Tradisi

Keunikan Suku Sentani Menangkap Ikan Dengan Tradisi Bukhere

Suku Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua memiliki tradisi unik yang disebut Bhukere. Tradisi ini merupakan cara menangkap ikan secara tradisional di danau Sentani. Dulu, jika ingin mendapatkan hasil ikan yang banyak maka dilakukan ritual khusus. Bhukere atau sero-sero sendiri adalah alat tradisional untuk menangkap ikan. Alatnya terbuat dari kayu pilihan seperti kayu suang dan olulu. […]

Oleh Anisa Kurniawati

Bhukere atau sarang buatan di Sentani, Papua
Bhukere atau sarang buatan untuk menangkap ikan di danau Sentani, Jayapura, Papua. Foto: Infopublik.id
Diterbitkan

Suku Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua memiliki tradisi unik yang disebut Bhukere. Tradisi ini merupakan cara menangkap ikan secara tradisional di danau Sentani. Dulu, jika ingin mendapatkan hasil ikan yang banyak maka dilakukan ritual khusus. 

Bhukere atau sero-sero sendiri adalah alat tradisional untuk menangkap ikan. Alatnya terbuat dari kayu pilihan seperti kayu suang dan olulu. Kayu jenis ini tahan lama dan mempunyai nilai tinggi. Biasanya kayu digunakan untuk membangun rumah masyarakat adat.

Pembuatan Bhukere tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Harus dilakukan orang khusus yang ditunjuk Ondofolo atau Kepala Suku sebagai perwakilan adat. Alasannya untuk memastikan, Bhukere dibuat secara baik sesuai cara nenek moyang.

Ritual Khusus 

Pada zaman dulu pembuatan Bhukere dilakukan orang tertentu yang mempunyai kemampuan yang sudah di patenkan. Orang berkemampuan khusus itu dengan Kabulo. 

Selain Ondofolo mendatangi Kabulo, ada pantangan yang selama ritual dilakukan. Pantangan bagi si pemanggil ikan yaitu tidak memakan beberapa jenis ikan yang di larang sesuai ketentuan adat.

Pelaksanaan panen ikan di Bhukere dilihat dari tanda-tanda alam. Diantaranya mulai berseminya daun tumbuhan di sekitar danau. Ikan asli danau Senatani yaitu heuw mulai bermunculan. 

Baca juga: Menggali Makna Tradisi Bakar Batu Masyarakat Papua

Tradisi Bhukere diawali dengan meninjau lokasi yang di anggap banyak ikannya. Pembuatan Bhukere biasanya lakukan tiga hingga sepuluh orang. Selanjutnya bhukere didesain menyerupai bulatan melingkar dengan diameter 5 hingga 7 meter. 

Kemudian kayu-kayu ditancapkan ke dalam danau, lalu ditutup menggunakan daun sagu dan karung bekas. Setelah itu didiamkan dalam jangka waktu tertentu. Alat tradisional ini, dapat mengundang ikan untuk datang. Hasil panen ikan dalam tradisi Bhukere ini biasanya menjadi konsumsi umum, sesuai pembagian ondofolo dalam pesta adat. 

Ikon Festival

Sayangnya, tradisi ini mulai hilang akibat arus modernisasi. Padahal tradisi ini sering menjadi ritual paling sakral dalam keseharian orang Bhuyaka Sentani. Akan tetapi, budaya orang Sentani yang hilang ini sempat diangkat kembali. 

Tradisi Bhukere terakhir dilaksanakan pada April 2024 lalu di Festival Port Numbay  (FPN) ke V. Festival ini digelar di kampung Yoka dan kampung Waena. Tradisi ini akan menjadi ikon festival. Hal ini sejalan dengan Danau Sentani yang menjadi gambaran suku budaya Sentani. 

Ikan Gabus

Sejak tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Perikanan dan Kelautan juga Kementrian Kelautan Perikanan telah melakukan ujicoba sarang buatan, atau “Bhukere“ guna mengembalikan populasi Kayouw Kahebey atau ikan Gabus asli Danau Sentani.

Titik persebaran pembuatan “Bhukere“ tersebar di seluruh Danau Sentani dari Ujung Barat hingga wilayah sentani Timur  dengan melihat lokasi strategis untuk tempat bersarangnya ikan gabus. Tempat-tempat itu, seperti area dusun sagu dan neli (rumput danau).

Baca juga: Kisah Tete: Asal-usul Penyebaran Suku di Merauke Papua

Hasilnya, hingga tahun 2022, upaya ini membuahkan hasil dengan adanya peningkatan populasi ikan yang datang masuk, menetap dan berkembang biak di dalam “Bhukere“ atau sarang ikan.

Adanya peningkatan populasi ikan Kayou Kahebey di dalam Bhukere itu kemudian dimanfaatkan warga sekitar danau untuk ditangkap dan dijual ke Pasar

Keberadaan Bhukere ini adalah salah satu bukti nyata keberadaan budaya yang mempunyai nilai tersendiri bagi suku Sentani. Tradisi ini adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi05 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati