Budaya

Naniura, Sashimi Ala Batak yang Jadi Hidangan Para Raja

Indonesia kaya akan beragam kuliner tradisional, dan salah satu yang sangat khas berasal dari suku Batak di Sumatera Utara. Naniura, yang sering disebut sebagai “sashimi ala Batak,” merupakan hidangan ikan mentah yang diolah dengan cara unik dan menjadi salah satu sajian istimewa di kalangan masyarakat Batak. Asal Usul Naniura Secara tradisional, naniura adalah ikan yang […]

Oleh Achmad Aristyan

Naniura, Sashimi Ala Batak yang Jadi Hidangan Para Raja
Naniura, hidangan ikan mentah khas Batak. Foto: indonesia.go.id
Diterbitkan

Indonesia kaya akan beragam kuliner tradisional, dan salah satu yang sangat khas berasal dari suku Batak di Sumatera Utara. Naniura, yang sering disebut sebagai “sashimi ala Batak,” merupakan hidangan ikan mentah yang diolah dengan cara unik dan menjadi salah satu sajian istimewa di kalangan masyarakat Batak. 

Asal Usul Naniura

Secara tradisional, naniura adalah ikan yang tidak dimasak, tetapi direndam dalam air jeruk jungga. Ikan mas adalah bahan utama dalam hidangan ini, selain berbahan ikan nila berukuran kecil. 

Marinasi dengan jeruk jungga ini membuat ikan menjadi matang secara perlahan, menghilangkan bau amis, serta memberikan rasa segar yang khas. Sebagai tambahan, bumbu-bumbu tradisional seperti andaliman (merica Batak), kecombrang, bawang merah, dan cabai merah digunakan untuk memperkaya cita rasa, memberikan rasa gurih, pedas, dan asam.

Melansir dari indonesiakaya.com, naniura berarti ikan yang tidak dimasak dalam bahasa Batak. Namun, meski tidak dimasak dengan cara tradisional, proses persiapannya membutuhkan waktu cukup lama, antara 4 hingga 6 jam, karena ikan harus direndam hingga meresap dengan sempurna.

Baca juga:Kapal Pinisi, Daya Tarik Wisata Warisan Maritim Indonesia

Bumbu-bumbu Khas 

Salah satu bahan penting dalam pembuatan naniura adalah andaliman, sejenis merica khas Batak yang memberikan rasa pedas dan aroma khas. Selain andaliman, jeruk jungga berperan penting untuk menghilangkan bau amis pada ikan serta memberi rasa asam yang segar pada hidangan ini. 

Kecombrang, atau rias, juga digunakan dalam pembuatan naniura. Kecombrang memiliki aroma yang sangat harum, yang tidak hanya memperkaya rasa tetapi juga mengurangi bau amis dari ikan.

Bumbu-bumbu lain seperti kunyit, kemiri, jahe, dan lengkuas turut menyumbangkan rasa dan aroma yang membangkitkan selera makan. Keistimewaan dari naniura terletak pada kesederhanaan bahan dan cara memasaknya yang alami, tetapi menghasilkan cita rasa yang khas.

Baca juga: Huta Siallagan, Pesona Budaya Batak Di Tepi Danau Toba

Budaya Batak

Dahulu Naniura kerap disajikan dalam acara-acara adat, terutama saat perayaan besar atau sebagai persembahan kepada raja. Hidangan ini tidak bisa sembarangan dibuat, hanya orang-orang tertentu yang memiliki keahlian dalam menyiapkannya. 

Meski demikian, kini naniura sudah menjadi sajian yang bisa dinikmati siapa saja, baik di rumah makan khas Batak atau sebagai hidangan rumahan yang hangat di berbagai keluarga Batak. Selain cita rasa yang unik, naniura juga memiliki makna budaya yang mendalam. 

Dalam lagu daerah Batak yang berjudul “Tabo Do Dekke Naniura” (Ikan yang Diasami Itu Rasanya Enak), kelezatan naniura menjadi simbol kebanggaan kuliner Batak yang diwariskan turun-temurun. Lagu ini mencerminkan betapa pentingnya hidangan ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya08 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan