Indonesia memiliki banyak pengalaman wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan mancanegara. Bentang alam kepulauan, warisan budaya, kehidupan kota, hingga kuliner yang tumbuh dari tradisi setempat memberi pilihan perjalanan yang beragam. Tantangannya adalah memastikan daya tarik tersebut semakin mudah dijangkau oleh pasar potensial.
Wisata alam dan budaya dapat menjadi bagian dari tawaran itu. Bali dikenal dengan lanskap dan tradisi masyarakatnya, Labuan Bajo menawarkan bentang kepulauan dan wisata bahari, sementara Yogyakarta menghadirkan warisan sejarah dan budaya.
Bandung memiliki pilihan wisata kota, kuliner, dan kawasan alam di sekitarnya. Setiap destinasi menawarkan pengalaman berbeda yang dapat disesuaikan dengan minat dan waktu perjalanan wisatawan.
Kuliner juga memiliki peran penting. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa 58,34 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada 2025 melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi.
Angka tersebut menggambarkan potensi kuliner sebagai bagian dari pengalaman perjalanan, meskipun tidak secara khusus mengukur preferensi wisatawan asal Tiongkok.
Pengalaman mencicipi makanan lokal dapat membawa wisatawan lebih dekat pada kebiasaan dan cerita suatu daerah. Dari hidangan khas hingga pasar tradisional, kuliner membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk ikut merasakan manfaat pariwisata.
Alam, Budaya, dan Kuliner Menjadi Daya Tarik
Bagi Indonesia, memperluas pasar wisatawan Tiongkok bukan hanya soal mendatangkan lebih banyak pengunjung, tetapi juga memperkenalkan beragam tujuan perjalanan di luar destinasi yang sudah dikenal luas.
Jakarta, misalnya, dapat menjadi awal perjalanan untuk menikmati wisata perkotaan, museum, dan kuliner sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke daerah lain.
Dalam promosi yang dilakukan pada Juli 2026, Kementerian Pariwisata memperkenalkan beragam pengalaman di Jakarta kepada pelaku industri perjalanan dari Tiongkok, termasuk wisata kota, museum, kuliner, kebugaran, dan wisata bahari Kepulauan Seribu.
Pola perjalanan seperti ini membuka peluang bagi destinasi di berbagai daerah untuk terhubung dalam satu rangkaian kunjungan. Wisatawan yang datang melalui Jakarta, misalnya, dapat merencanakan perjalanan lanjutan sesuai minatnya terhadap alam, budaya, belanja, atau makanan lokal.
Namun, pilihan destinasi tidak serta-merta menjadi pilihan utama wisatawan Tiongkok hanya karena akses penerbangan bertambah. Informasi yang mudah diperoleh, promosi yang sesuai dengan pasar, kualitas layanan, kemudahan transportasi lanjutan, dan pengalaman wisata yang baik tetap menentukan keputusan perjalanan.
Karena itu, konektivitas udara perlu berjalan bersama pengembangan produk wisata dan kerja sama dengan industri perjalanan. Dengan begitu, peluang yang muncul dari bertambahnya akses tidak berhenti di bandara, tetapi dapat menjangkau hotel, restoran, pemandu wisata, pengelola destinasi, dan usaha masyarakat setempat.
Pasar Tiongkok Menunjukkan Pertumbuhan
Peluang tersebut hadir di tengah pertumbuhan kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke Indonesia. Kementerian Pariwisata mencatat sebanyak 1.054.007 kunjungan wisatawan Tiongkok selama Januari–Agustus 2026.
Jumlah itu meningkat 16,46 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika tercatat 905.002 kunjungan.
Angka tersebut memperlihatkan pentingnya pasar Tiongkok dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Meski demikian, pertumbuhan kunjungan dalam periode tersebut tidak dapat langsung dikaitkan dengan penerbangan Shenzhen–Jakarta yang baru kembali beroperasi pada Oktober 2026.
Konektivitas merupakan salah satu unsur yang dapat mendukung perjalanan wisatawan. Semakin banyak pilihan penerbangan langsung, semakin terbuka pula kemungkinan bagi wisatawan untuk merencanakan perjalanan dengan lebih praktis.
Bagi Indonesia, kesempatan berikutnya adalah menghubungkan akses tersebut dengan promosi destinasi dan pengalaman yang membuat wisatawan tertarik untuk tinggal lebih lama atau kembali berkunjung.
Shenzhen–Jakarta Kembali Terhubung
Kementerian Pariwisata menyambut pengoperasian kembali penerbangan langsung Shenzhen–Jakarta yang dilayani Shenzhen Airlines. Penerbangan bernomor ZH161 tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyebut kembalinya layanan tersebut sebagai perkembangan positif bagi industri pariwisata. Menurutnya, penerbangan langsung berperan dalam memudahkan mobilitas wisatawan sekaligus memperluas peluang destinasi dan pelaku industri pariwisata nasional untuk menjangkau pasar internasional.
Penerbangan ZH161 menggunakan pesawat berkapasitas 162 kursi. Pesawat bertolak dari Bandara Internasional Bao'an Shenzhen pada Senin, 19 Oktober, pukul 20.55 waktu setempat atau UTC+8, dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa pukul 00.55 WIB.
Untuk rute sebaliknya, penerbangan ZH162 berangkat dari Jakarta pukul 01.55 WIB dan dijadwalkan tiba di Shenzhen pukul 08.05 waktu setempat.
Layanan Shenzhen–Jakarta beroperasi tiga kali sepekan, yakni setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Sementara itu, penerbangan Jakarta–Shenzhen dijadwalkan setiap Selasa, Kamis, dan Minggu dini hari.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kementerian Pariwisata, Yulia, mengatakan Jakarta merupakan salah satu pintu masuk utama wisatawan Tiongkok ke Indonesia, selain Bali. Ia berharap pengoperasian kembali rute tersebut dapat memperluas pilihan perjalanan dan memberikan fleksibilitas bagi wisatawan untuk menjelajahi destinasi Indonesia.
Kehadiran penerbangan langsung ini juga membuka peluang bagi berbagai sektor pendukung pariwisata, mulai dari akomodasi dan transportasi hingga usaha perjalanan wisata dan layanan lainnya.
Pada akhirnya, bertambahnya akses penerbangan merupakan awal dari peluang yang lebih luas. Agar manfaatnya menjangkau berbagai daerah, Indonesia perlu memastikan bahwa kemudahan mencapai Tanah Air berjalan beriringan dengan informasi destinasi yang menarik, layanan yang memadai, dan pengalaman wisata yang layak dikenang.








