Kerajaan dan Kesultanan

Peureulak, Kesultanan Awal Aceh di Persimpangan Sejarah

Tradisi menyebut Peureulak berdiri pada 840 M, tetapi kronologi sultan pertamanya masih perlu dibaca bersama naskah dan bukti arkeologis.

Oleh Narendra

Peureulak, Kesultanan Awal Aceh di Persimpangan Sejarah
Aceh Indonesia historical cemetery - Situs makam yang dikaitkan dengan Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah menjadi bagian dari warisan sejarah Peureulak di Aceh Timur.
Diterbitkan

Di pesisir timur Aceh, nama Peureulak bertahan dalam ingatan sejarah sebagai salah satu pusat awal Islam di Nusantara. Tradisi sejarah menyebut wilayah ini berkembang menjadi kesultanan pada 840 M, ketika seorang tokoh bernama Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah dinobatkan sebagai penguasa. Tanggal itu kerap diulang dalam buku dan artikel populer, tetapi sejarawan masih perlu memeriksa dasar bukti yang menopangnya.

Peureulak berada di kawasan yang terhubung dengan jalur pelayaran Selat Malaka. Letak tersebut memberi peluang bagi bandar pesisir untuk berhubungan dengan pedagang dari berbagai wilayah, termasuk kawasan Asia Selatan dan Asia Barat. Perdagangan lintas laut telah berlangsung jauh sebelum munculnya kesultanan-kesultanan Islam, sehingga kedatangan pedagang Muslim tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah kerajaan Islam langsung terbentuk.

Bandar di Jalur Selat Malaka

Dalam rekonstruksi sejarah Peureulak, perdagangan dan penyebaran Islam sering diceritakan sebagai dua proses yang saling berkaitan. Para saudagar bukan hanya membawa barang, tetapi juga bahasa, kebiasaan, jaringan keluarga, dan keyakinan. Meski gambaran ini masuk akal dalam konteks sejarah maritim, rincian tentang siapa yang datang pertama, kapan komunitas Muslim terbentuk, dan bagaimana penguasa setempat menerima Islam perlu dibedakan dari kisah tradisional.

Sejumlah tulisan menyebut Peureulak sebagai bandar yang dikenal karena kayu perlak, yang dikaitkan dengan bahan pembuatan kapal. Namun, penjelasan etimologis dan kisah tentang kemasyhuran komoditas itu perlu ditelusuri sumbernya secara tersendiri. Untuk artikel sejarah, Peureulak lebih aman ditempatkan sebagai kawasan pesisir yang strategis, tanpa menjadikan setiap cerita perdagangan sebagai fakta yang sudah terverifikasi.

Tradisi setempat juga menyebut pusat pemerintahan awal bernama Bandar Peureulak, kemudian disebut Bandar Khalifah. Nama terakhir kerap dihubungkan dengan kedatangan seorang nakhoda atau rombongan dari luar. Cerita ini membantu menjelaskan bagaimana masyarakat kemudian mengingat hubungan Peureulak dengan jaringan Muslim lintas laut, tetapi belum cukup untuk memastikan seluruh detail perjalanan atau peran tokoh tersebut.

Sultan Pertama dalam Tradisi Sejarah

Nama yang paling sering dikaitkan dengan berdirinya Kesultanan Peureulak ialah Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah. Menurut tradisi yang dirujuk sejumlah penulis, ia dinobatkan pada 1 Muharam 225 Hijriah, yang dikonversi menjadi 840 M. Dalam kisah tersebut, pergantian nama pusat pemerintahan menjadi Bandar Khalifah turut menandai perubahan politik dan keagamaan.

Sumber yang sering dikutip untuk kronologi itu antara lain naskah *Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi*, *Tazkirat Tabaqat Jumu’ Sultan al-Salatin*, serta silsilah raja-raja Perlak dan Pasai. Penulis modern, termasuk Ali Hasjmy dan peneliti setelahnya, menggunakan tradisi naskah tersebut untuk menyusun urutan penguasa. Namun, naskah-naskah itu tidak sama dengan prasasti bertarikh yang dibuat pada masa pendirian kerajaan, sehingga tanggal 840 perlu disebut sebagai kronologi tradisional, bukan kepastian yang berdiri tanpa perdebatan.

