Tari Mung Dhe dari Nganjuk, diciptakan sisa-sisa Prajurit Diponegoro. Tarian ini terlahir karena pasukan Diponegoro gagal melawan Belanda. Gerak-geraknya sarat dengan nilai perjuangan dan bertemakan kepahlawanan.
Sejarah panjang yang dimiliki Nganjuk berdampak pula pada hasil budaya yang dimiliki. Salah satu kesenian yang sarat akan nilai sejarah adalah Tari Mung Dhe. Kelahiran Kesenian ini tidak dapat lepas dari terjadinya Perang Diponegoro 1825 – 1830 atau sekitar abad ke-19.
Perjuangan melawan bangsa kolonial Belanda di Yogyakarta pada waktu itu mendapat kegagalan. Kalahnya pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Sentot Prawirodirjo mengakibatkan pengikutnya tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sisa prajurit tersebut berupaya menyusun kekuatan dengan cara berpura-pura menari dan mengamen berkeliling. Cara seperti ini bertujuan untuk mengelabui pasukan Belanda yang selalu mengikuti dan mengintai sisa-sisa prajurit. Maka dari itu, gerakan dalam tarian ini menggambarkan gerakan perjuangan dan latihan baris-berbaris dan adegan perang.
Baca juga: Seni Tayub Nganjuk, Tarian Pergaulan Yang Kini Mengikuti Zaman
Pembaruan Tarian
Tari Mung Dhe sebelum tahun 1982 tidak begitu berkembang pesat. Tarian ini hanya ditarikan secara keliling (mengamen) dari suatu tempat ke tempat lainnya. Tokoh seniman pertama kali yang menekuni kesenian ini di Desa Termas adalah Kasan Tarwi, Suto, Tomorejo, Sai‟un, Haji Ridwan, Haji Abdulgani, Haji Tolib, Mbah Sudjak dan yang terakhir Mbah Soejoed.
Pada masa-masa awal kemerdekaan, tari Mung Dhe masih eksis namun kembali menghilang. Menjelang tahun 1982, pada masa kepemimpinan Mbah Soejoed gamelan atau instrumen Tari Mung Dhe dijual kepada Sastroredjo seniman dari desa Garu.
Sastroredjo kemudian tertarik untuk melestarikan tarian Mung Dhe. Dia kembali menghidupkan kembali tarian ini dengan membina anak-anak dan guru SDN Garu II. Sejak saat itu, tari Mung Dhe kembali hidup walau dalam lingkup masyarakat Garu.
Kesenian ini sempat kembali tenggelam. Kemudian, pada tahun 1985 atas prakarsa bupati Nganjuk dikumpulkan para tokoh seni tari dan seniman dari Nganjuk dan Yogyakarta. Tujuannya untuk melakukan pembaharuan Tari Mung Dhe tanpa mengurangi keasliannya.
Tari ini mengalami pasang surut, tarian ini mulai rutin muncul di acara- acara besar seperti bersih desa dan penyambutan tamu kehormatan. Setelah tahun 1994-2000, tarian ini tidak mengalami perkembangan yang pesat.
Tarian ini masih banyak dipentaskan di berbagai acara-acara rutin kabupaten Nganjuk. Misalkan seperti dimasukkan dalam acara rutin Wisuda Waranggono, Siraman Sedudo dan Pawai Alegoris atau Boyongan yang diadakan setiap setahun sekali pada bulan Sura.
Baca juga: Tari Jepen, Tarian Hiburan Khas Kutai dalam Pengobatan Raja
Wakili Semangat Masyarakat
Pemain tari tradisional ini secara keseluruhan berjumlah 12 orang. Dari keseluruhan penari, masing-masing berperan sebagai penthul, tembem, 2 prajurit, 2 pemegang bendera dan 6 pemusik.
Alat pengiring dalam tari Mung Dhe terdiri dari enam alat musik yaitu penithir, bendhe, dherodog, kecer, dhemung dan ketipung. Ragam geraknya menggambarkan perjuangan yang terdiri dari 8 gerakan yaitu Kirapan, Jalan berpedang, maju – mundur, Gontokan, Perangan Lombo Rangkep, Perangan rangkep, Perang Berhadap, Srampangan, dan Tangkisan.
Tari Mung Dhe kini bukan hanya sekedar tari biasa, namun mewakili semangat masyarakat Nganjuk. Disamping itu juga sebagai salah satu sarana pengingat masyarakat Nganjuk terhadap sejarah.
Saat ini, tari Mung Dhe lebih banyak ditarikan secara massal karena lebih menarik perhatian dan terkesan mewah. Tarian ini tidak hanya dilihat keindahannya saja, namun juga memiliki makna dan nilai yang mendalam. (Dari berbagai sumber)