Event

Sejarah Ramadhan on the Street 2025 di Kauman Wonosobo

Bulan suci Ramadhan selalu identik dengan tradisi berburu takjil yang dinanti masyarakat Muslim di Indonesia. Di Wonosobo, salah satu pusat keramaian yang menjadi favorit dalam mencari hidangan berbuka adalah Ramadhan on the Street. Kawasan kuliner ini berlokasi di Kauman atau depan Masjid Al-Manshur, Jalan Pangeran Diponegoro No. 13, Wonosobo Timur. Setiap sore, mulai pukul 15.00 […]

Oleh Achmad Aristyan

Sejarah Ramadhan on the Street 2025 di Kauman Wonosobo
Ada banyak takjil yang dijual di Ramadhan On The Street. Foto: Aristyan
Diterbitkan

Bulan suci Ramadhan selalu identik dengan tradisi berburu takjil yang dinanti masyarakat Muslim di Indonesia.

Di Wonosobo, salah satu pusat keramaian yang menjadi favorit dalam mencari hidangan berbuka adalah Ramadhan on the Street.

Kawasan kuliner ini berlokasi di Kauman atau depan Masjid Al-Manshur, Jalan Pangeran Diponegoro No. 13, Wonosobo Timur.

Setiap sore, mulai pukul 15.00 WIB, kawasan ini dipenuhi pedagang dan pembeli yang berburu beragam hidangan berbuka.

Baca Juga: Agung Wiera Gelar Pameran Jejak Mata Hati di Wonosobo

Dari jajanan ringan seperti kentang goreng, tahu krispi dan tempe kemul hingga makanan berat seperti nasi rames, seafood, masakan rumahan, sate semuanya tersedia di sini.

Tak hanya itu, berbagai minuman segar serta kuliner kekinian juga ikut meramaikan pilihan menu, menjadikan tempat ini sebagai pusat berburu takjil terlengkap di Wonosobo.

Lebih dari Sekadar Berburu Makanan

Selain sebagai tempat mencari hidangan berbuka, Ramadhan on the Street juga menjadi ajang ngabuburit yang dinantikan masyarakat.

Banyak warga yang berkumpul, berjalan-jalan, dan menikmati suasana sore menjelang berbuka.

Tak hanya mempererat silaturahmi, kegiatan ini juga mendukung perputaran ekonomi lokal dengan meningkatnya omzet para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).

Pedagang mulai berjualan dari sekitar jam 15.00 WIB. Foto: Aristyan

Sejarah dan Perkembangan Ramadhan on the Street

Ketua Panitia Pelaksana Ramadhan on the Street, Tanto, mengungkapkan bahwa kegiatan ini pertama kali digagas sekitar tahun 2011-2012, dengan jumlah pedagang yang masih terbatas.

“Awalnya, acara ini hanya diikuti sekitar 18 pedagang, mayoritas berasal dari warga Kauman, sebuah daerah di sekitar masjid yang dikenal memiliki banyak pelaku usaha kuliner,” jelas Tanto.

Saat itu, para pedagang masih berjualan secara tersebar tanpa ada penataan khusus.

Namun, setelah pembangunan trotoar di depan Masjid Al-Manshur selesai pada tahun 2017, kawasan ini mulai ditata lebih rapi.

Baca Juga: Ekspresi KOLEKTIFUN Wonosobo Dalam Pacean Art Fusion

Panitia kemudian menyediakan tenda atau teratak agar suasana lebih nyaman bagi pedagang dan pengunjung.

Seiring waktu, acara ini berkembang pesat dan menarik lebih banyak peserta.

Pada Ramadhan 2025, jumlah pedagang yang berpartisipasi meningkat menjadi 63 orang, yang datang dari berbagai daerah di Wonosobo, seperti Kauman Selatan, Lungkrang, Sirandu, dan Kenteng.

“Kini, peserta tidak hanya berasal dari Kauman, tetapi juga dari daerah lain di Wonosobo yang ingin merasakan manfaat dari kegiatan ini,” tambahnya.

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Pedagang Penuh dalam Satu Jam

Tanto juga mengungkapkan bahwa tingginya minat pedagang terlihat dari cepatnya pendaftaran yang selalu penuh dalam waktu singkat.

“Setiap kali pendaftaran dibuka, seluruh slot bisa habis hanya dalam waktu satu jam. Ini menunjukkan betapa besarnya minat para pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam Ramadhan on the Street,” katanya.

Baca Juga: Pentas Musik Bundengan dan Keroncong untuk Generasi Muda

Banyak pedagang yang berjualan di acara ini bukanlah pedagang tetap.

Mereka adalah warga yang memanfaatkan momentum Ramadhan untuk berdagang takjil dan makanan berbuka.

“Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk berdagang, meskipun di luar bulan Ramadhan mereka tidak berjualan secara reguler,” tambah Tanto.

Karena tingginya antusiasme masyarakat, acara yang sebelumnya hanya berlangsung selama 25 hari kini diperpanjang menjadi 28 hari, hingga menjelang akhir bulan Ramadhan.

Menjelang waktu berbuka puasa, area Ramadhan On The Street akan semakin ramai dipenuhi pemburu takjil. Foto: Aristyan

Inovasi: Pembayaran Digital dan Pengelolaan Ketertiban

Tahun ini, panitia mulai menerapkan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS untuk mempermudah transaksi.

“Kami melihat sistem QRIS lebih lancar dan bisa menjadi solusi bagi pedagang dan pembeli dalam melakukan transaksi,” jelas Tanto.

Meski berjalan sukses, acara ini juga menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah kehadiran pengamen yang dapat mengganggu kenyamanan pengunjung.

Baca Juga: Karya Lee Man Fong Warnai Pameran Kongsi di Museum Nasional

Untuk mengatasi hal ini, panitia menerapkan sistem pengelolaan ketertiban di area jualan.

Selain itu, kebersihan dan keteraturan juga menjadi prioritas utama.

Panitia bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup agar lingkungan tetap bersih, dengan syarat tidak ada petugas retribusi yang masuk ke area kegiatan agar pedagang tetap nyaman berjualan.

Evaluasi dan Rencana Pengembangan ke Depan

Melihat perkembangan acara dari tahun ke tahun, panitia terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan.

Salah satu fokus utama adalah peningkatan fasilitas, sistem seleksi pedagang, serta pelayanan bagi pengunjung.

“Kami sadar bahwa tanpa adanya peserta, kegiatan ini tidak akan berjalan dengan baik. Karena itu, peningkatan fasilitas dan pelayanan menjadi fokus utama kami,” ujar Tanto.

Baca Juga: Seniman Dunia Arkiv Vilmansa Pamerkan 100 Karya di GNI

Beberapa rencana ke depan mencakup penambahan area duduk, perluasan lahan parkir, serta pengelolaan lalu lintas yang lebih baik.

Selain itu, sistem seleksi pedagang akan diperketat agar variasi kuliner yang dihadirkan semakin beragam dan menarik.

“Evaluasi dari tahun ke tahun akan menjadi dasar untuk perbaikan ke depan, sehingga kegiatan ini dapat berjalan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Event

Lihat semua →
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan