Wayang Beber merupakan wayang tertua di Indonesia yang keberadaannya hampir terlupakan di Indonesia. Mungkin masyarakat Indonesia lebih mengenal wayang kulit. Padahal wayang kulit sendiri merupakan bentuk modifikasi dari wayang Beber.
Konon Wayang Beber sudah muncul dan berkembang sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Kitab Sastro Mirudo, Wayang Beber dibuat tahun 1283 oleh Condro Sengkolo, Gunaning Bujonggo Nembah ing Dewo. Kemudian, pembuatan wayang dilanjutkan oleh Putra Prabu Bhre Wijaya, Raden Sungging Prabangkara.
Ketika Islam masuk, pada masa kejayaan Kesultanan Demak, wayang beber berubah. Wayang beber dimodifikasi menjadi ilustrasi manusia dan hewan yang dibuat miring. Pada perkembangannya, para wali membuat wayang purwa yang terbuat dari kulit seperti yang dikenal hingga sekarang.
Modifikasi ini disebabkan oleh ketidaksesuaian dengan hukum fikih, yaitu penggunaan lukisan karakter yang sama dengan bentuk asli. Selanjutnya, wayang kulit ini yang digunakan para wali untuk mendakwahkan Islam.
Pada 1690 M, Wayang beber diciptakan lagi ketika Kerajaan Kartasura dipimpin oleh Mangkurat II. Lakon yang dimainkan adalah Joko Kembang Kuning. Pada masa kepemimpinan Raja Pakubuwana II di Kartasura, Wayang beber mulai terpecah setelah peristiwa pemberontakan Cina.
Keluarga kerajaan mengungsi dengan membawa serta seluruh perlengkapan wayang beber, sebagian ke Gunung kidul, Wonosari, sebagian lain ke Karangtalun, dan Pacitan. Wayang Beber tertua berada di Desa Karang Talun, Kelurahan Kedompol, Kecamatan Donorojo, Pacitan, Jawa Timur, yang disimpan dan dilestarikan oleh Mbah Mardi.
Penamaan wayang Beber sendiri berasal dari cara memainkannya. Pertunjukan wayang ini dilakukan dengan membeberkan atau membentangkan layar atau kertas yang berupa gambar. Wayang ini dimainkan dengan cara menguraikan cerita lakon melalui gambar yang tertera pada kertas atau layar tersebut.
Wayang Beber Kontemporer
Seiring waktu, perkembangan zaman menuntut wayang beber untuk turut menyesuaikan. Kemudian, muncul wayang beber kontemporer. Bentuk karakter wayang berubah dan semakin bervariasi. Cerita wayang juga mengalami perubahan. Wayang klasik biasa menyajikan cerita Mahabharata dan Ramayana. Sekarang wayang kontemporer lebih menonjolkan cerita tentang kehidupan masyarakat saat ini.
Dalam pertunjukannya wayang kontemporer berperan penting dalam menanggapi dan mengkritisi kondisi masyarakat saat ini dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, pembangunan dan sosial budaya.
Sebut saja Dani Iswardana, pencetus wayang beber kontemporer pada 2005. Pementasan pertama kalinya diselenggarakan di Balai Soedjatmoko, Solo. Wayang beber gagasan Dani lebih mengarah kepada cerita dengan muatan kritik sosial.
Berbeda lagi dengan wayang beber kontemporer yang dilestarikan oleh komunitas Wayang Beber Metropolitan, Jakarta. Lakon yang dibawakan merupakan kisah kehidupan di Jakarta lengkap dengan isu-isu perkotaan dan solusi yang diwacanakan.
Wayang Beber Metropolitan bukan wayang yang bisa berdiri sendiri dengan tema dan bentuk yang sudah ada. Namun, terbentuk dari berbagai unsur seni dan unsur pementasan. Mereka juga menggunakan berbagai fenomena yang ada pada masyarakat modern untuk menentukan bentuk wayang yang akan ditampilkan dalam sebuah pertunjukan.
Bentuk Wayang Beber Metropolitan secara fisik banyak berubah bentuk dari tradisi. Meski banyak perubahan, ciri khas wayang beber masih terlihat jelas. Yakni, adanya gambar yang berisi cerita wayang dan berbentuk gulungan gambar.
Begitu juga dalam pertunjukan, gulungan gambar tersebut dipasangkan pada tongkat seligi. Gulungan itu ditancapkan pada kotak ampok. Bila akan diceritakan, gulungan gambar diperlihatkan dan diputar sesuai dengan gambar yang akan diceritakan.
Teknik pewarnaan masih menggunakan teknik sungging yang merupakan teknik baku dalam pembuatan wayang beber klasik. Berbagai karakter atau tokoh-tokoh dalam ramadhan dibuat dengan mewujudkan sosok yang bahkan belum ada klasik. (Anisa Kurniawati-Sumber: Indonesia.go.id dan lainnya)