Satu penelitian tentang makam kuno Peureulak mencatat adanya kompleks makam yang dikaitkan dengan Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah di Paya Meuligo, Aceh Timur. Kajian itu juga menerangkan bahwa keterangan masa pemerintahannya ditelusuri melalui salinan naskah yang dirujuk penulis sejarah Aceh. Keberadaan situs makam merupakan bagian penting dari warisan setempat, tetapi penanggalan, identifikasi tokoh, dan hubungan langsungnya dengan peristiwa tahun 840 harus dinilai berdasarkan data epigrafi dan arkeologi yang tersedia.

Naskah, Makam, dan Batas Bukti

Perdebatan mengenai Peureulak bukan berarti sejarahnya dapat diabaikan. Justru, perbedaan antara tradisi tertulis dan bukti material menunjukkan mengapa sejarah awal perlu disusun dengan hati-hati. Artikel akademik di *Paramita: Historical Studies Journal* menegaskan bahwa sumber untuk merekonstruksi Kesultanan Peureulak masih terbatas dan keberadaan serta kronologinya telah menjadi bahan perdebatan di kalangan peneliti.

Ada pula catatan asing yang sering dipakai untuk membahas pesisir utara dan timur Sumatra, termasuk penyebutan Ferlec dalam kisah perjalanan Marco Polo pada akhir abad ke-13. Catatan itu lebih dekat dengan masa yang diceritakannya dibandingkan kronologi pendirian pada abad ke-9, tetapi tetap harus dibaca dengan memperhatikan ejaan nama tempat, konteks perjalanan, dan keterbatasan laporan seorang pengelana. Sumber semacam ini membantu menunjukkan bahwa kawasan tersebut dikenal dalam jaringan maritim, namun tidak dengan sendirinya membuktikan setiap detail silsilah sultan sejak 840.

Penelitian tentang nisan dan catatan perjalanan juga menekankan pentingnya membandingkan tradisi lokal dengan bukti yang dapat diperiksa. Sebuah makam dapat menguatkan keberadaan komunitas dan praktik pemakaman Islam pada periode tertentu jika inskripsi dan penanggalannya jelas. Akan tetapi, bukti dari masa yang lebih kemudian tidak otomatis mengesahkan semua cerita tentang pendirian kerajaan beberapa abad sebelumnya.

Dari Peureulak ke Sejarah Islam Nusantara

Dalam ingatan sejarah Aceh, Peureulak memiliki tempat penting sebagai salah satu pusat awal kekuasaan Islam. Sebagian penulis menyebutnya kerajaan Islam pertama di Nusantara, dengan dasar utama berupa kronik dan silsilah tradisional. Peneliti lain mengingatkan bahwa klaim “yang pertama” bergantung pada definisi yang digunakan: apakah yang dimaksud kedatangan Muslim, terbentuknya komunitas Muslim, atau berdirinya pemerintahan yang secara resmi bercorak Islam.

Perbedaan itu penting karena proses sejarah tidak selalu berlangsung dalam satu waktu. Pedagang Muslim dapat singgah dan menetap sebelum penguasa setempat memeluk Islam; komunitas dapat tumbuh sebelum munculnya kesultanan; dan kerajaan yang telah berdiri dapat mengadopsi identitas keagamaan secara bertahap. Tanpa membedakan tahapan tersebut, kisah tentang awal Islam mudah berubah menjadi perlombaan menentukan satu tempat sebagai titik mula tunggal.

Peureulak kemudian sering dikisahkan mengalami perpecahan internal dan akhirnya berhubungan erat dengan Samudera Pasai. Rincian mengenai urutan sultan, konflik politik, serta waktu penyatuan perlu diteliti tersendiri karena kronologi yang beredar banyak bertumpu pada naskah yang ditafsirkan oleh penulis modern. Yang dapat ditegaskan untuk sementara ialah bahwa kawasan pesisir Aceh timur dan utara menjadi bagian penting dari sejarah perdagangan dan perkembangan Islam di Sumatra.

