Cerita Rakyat

Legenda Putri Lumimuut, Kisah Asal-usul Etnis Minahasa

Wilayah yang berada di bagian utara Pulau Sulawesi yakni Minahasa, memiliki sejarah yang masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan terkait asal-usul masyarakatnya. Beberapa ahli menyebutkan, orang Minahasa berasal dari ras Mongolscheplooi, yang memiliki kedekatan dengan Suku Ainu, Jepang dan Mongol atau kelompok etnis lainnya. Salah satu legenda yang memperkaya pemahaman ini adalah Legenda Putri Lumimuut, […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Putri Lumimuut, Kisah Asal-usul Etnis Minahasa
Patung Toar dan Lumimuut yang ada di Bukit Kasih, Minahasa. Foto: Wikipedia/Sakurai Midori
Diterbitkan

Wilayah yang berada di bagian utara Pulau Sulawesi yakni Minahasa, memiliki sejarah yang masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan terkait asal-usul masyarakatnya.

Beberapa ahli menyebutkan, orang Minahasa berasal dari ras Mongolscheplooi, yang memiliki kedekatan dengan Suku Ainu, Jepang dan Mongol atau kelompok etnis lainnya.

Salah satu legenda yang memperkaya pemahaman ini adalah Legenda Putri Lumimuut, yang mengisahkan hubungan budaya Minahasa dengan tradisi Asia Timur.

Kisah Putri Rumimoto

Melansir dari budi.kemdikbud.go.id, kisah dimulai di Jepang, di mana seorang kaisar yang terkenal kejam memerintah dengan tangan besi. Ketika salah satu penari dari kelompok yang seharusnya tampil tidak hadir, kaisar marah besar. 

Ternyata, penari itu adalah putri dari kaisar sebelumnya, Rumimoto, yang merasa lelah setelah penampilan sebelumnya. Meskipun ia meminta izin untuk beristirahat, kaisar memutuskan untuk memberinya hukuman berat.

Namun, para hakim istana berhasil membujuk sang kaisar untuk mengganti hukuman mati itu dengan hukuman yang lebih ringan yaitu menghanyutkanya ke lautan dengan sebuah perahu.

Terdampar di Tanah Manandau  

Perjalanan Rumimoto di lautan begitu berat dan panjang, namun ia akhirnya terdampar di sebuah pantai indah bernama Manandau. Di sana, ia bertahan hidup dengan mencari buah-buahan dan belajar berburu. 

Setelah itu sang putri jatuh sakit. Beruntung ia diteukan dan kemudian dirawat seorang wanita tua bernama Karema, yang membawanya kembali pulih dan sehat.

Karema, yang memiliki kekuatan sakti, percaya bahwa Rumimoto bukanlah gadis biasa. Setelah sembuh, Rumimoto mengganti namanya menjadi Lumimuut untuk meninggalkan masa lalu yang penuh penderitaan.

Anak Titisan Dewa

Lumimuut kemudian dididik Karema dan diperkenalkan dengan pengetahuan lokal agar dapat diterima masyarakat sekitar. Di wilayah itu, dua tokoh sakti, Opo Sumandep dan Opo Sumilang.

Mereka meyakini bahwa Lumimuut diutus para dewa untuk melanjutkan keturunan di tanah Manandau. Keduanya pun berdoa agar Lumimuut daapat memiliki seorang anak laki-laki, yang kelak menjadi pemimpin baru.

Setelah menjalani upacara yang dipimpin Opo Barat, Lumimuut melahirkan seorang anak laki-laki bernama Toar. Nama Toar memiliki makna yang mendalam, menggambarkan bahwa ia lahir sebagai titisan dewa.

Toar tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dibesarkan Lumimuut dan Karema. Namun Toar hanya dikenal Karema sebagai ibu kandungnya.

Manandau: Tanah Toar dan Lumimuut 

Suatu hari, Karema meminta Lumimuut dan Toar untuk mengelilingi Gunung Wulur Maatus, sambil membawa tongkat pemberian dari Karema. Bila mereka bertemu orang yang membawa tongkat berbeda, berarti itu adalah pasangannya. 

Mereka kemudian menemukan bahwa tongkat itu memiliki panjang yang berbeda, sebuah tanda bahwa mereka akan menikah. Pernikahan mereka akhirnya dilaksanakan dan disaksikan Opo Sumandep dan Opo Sumilang. 

Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan, yang menjadi cikal bakal Etnis Minahasa.

Tanah tempat mereka tinggal dikenal dengan nama Manandau, yang kini lebih dikenal sebagai Manado. Dari keluarga Toar dan Lumimuut, lahirlah generasi yang membentuk masyarakat Minahasa, yang hingga kini menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Sulawesi Utara. (Dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat03 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan