Setiap pagi, Aiptu Sunardi, seorang Bhabinkamtibmas Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga, Jawa Tengah, menjalani rutinitas uniknya bersama kucing liar.
Dengan sepeda motor dinasnya, ia tidak hanya menunaikan tugas sebagai anggota kepolisian, tetapi juga menjalankan misi pribadi yang telah ia lakoni selama puluhan tahun yaitu memberi makan kucing-kucing liar.
Aktivitas ini menjadi bagian dari kesehariannya selama lebih dari 25 tahun, dengan intensitas meningkat dalam satu dekade terakhir sejak ia bertugas di Bhabinkamtibmas.
Perjalanan Sehari-hari untuk Kucing Jalanan
Setiap hari, Sunardi mengunjungi setidaknya 10 titik di sekitar Salatiga. Tempat-tempat itu meliputi Mapolres Salatiga, Mapolsek Sidomukti, kantor Kecamatan Sidomukti, kantor Kelurahan Dukuh, hingga area perumahan, sekolah, dan kafe.
Ia membawa pakan kucing dalam kemasan 800 gram yang disimpan dalam boks sepeda motor dinasnya, lengkap dengan piring plastik sebagai wadah makanan.
“Kucing-kucing itu sampai hafal dengan suara motor saya. Begitu mendengar, mereka langsung berkumpul,” ungkap Sunardi dilansir dari regional.kompas.com.
Bahkan, saat Sunardi sedang bertugas di lokasi tertentu, kucing-kucing sering kali mengendus motor dinasnya, seolah mengerti bahwa ia adalah sumber kebaikan bagi mereka.
Kisah yang Menginspirasi
Kebiasaan mulia ini bermula dari sebuah momen yang membekas di hati Sunardi.
“Dulu, saya melihat seekor kucing kelaparan di warung. Tidak ada yang peduli, lalu saya membelikannya kepala ayam. Kucing itu makan dengan lahap, dan sejak saat itu saya merasa trenyuh,” ceritanya.
Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan orang tua dan gurunya menjadi landasan utama dalam tindakannya. Ia percaya bahwa berbuat baik bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada binatang.
“Jika ada hewan yang terluka atau terkena bencana, saya rawat sampai mereka kembali sehat. Semoga kebaikan kecil ini menjadi berkah dan penolong bagi kita kelak,” tuturnya penuh harap.
Pengeluaran dan Dedikasi
Untuk memenuhi kebutuhan kucing-kucing jalanan, Sunardi menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan dari uang pribadinya. Di rumahnya, ia juga merawat 25 ekor kucing, termasuk yang sakit, cacat, atau dibuang di depan rumahnya.
“Ada kucing yang matanya tinggal satu, tapi saya tetap merawatnya. Sekarang ia sudah gemuk,” ujarnya dengan senyum bangga.
Meski pengeluaran cukup besar, Sunardi tidak pernah merasa terbebani. Ia justru menemukan banyak keberkahan dari tindakan ini.
“Pernah suatu kali kucing mengotori sajadah dan tempat tidur saya. Besoknya, rezeki datang tak terduga. Saya percaya kebaikan selalu kembali kepada kita,” kata Sunardi sambil bercerita bahwa salah satu kucingnya selalu menemaninya saat shalat.
Komitmen untuk Terus Berbuat Baik
Sunardi bertekad untuk terus melanjutkan kebiasaan ini.
“Saya tidak akan berhenti memberi makan kucing-kucing liar. Kita harus saling menjaga sebagai makhluk ciptaan Allah,” tegasnya. Baginya, perhatian terhadap makhluk lain, sekecil apa pun, adalah bentuk ibadah dan manifestasi kasih sayang.
Kisah Aiptu Sunardi ini menjadi contoh nyata kebaikan bisa diwujudkan dalam tindakan sederhana namun berdampak besar, bahkan bagi makhluk yang sering kali terlupakan, seperti kucing liar.