By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Melestarikan Kesenian Randai, Pentas Teater Khas Minangkabau
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Melestarikan Kesenian Randai, Pentas Teater Khas Minangkabau
Warisan Budaya

Melestarikan Kesenian Randai, Pentas Teater Khas Minangkabau

Anisa Kurniawati
Last updated: 13/02/2025 16:29
Anisa Kurniawati
Share
Dalam pentas Randai, para pemain terkadang menggunakan dialog dalam bahasa Minang yang dikemas dalam bentuk prosa dan pantun. Foto: wikimedia commons
SHARE

Randai, salah satu kesenian tradisional khas Minangkabau yang memadukan unsur seni drama, tari, musik, dan suara. Dimainkan secara berkelompok, kesenian ini menyampaikan cerita melalui nyanyian secara bergantian. 

Istilah Randai berasal dari kata marandai atau malinka yang berarti membentuk lingkaran. Selain itu, Randai juga memiliki makna lain dari kata randai, yaitu ber(h)andai.

Arti kata ini berarti bertutur menggunakan kalimat kiasan atau kata-kata samar.

Sejarah dan Asal-Usul Randai

Randai diyakini berasal dari masyarakat Periangan, Padang Panjang, Sumatera Barat. Konon, kesenian ini pertama kali dimainkan ketika masyarakat berhasil menangkap seekor rusa.

Seiring waktu, Randai berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Mereka menjadikan kesenian ini sebagai sarana komunikasi serta hiburan rakyat. Pada masa penjajahan Jepang, kesenian ini sempat mengalami kemunduran, namun kembali bangkit setelah Indonesia merdeka.

Randai tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki fungsi sebagai media penyampai pesan moral dan sosial. Cerita yang dibawakan sering kali mengandung nilai-nilai kehidupan seperti keberanian, kejujuran, persaudaraan, dan keadilan. 

Dalam pertunjukan Randai, para pemain terkadang menggunakan dialog dalam bahasa Minang yang dikemas dalam bentuk prosa dan pantun.

Uniknya, perwatakan tokoh dalam Randai tidak diungkapkan melalui riasan atau kostum, melainkan melalui gurindam atau dendangan yang mereka bawakan. 

Pertunjukan Randai

Pertunjukan Randai biasanya diadakan di alam terbuka tanpa panggung, sehingga tidak ada batas antara pemain dan penonton. Cerita yang dimainkan dalam Randai berasal dari kaba, yaitu cerita rakyat Minangkabau.

Temanya beragam, mulai dari budi pekerti, susila, dan pendidikan. Beberapa cerita yang sering dibawakan antara lain Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, Sabai Nan Aluih dan sebagainya. Kesenian ini dimainkan secara kelompok antara 14 hingga 25 orang. 

Pemeran utama dalam Randai berkisar antara satu hingga tiga orang, tergantung pada cerita yang dibawakan. Dalam setiap pertunjukan, pemeran utama akan dikelilingi anggota Randai lainnya. Pertunjukkannya dipimpin tukang goreh.

Selain itu, ada pula janang yang bertugas memberikan aba-aba dalam permainan.

Dalam pertunjukannya, randai juga mengadaptasi seni bela diri tradisional Minangkabau, yakni silek. Iringannya menggunakan talempong (alat musik perkusi) dan saluang (seruling bambu). 

Hingga saat ini Randai masih dipertunjukkan meski mengalami kemunduran. Menurunnya minat generasi muda serta kurangnya wadah dan insentif pemberdayaan dinilai sebagai salah satu faktor penyebab. (Dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Sejarah Kerupuk Kulit atau Rambak, Kasta Tertinggi Kerupuk

Simbol Kreativitas Kuliner Khas Indonesia Dalam Sepotong Gethuk

Kain Kebat, Mahakarya Tradisional Suku Dayak Iban Kalimantan

Tari Salai Jin, Kesenian Tradisional Ternate yang Sarat Nilai Magis 

Kopi Bulan Madu Bondowoso, Rahasia Penambah Stamina Alami

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Istana Basa Pagaruyung, Wisata Ikonik Budaya Minangkabau 
Next Article Indonesia Ajukan Jadi Tuan Rumah AI Global South Forum
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?