 dengan Kirab Waisak yang digelar di Candi Borobudur, Jawa Tengah, kembali menjadi daya tarik utama, tak hanya bagi umat Buddha tetapi juga bagi sektor pariwisata di kawasan Magelang. Puncak prosesi perayaan berlangsung pada Senin (12/5/2025) dengan kirab sakral yang membawa Api Dharma dari Mrapen, Grobogan dan Air

Anisa Kurniawati

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Pranatacara menggunakan bahasa Jawa dalam kegiatan pelestarian tradisi bertutur di Sleman.

Bahasa Krama dan Masa Depan Tradisi Jawa

Paguyuban pranatacara di Sleman merawat bahasa Jawa krama melalui seni bertutur dan tata krama, sekaligus mendorong generasi muda memperoleh ruang untuk belajar dan mempraktikkannya.

Ridwan