Di Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, terdapat makam Ki Ageng Wonosobo yang menjadi salah satu destinasi ziarah bersejarah.
Tokoh ini dikenal sebagai pendiri Wonosobo sekaligus cucu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir.
Ia adalah putra Dewi Nawangsih yang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di wilayah ini.
Juru Kunci Makam Ki Ageng Wonosobo, Mbah Pono, menyebutkan bahwa makam ini tidak pernah sepi pengunjung, terutama menjelang Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.
“Ki Ageng Wonosobo adalah sosok yang dihormati sebagai pemimpin bijak. Banyak orang yang datang untuk berziarah dan mengenang perjuangannya,” ucap Mbah Pono.
Baca Juga: Desa Kalimendong, Dari Kisah Tuk Gondok hingga Juara Lingkungan
Selain makam Ki Ageng, kawasan ini menyimpan banyak peninggalan bersejarah, termasuk makam keluarga besar Ki Ageng Wonosobo seperti putranya, Ki Ageng Pandanaran, dan ibunya, Dewi Nawangsih.
Lokasi makam yang berada di atas bukit memberikan pemandangan asri desa dengan hamparan sawah yang menenangkan.
Kesucian Sendang Sampang
Tidak jauh dari makam, wisatawan dapat menemukan Sendang Sampang, salah satu dari tujuh mata air keramat di Wonosobo.
Mata air ini memiliki sejarah panjang, dipercaya ditemukan Adipati Sampang pada 1940-an.
Letaknya yang berada di sisi sungai dan dikelilingi bentangan sawah menjadikan suasana di Sendang Sampang begitu menenangkan.
“Sendang Sampang dulu menjadi sumber utama air masyarakat Plobangan.
Sekarang fungsinya lebih kepada wisata religi. Banyak peziarah yang membersihkan diri di sini sebelum ke makam,” jelas Mbah Pono.
Untuk mencapai Sendang Sampang, pengunjung harus menuruni sejumlah anak tangga.
Uniknya, suara gemericik air sungai yang mengalir di dekatnya menciptakan suasana damai, membuat tempat ini cocok untuk meditasi atau refleksi diri.

Ritual Air Suci untuk Hari Jadi Wonosobo
Setiap tahun, menjelang Hari Jadi Kabupaten Wonosobo, digelar ritual tradisional yang melibatkan pengambilan air dari tujuh mata air keramat, termasuk Sendang Sampang.
Ritual ini bertujuan untuk memohon keberkahan, keselamatan, serta kelestarian alam.
Ketujuh mata air ini dipilih karena memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi, tersebar di beberapa wilayah Wonosobo.
Baca Juga: Wisata Rekreasi dan Edukasi Perkebunan Teh di Tanjungsari Land
Air dari masing-masing sendang diambil para tokoh masyarakat, pemuka agama, dan perangkat desa dengan menggunakan kendi khusus.
Setelah diambil, air ini dikumpulkan dan disakralkan untuk prosesi utama pada puncak perayaan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.
Menurut Mbah Pono, Juru Kunci Makam Ki Ageng Wonosobo, ritual ini juga melambangkan persatuan masyarakat Wonosobo.
“Air dari tujuh sumber ini menggambarkan keberagaman yang bersatu, melahirkan harmoni untuk kesejahteraan bersama,” ungkapnya.
Setelah prosesi pengambilan air, biasanya diiringi doa bersama yang dipimpin tokoh adat. Momen ini menjadi bagian penting dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo, menggambarkan penghormatan masyarakat terhadap alam sekaligus warisan leluhur.
Perpaduan Wisata Sejarah, Religi, dan Alam
Dengan keberadaan Makam Ki Ageng Wonosobo dan Sendang Sampang, Desa Plobangan menawarkan perpaduan wisata sejarah, religi, dan keindahan alam.
Lokasi ini menjadi tempat yang ideal bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan sekaligus memahami lebih dalam sejarah Wonosobo.
Bagi yang berkunjung ke tempat ini, jangan lupa mematuhi aturan setempat untuk menjaga kesucian lokasi.
Baca Juga: Jejak Sejarah Ki Ageng Wonosobo di Desa Plobangan Selomerto
“Kami berharap pengunjung selalu menjaga kebersihan dan kesopanan saat berada di makam dan sendang,” tutup Mbah Pono.
Dengan panorama yang asri dan sejarah yang kaya, Plobangan tidak hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga pengingat akan warisan budaya dan spiritual yang berharga di Kabupaten Wonosobo.