Budaya

Makna di Balik Ragam Warna Manik-Manik Suku Dayak

Budaya lokal Indonesia kini semakin dihargai, termasuk dalam dunia fesyen. Salah satu contohnya adalah penggunaan aksesori tradisional seperti manik-manik yang sering ditambahkan sebagai elemen unik pada barang fesyen modern. Melansir dari liputan6.com, salah satu kerajinan khas yang mencuri perhatian adalah manik-manik dari Suku Dayak, yang memiliki keindahan visual sekaligus makna magis yang mendalam. Sekilas tentang […]

Oleh Achmad Aristyan

Makna di Balik Ragam Warna Manik-Manik Suku Dayak
Seorang warga suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur sedang mejual Hasil kerajinan tangan pernak-pernik khas, termasuk manik-manik. Warna khas Dayak pada pernak-pernik adalah kuning, merah dan hitam. Foto: Wikimedia Commons/ Widi.kusumawardhani
Diterbitkan

Budaya lokal Indonesia kini semakin dihargai, termasuk dalam dunia fesyen. Salah satu contohnya adalah penggunaan aksesori tradisional seperti manik-manik yang sering ditambahkan sebagai elemen unik pada barang fesyen modern. 

Melansir dari liputan6.com, salah satu kerajinan khas yang mencuri perhatian adalah manik-manik dari Suku Dayak, yang memiliki keindahan visual sekaligus makna magis yang mendalam.  

Sekilas tentang Suku Dayak  

Suku Dayak merupakan kelompok etnis yang tinggal di pulau Kalimantan, Indonesia. Dengan populasi besar, suku ini tersebar di Kalimantan Selatan, Barat, Tengah, Timur, dan Utara. 

Suku Dayak terbagi menjadi enam rumpun utama, yaitu Rumpun Klemantan, Murut, Iban, Apokayan, Ot Danum-Ngaju, dan Punan. Tiap rumpun memiliki sub-etnis dengan ragam budaya unik, termasuk seni kerajinan manik-manik.  

Salah satu suku yang dikenal dengan kerajinan manik-maniknya adalah Suku Dayak Kenyah Kalimantan Timur. Mereka menggunakan bahan alami seperti batu, kayu, tulang, kaca, kulit tiram, dan batu akik untuk menghasilkan kerajinan berwarna-warni. 

Bahan-bahan ini diolah melalui teknik pengasahan dan pengeboran untuk menciptakan butiran manik-manik yang indah.  

Baca juga: Melihat Kekayaan Budaya Dayak di Desa Pampang Samarinda

Makna Magis di Balik Manik-Manik  

Dilansir dari travel.kompas.com, manik-manik telah menjadi bagian integral dari budaya Suku Dayak sejak zaman dahulu.

Butiran ini untuk menghias berbagai aksesori, seperti kalung, pakaian adat, penutup kepala, tas gendong, hingga gendongan anak. 

Pola dan bentuk manik-manik tidak dibuat sembarangan; sering kali mencerminkan nilai-nilai sakral atau berkah bagi pemakainya.

Beberapa pola manik-manik yang populer di kalangan Suku Dayak memiliki makna mendalam, seperti burung enggang yang melambangkan roh leluhur dan kehadiran ilahi.

Sementara motif bunga terong sebagai simbol kedudukan tinggi dalam hierarki sosial, serta motif kamang yang menggambarkan elemen sakral dari legenda tradisional Dayak. 

Selain pola, warna manik-manik juga sarat dengan filosofi.

Sebut saja warna merah yang melambangkan semangat hidup, kuning sebagai simbol keagungan dan keramat, hijau yang merepresentasikan kelengkapan serta intisari alam semesta, putih yang mencerminkan kesucian iman, dan biru yang menggambarkan kekuatan abadi dari segala penjuru.  

Bahan pembuat manik-manik turut memberikan makna magis. Batu akik dipercaya dapat menyembuhkan penyakit dan meningkatkan hasil panen. 

Batu kecubung dianggap mampu menyembuhkan luka bakar serta menolak racun hewan berbisa. Beberapa manik-manik bahkan digunakan sebagai jimat penolak bala atau pelindung dari roh jahat.  

Warisan Budaya yang Mendunia  

Selain menjadi bagian penting dalam adat istiadat, manik-manik juga memiliki nilai ekonomi. Kerajinan ini dijual kepada masyarakat umum sebagai cendera mata khas Kalimantan. 

Dengan membeli dan mengenakannya, wisatawan turut berkontribusi dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Nusantara ke kancah internasional. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya26 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan