Wayang Timplong, kesenian tradisional yang berasal dari Desa Jetis Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Wayang ini terbuat dari kayu, dengan bagian tangan terbuat dari kulit binatang. Suara gamelan pengiringnya menghasilkan bunyi Plong….Plong…Plong karena terbuat dari bambu, sehingga dinamakan timplong.
Kesenian Wayang Timplong mungkin kurang begitu populer di kalangan masyarakat, jika dibandingkan Wayang kulit Purwa. Kelahiran wayang timplong tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Bancol atau Mbah Bancol dari Grobogan, Semarang,
Berdasarkan Jurnal “Studi Tentang Wayang Timplong di Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk” oleh Ahmad Burhan Muzaqi, Wayang Timplong diciptakan Mbah bancol tahun 1910.
Semasa kecil mbah Bancol senang menonton pertunjukkan kesenian wayang Klithik. Mbah Bancol kemudian berinisiatif membuat wayang baru yang berbeda dengan wayang lainnya.
Dia juga menyiapkan seperangkat gamelan sederhana. Pengiringnya terdiri dari sebuah gambang bambu, sebuah kendang, tiga buah kenong, dan sebuah kempul (gong kecil).
Sebagai pencipta dan dalang pertama, Ki Bancol mewariskan keahlian secara turun-temurun. Mula-mula kepada Darto Dono, lalu Ki Karto Jiwul, Ki Tawar, Ki Gondo Maelan, Ki Talam, dan Ki Jikan –dua nama terakhir beralih profesi lain. Sejak era Ki Gondo Maelan, dalang wayang timplong sudah tidak memiliki garis keturunan langsung dengan Ki Bancol.
Keunikan Bunyi
Bunyi gambang bambu dari musik pengiring terdengar seperti thing-thong dan bunyi “plong” dihasilkan dari kenong. Maka dari itu, kesenian ini disebut wayang timplong. Sering disebut juga wayang kricik karena bila dimainkan menimbulkan bunyi kricik-kricik..
Keunikan Wayang tradisional ini yakni dibuat dari kayu mentaos namun pada bagian lengan menggunakan kulit. Disamping itu kesenian ini tidak memiliki pesinden dan pengisi suara hanya dilakukan Dalang dan panjak (penabuh gamelan).
Wayang ini digunakan sebagai sarana hiburan. Pada tahun 1970-an, kesenian ini pernah mencapai puncak popularitasnya. Namun kini perlahan mulai menurun, bahkan terancam punah.
Pentas Khusus
Tokoh Wayang Timplong kurang lebih terdapat 70 wayang. Namun yang pakem ada Sembilan, yakni tokoh Ksatria (prajurit), Satria Muda, Putri Sekartaji, Ratu (Putri), Panji, Satrio Sepuh, Patih, Tumenggung dan Ratu (Kediri, Majapahit, Jenggala) tergantung cerita.
Tidak ada penokohan khusus kecuali Panji, Sekartaji, dan Kilisuci saja dalam kesenian ini. Cerita atau lakon yang dibawakan biasanya mengambil cerita Panji yang berlatar belakang hubungan kerajaan Jenggala dan Kediri. Misalkan seperti Babad Kediri, Asmoro Bangun, Panji Laras Miring, Jaka Umbaran, Jaka Slewah, Dewi Galuh, Dewi Sekartaji dan lain-lain.
Saat ini kurang begitu berkembang di masyarakat Nganjuk. Biasanya hanya ditampilkan pada hanya dipentaskan dalam acara ruwatan atau bersih desa untuk tolak bala, melepas nadzar, atau acara khusus tertentu di pedesaan daerah Nganjuk. (Dari berbagai sumber)