Tradisi

Mengenal Mangupa Upa, Tradisi Doa dan Syukur Suku Batak

Tradisi Mangupa Upa, diartikan sebagai ungkapan doa diselingi nasehat dari para orang tua atau sesepuh dalam kehidupan mayarakat suku Batak, Sumatera Utara. Melalui tradisi Mangupa Upa, mendorong agar masyarakat Batak tetap dapat saling mengenal sanak saudara dan keluarga besarnya, meskipun telah berbeda generasi. Di tanah batak, ada dua ciri Mangupa Upa, yaitu Batak Toba dan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Mengenal Mangupa Upa, Tradisi Doa dan Syukur Suku Batak
Tradisi Mangupa Upa, dapat diimplementasikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur. Sumber foto: Pesona Indonesia
Diterbitkan

Tradisi Mangupa Upa, diartikan sebagai ungkapan doa diselingi nasehat dari para orang tua atau sesepuh dalam kehidupan mayarakat suku Batak, Sumatera Utara. 

Melalui tradisi Mangupa Upa, mendorong agar masyarakat Batak tetap dapat saling mengenal sanak saudara dan keluarga besarnya, meskipun telah berbeda generasi. Di tanah batak, ada dua ciri Mangupa Upa, yaitu Batak Toba dan Mandailing.

Inti kedua Mangupa Upa itu yaitu sebagai bentuk rasa syukur, doa, petuah orang tua dan sesepuh.

Digelar dalam berbagai Momentum

Tradisi ini juga dapat diimplementasikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur. Bisa juga sebagai permohonan kepada Maha Kuasa agar peristiwa buruk tidak terjadi.

Biasanya tradisi ini dilakukan pada saat pernikahan, kelahiran bayi, menempati rumah baru, pulang atau pergi dari kampung halaman dan lainnya. 

Meskipun begitu, Mangupa Upa dapat digelar bila ada yang perlu mengungkapkan perasaan bersyukur dan memberikan petuah bijaksana, maka Mangupa Upa dapat dilakukan.

Prosesi Mangupa Upa

Prosesi tradisi Mangupa Upa maka hampir selalu ditemukan sajian makanan.

Untuk Mangupa Upa Batak Toba saat prosesi pernikahan, sajian makanannya antara lain Arsik, ikan mas yang diolah dengan bumbu khas Batak.

Uniknya, orang-orang yang hadir dalam Mangupa Upa pernikahan, akan berkeliling dan menyentuh menu ikan mas arsik. Jika tidak kebagian menu sajian ikan mas arsik, maka cukup dengan menyentuh orang yang mengambil makanan itu.

Bagi masyarakat Batak Toba, ikan mas disimbolkan sebagai sebagai makna supaya pasangan pengantin menjadi keluarga bahagia, erus menyayangi dan memiliki anak banyak, baik dan cerdas.

Berbeda dengan Mangupa Upa untuk prosesi pernikahan masyarakat Mandailing. Biasanya sajian makanannya berupa sirih, beras, daun pisang sitabar, ikan, daging kambing, dan telur ayam.

Filosofi Sajian Makanan

Semua sajian menu tersebut memiliki makna masing-masing. Kapur, dianggap sebagai tanda ungkapan sukacita dan pustaka aksara, lalu beras sebagai simbol agar kedua pengantin dapat memilah jalan kebaikan dan buruk.

Sementara daun pisang sitabar adalah tanda pernikahan sekali saja. Ikan dimaknai supaya pengantin selalu seiringan, tanpa konflik. Untuk daging kambing menjadi simbol keperkasaan, telur ayam sebagai makna sumber kehidupan. 

Adanya garam dimaksudkan agar kedua mempelai mampu memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia. Semua menu makanan Mangupa Upa itu akan disuapkan kepada kedua mempelai.

Tradisi Mangupa-Upa tidak hanya sebagai ungkapan doa dan syukur, namun juga sebagai identitas bangsa yang mencerminkan kearifan lokal. Disamping itu, tradisi ini bermanfaat untuk mempererat hubungan dan memperkaya budaya Indonesia yang beragam. (Sumber: Indonesia.go.id)

TopikTradisi
Tradisi05 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati