Budaya

Makna Keindahan Tari Pakarena dalam Budaya Sulawesi Selatan

Tarian tradisional khas Sulawesi Selatan yang sangat populer adalah Tari Pakarena. Tarian ini menggambarkan perempuan yang lembut, sopan, setia, dan menghargai laki-laki. Gerakannya yang dinamis dan menghentak namun tetap lembut, membuat tarian ini indah dilihat. Terdapat beberapa versi mengenai sejarah Tarian ini. Salah satu versinya mengatakan bahwa tarian ini pertama kali ditampilkan pada awal abad […]

Oleh Anisa Kurniawati

Makna Keindahan Tari Pakarena dalam Budaya Sulawesi Selatan
Dahulu Tari Pakarena dikenal dengan sebutan Sere Jaga. Foto: Indonesia kaya
Diterbitkan

Tarian tradisional khas Sulawesi Selatan yang sangat populer adalah Tari Pakarena. Tarian ini menggambarkan perempuan yang lembut, sopan, setia, dan menghargai laki-laki.

Gerakannya yang dinamis dan menghentak namun tetap lembut, membuat tarian ini indah dilihat. 

Terdapat beberapa versi mengenai sejarah Tarian ini. Salah satu versinya mengatakan bahwa tarian ini pertama kali ditampilkan pada awal abad ke 17. Asal mula tarian ini dikaitkan dengan kemunculan Tumanurung. 

Sarana Ritual

Konon, Tumanurung adalah bidadari yang turun dari langit untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk ini kemudian dikenal sebagai Tari Pakarena.

Menurut versi lain, Tari Pakarena mulai ada di Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI, Sultan Hasanuddin. Dahulu Tari Pakarena dikenal dengan sebutan Sere Jaga.

Awalnya tarian ini merupakan sarana upacara ritual suku di Makassar. Sere Jaga memiliki makna semalaman suntuk. Ritual ini dianggap keramat.  Setelah agama Islam masuk, tarian ini berubah nama menjadi Pakarena. 

Penari Genap

Tari Pakarena umumnya dilakukan dalam tiga babak. Babakan itu terdiri dari pembuka, pengisi atau penghubung dan babak penutup.

Jumlah penarinya selalu genap, biasanya terdiri dari 4, 6, 8, 10 bahkan 12 penari. Namun jumlah penari itu tidak lagi menjadi pakem yang harus dilaksanakan. 

Tarian ini dipimpin seorang punggawa pakarena. Penari ini ditandai dengan selalu memukul genrang sepanjang pementasan. Iringannya sendiri menggunakan suara gendang atau gentang atau genrang.

Selain itu, terdapat alunan suara pui-pui, yaitu alat musik dari kayu jati. Musik yang dihasilkan memiliki ritme yang menghentak dan bersemangat.

Meski begitu gerakan tari pakarena tetap gemulai dan luwes. Hal itu sesuai dengan tari pakarena yang menggambarkan perempuan lembut, sopan, setia, dan selalu menghormati pria. 

Baju Bangsawan

Dilihat dari segi kostum, penari pakarena biasanya menggunakan baju bodo berwarna merah. Para penari dilengkapi dengan berbagai aksesori, seperti kalung, anting, kutu-kutu (hiasan kepala), kipas, sarung sutera dan lainnya. 

Dahulu, warna baju bodo merah hanya boleh dikenakan kaum bangsawan. Sedangkan untuk kalangan di luar istana mengenakan warna hijau. Tetapi kini, penari pakarena bebas menentukan warna baju bodo yang akan digunakan.

Tarian Pakarena masih bertahan sampai saat ini. Tarian ini berawal digunakan sebagai ritual, kemudian bentuk ungkapan rasa syukur, kini mulai berkembang menjadi tarian daerah dan hiburan.

Hingga saat ini, tari Pakarena masih sering dipertunjukkan pada acara festival atau acara kebudayaan lainnya. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya06 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati