By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Ritual Nyadran Soropadan: Hormati Leluhur dengan Cara Berbeda
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Tradisi > Ritual Nyadran Soropadan: Hormati Leluhur dengan Cara Berbeda
Tradisi

Ritual Nyadran Soropadan: Hormati Leluhur dengan Cara Berbeda

Ridwan
Last updated: 06/10/2024 03:56
Ridwan
Share
3 Min Read
Foto: mediacenter.temanggungkab.go.id
SHARE

Menjelang bulan suci Ramadan, hampir semua desa di Kabupaten Temanggung melaksanakan tradisi sadranan, termasuk warga Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat. Mereka mengadakan tradisi nyadran di pasarean Suroloyo, yang terletak di puncak Gunung Kekep, Dusun Kupen, Desa Kupen. 

Nyadran merupakan tradisi yang tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga sosial. Warga Soropadan mempercayai bahwa ritual ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sekaligus sarana untuk mempererat hubungan antarwarga. Hal ini menjadi penting terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari kampung halaman.

Tradisi ini juga berfungsi sebagai pengingat sejarah dan perjalanan leluhur mereka, khususnya Mbah Suropodo yang memiliki peranan penting dalam pembukaan lahan di Desa Soropadan.

Salah satu hal yang membedakan tradisi ini adalah penggunaan keranjang bambu untuk membawa makanan atau sesaji. Di dalam nyadran kali ini, tidak ada kebiasaan ‘kembul bujono’ atau makan bersama.

Tradisi nyadran di pasarean Suroloyo dimulai dengan arak-arakan warga Soropadan yang menaiki Gunung Kekep menuju kompleks Makam Suroloyo (Sepujud). Iringan rebana mengisi suasana, sementara warga mengenakan pakaian beskap saat menaiki anak tangga Gunung Kekep.

Pemilihan lokasi ini sangat bermakna, mengingat Pasarean Suroloyo merupakan makam Mbah Suropodo, sosok yang dianggap sebagai pepunden Desa Soropadan yang membuka lahan di daerah tersebut. Oleh karena itu, lokasi ini memiliki nilai historis yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat setempat.

Dalam tradisi nyadran ini, alih-alih menggunakan tenong atau tampah untuk membawa makanan, warga memilih keranjang bambu. 

Makanan yang dibawa dalam keranjang bambu biasanya terdiri dari aneka makanan tradisional yang telah disiapkan oleh masyarakat setempat. Ini termasuk kue-kue, buah-buahan, dan makanan khas lainnya yang sering disajikan dalam acara-acara adat.

Ketua Panitia Sadranan, Agus Sarwono, menjelaskan bahwa sadranan di Desa Soropadan dilaksanakan setiap Jumat Pahing di bulan Sya’ban. Areal pasarean dipilih karena merupakan makam Pangeran Pujud dan beberapa pengikut Pangeran Diponegoro yang menjadi cikal bakal Desa Soropadan.

Agus menambahkan bahwa para pepunden di pemakaman ini memiliki keturunan yang terus ada hingga kini. Beberapa di antara mereka bahkan menjabat sebagai orang-orang penting. Ia juga menjelaskan bahwa dalam tradisi nyadranan di sini, makanan yang dibawa tidak dimakan bersama, karena lokasi ini jauh dari sumber air. Makanan yang dibawa kemudian dibagikan kepada peserta.

Salah satu keturunan trah dari Yogyakarta, Hastari, mengungkapkan bahwa ia selalu mengikuti ritual nyadranan. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya unik, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat jasa para leluhur serta sebagai sarana untuk menjaga kerukunan antarwarga.

Ia menekankan pentingnya nguri-uri budaya ini, yang juga bertujuan mempererat hubungan antarwarga, terutama bagi keturunan yang tersebar di luar kota maupun luar negeri.(Achmad Aristyan- Sumber: mediacenter.temanggungkab.go.id)

You Might Also Like

Festival Lopis Raksasa, Tradisi Syawalan di Pekalongan

Ondel-Ondel, Boneka Raksasa Ikon Jakarta

Tradisi Unik Perkawinan Dayak Meratus Masih Lestari

Tradisi Bobotan, Upacara Tradisional Kabupaten Indramayu

Tradisi Mekiwuka, Parade Perayaan Sambut Tahun Baru

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Ridwan
Content Editor
Previous Article Sambut Ramadhan dengan Semangat Perang Air Bajong Banyu
Next Article Mengapa Dark Tourism Penting Bagi Generasi Muda Indonesia?
1 Comment 1 Comment
  • Pingback: Menyelamatkan Tradisi Nyadran Dengan Pengaturan Keuangan - emmanus.com

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?