Maka, kisah Peureulak paling bertanggung jawab ditulis sebagai pertemuan antara tradisi sejarah yang kuat dalam ingatan masyarakat dan bukti yang masih perlu diuji. Tahun 840 M, nama Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, serta Bandar Khalifah merupakan unsur penting dalam narasi tradisional tentang kesultanan ini. Menyebut status bukti secara terbuka tidak mengurangi arti Peureulak; sebaliknya, cara itu menjaga warisan sejarah Aceh dari kepastian yang melampaui sumbernya.

CATATAN REDAKSI 

Artikel ini membahas Kesultanan Peureulak di Aceh Timur, khususnya tradisi pendiriannya pada 840 M dan tokoh yang disebut sebagai sultan pertamanya, Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah.

Kronologi tahun 840 M banyak muncul dalam historiografi Peureulak melalui naskah klasik dan rekonstruksi sejarawan modern. Artikel ini memperlakukannya sebagai tradisi sejarah yang penting, bukan tanggal yang sudah dibuktikan secara mutlak oleh prasasti sezaman. Penelitian arkeologis mengenai makam Peureulak memberi bahan pembanding, tetapi identifikasi tokoh dan penanggalan setiap situs tetap harus mengikuti bukti yang tersedia.

Naskah *Idharul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi*, *Tazkirat Tabaqat Jumu’ Sultan al-Salatin*, dan silsilah raja-raja Perlak serta Pasai perlu ditelusuri melalui edisi atau salinan yang dapat diperiksa. Artikel akademik juga menunjukkan bahwa rekonstruksi sejarah Peureulak masih menghadapi keterbatasan sumber dan perdebatan historiografis.

Karena itu, artikel tidak menyimpulkan secara mutlak bahwa Peureulak adalah satu-satunya titik awal Islam di Nusantara. Istilah “pertama” perlu dibedakan menurut konteksnya: kedatangan Muslim, pembentukan komunitas Muslim, atau berdirinya pemerintahan bercorak Islam. Pembatasan ini menjaga agar EMMANUS tidak menyamakan tradisi sejarah dengan fakta yang seluruhnya telah terverifikasi.

Sumber referensi 

1. Muchsin, Misri A. (2018).

   “Kesultanan Peureulak dan Diskursus Titik Nol Peradaban Islam Nusantara.”

   Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies, UIN Sumatera Utara.

   https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/JCIMS/article/view/3154

2. Asse, Ambo Ajis. (2021).

   “Membandingkan Catatan Perjalanan Pelancong dan Nisan Kuno Kerajaan Peureulak, Aceh Timur, Aceh.”

   Sangkhakala.

   https://repositori.kemendikdasmen.go.id/24059/1/Sangkhakala_Vol.24_No.1_2021.pdf

3. Paramita: Historical Studies Journal. (2017).

   Artikel kajian sejarah Peureulak, Vol. 27, No. 2.

   Sumber ini membahas keterbatasan sumber dan perdebatan rekonstruksi sejarah kesultanan.

   https://journal.unnes.ac.id/nju/paramita/article/download/11159/pdf_4_2_2017

4. Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen. (2023).

   “Kesultanan Peureulak, Kerajaan Corak Islam Pertama di Indonesia yang Kerap Terlupakan.”

   https://itjen.kemendikdasmen.go.id/web/?p=8742

5. Review of International Relations, UIN Alauddin Makassar. (2023).

   Kajian sejarah tentang Kesultanan Peureulak dan perkembangan Islam di Sumatra.

   https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/rir/article/download/42854/18818/134006

6. Muchsin, Misri A. (2018).

   Naskah lengkap artikel tentang Peureulak dan perdebatan titik awal peradaban Islam Nusantara.

   https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/JCIMS/article/download/3154/2073

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Kerajaan dan Kesultanan

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →