Di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tenun bukan sekadar kerajinan untuk dijual kepada wisatawan. Keterampilan yang diwariskan antargenerasi ini juga merepresentasikan identitas dan pengetahuan lokal masyarakat Sasak. Ketika kebakaran melanda desa tersebut pada 22 Agustus 2026, menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memulihkan penghidupan warga menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali Sade.
Kebakaran pada malam itu menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp34 miliar. Pendataan bersama pemerintah daerah, aparat desa, dan kepolisian mencatat 75 rumah adat, 69 art shop, empat berugak sekenem, masjid, pintu gerbang, menara pandang, serta sebuah museum yang dibangun Dinas Pariwisata NTB ikut terbakar.
Nilai kerugian tersebut belum mencakup harta benda pribadi warga yang masih dalam pendataan. Menurut Lalu Sungkul, Staf Ahli Bupati Lombok Tengah, sebagian warga masih mengalami trauma sehingga pendataan barang berharga milik mereka belum sepenuhnya tuntas.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meninjau kembali proses rehabilitasi Desa Adat Sade pada Minggu, 11 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia menegaskan bahwa pemulihan tidak sebatas membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga menghidupkan kembali kehidupan sosial, tradisi, dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
“Prinsip kita jelas, yaitu membangun kembali Desa Adat Sade agar lebih aman dan lebih tangguh, tanpa kehilangan keaslian arsitektur serta nilai-nilai adat yang menjadi identitasnya,” kata Widiyanti.
Desa Adat Sade bukan hanya kawasan wisata budaya, melainkan juga ruang hidup masyarakat Sasak. Rekonstruksi karena itu perlu mempertahankan arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, serta pola kehidupan masyarakat yang membentuk karakter desa.
Proses rekonstruksi telah dimulai pada 3 September 2026 melalui ritual adat Nyemulak atau Tanjak Teken sebagai simbol peletakan batu pertama pembangunan kembali kawasan.
Tahap awal diprioritaskan pada fasilitas yang mendukung kehidupan masyarakat, antara lain masjid, sekenam atau ruang berkumpul, museum semipermanen, serta kamar mandi dan toilet.
Pembangunan kembali juga direncanakan mengintegrasikan sistem perlindungan kebakaran, jalur evakuasi, pasokan air, alat pemadam, dan infrastruktur penanganan keadaan darurat. Upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan keselamatan warga dan wisatawan tanpa menghilangkan karakter tradisional kawasan.
Menjaga Tradisi Sekaligus Penghidupan
Selain pemulihan fisik, pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan usaha masyarakat. Dalam kunjungannya, Widiyanti menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja senilai total Rp817,5 juta.
Bantuan itu mencakup 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja untuk 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun. Dukungan tersebut diharapkan memungkinkan warga kembali berproduksi dan memperoleh penghasilan tanpa harus menunggu seluruh proses pembangunan selesai.
Tenun menjadi salah satu bagian penting dalam pemulihan tersebut. Widiyanti berdialog dengan Ina Aris, salah satu penenun di Desa Sade, yang berharap wisatawan tidak hanya menikmati suasana desa, tetapi juga mengenal proses pembuatan tenun dan membeli produk lokal.

“Motif tenun Sade punya ciri khas tersendiri. Saya berharap, wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga mengenal proses pembuatan tenun dan membeli produk lokal. Dengan begitu, tenun Sade semakin dikenal, tetap lestari, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ina.
Harapan tersebut memperlihatkan hubungan antara pelestarian budaya dan penghidupan warga. Keterampilan tradisional dapat terus dipertahankan ketika tetap dipraktikkan, diwariskan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menguasainya.
Untuk mendukung pemulihan jangka panjang, Kementerian Pariwisata juga menyiapkan pelatihan bagi pemandu wisata lokal, peningkatan standar keselamatan dan pelayanan, pembaruan katalog produk kerajinan, penguatan identitas produk, serta pemasaran digital.
Pemerintah turut mempersiapkan pembukaan kembali Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya dengan memperhatikan kesiapan masyarakat, fasilitas, dan keselamatan pengunjung.
Kepala Dusun Adat Sade, Endap, menegaskan bahwa desa tersebut bukan sekadar destinasi wisata, melainkan rumah bagi budaya dan adat istiadat warisan leluhur yang harus dijaga.
Keberhasilan pemulihan Sade karena itu tidak cukup diukur dari jumlah bangunan yang kembali berdiri atau pulihnya kunjungan wisatawan. Kehidupan masyarakat, keberlanjutan tradisi, dan kemampuan warga memperoleh penghasilan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Di Sade, upaya bangkit setelah kebakaran bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak. Ada tradisi yang perlu terus dijalankan, pengetahuan yang harus diwariskan, dan penghidupan yang perlu dipulihkan. Selama warga masih dapat menenun dan meneruskan keterampilannya kepada generasi berikutnya, benang-benang tradisi Sade memiliki kesempatan untuk terus tersambung.






