Senjata tradisional seperti Guma, Doke, dan Kaliavo sejak dahulu menjadi bagian integral identitas masyarakat suku Kaili, yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.
Dilansir dari laman sigikab.go.id, Senjata-senjata ini tidak hanya menjadi alat bertahan hidup, tetapi juga simbol status sosial, kekuatan, dan keagungan dalam budaya masyarakat Kaili.
Masyarakat Kaili menetap di Kabupaten Sigi, yang berada di tengah bentang alam Sulawesi Tengah. Daerah ini, selain terkenal dengan pesona alamnya, juga kekayaan budaya dan warisan leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi.
- Guma: Senjata Kehormatan dan Lambang Status
Guma, yang kini dianggap sebagai simbol kebanggaan, dulu sering kali digunakan oleh Tadulako, pemimpin perang yang disegani dalam masyarakat Kaili.
Selain sebagai senjata, Guma juga memiliki nilai simbolis sebagai representasi status sosial dan martabat seseorang. Jenis gagang yang bervariasi menunjukkan kedudukan penggunanya, seperti bangsawan, raja, atau rakyat biasa.
Di masa kini, Guma bahkan dijadikan sebagai bagian dari mahar dalam pernikahan, terutama bagi keluarga bangsawan, sebagai wujud penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Baca juga: Suku Kaili Dan Sejarah Masa Lalu Kota Palu
- Doke: Tombak Serbaguna dalam Taktik Tempur
Doke adalah senjata yang berperan strategis dalam peperangan tradisional Suku Kaili. Ujungnya yang runcing dan bentuk bilah belah ketupat memberikan kemampuan menikam yang efektif.
Tombak ini didesain agar fleksibel dalam penggunaannya: untuk pertempuran jarak dekat, Doke ditusukkan langsung ke arah lawan; sedangkan untuk jarak jauh, Doke dilempar, memberikan daya serang yang signifikan.
Pada zaman dahulu, keterampilan menggunakan Doke sering kali dipelajari sejak usia dini, menjadikannya simbol kesiapan dan ketangkasan pemuda Kaili dalam bertahan.
- Kaliavo: Tameng Berukir Makna dan Nilai Sakral
Kaliavo adalah perisai khas masyarakat Kaili, berfungsi sebagai pelindung utama dalam peperangan.
Tameng ini dihiasi ukiran-ukiran khas yang tak hanya memperindah tampilannya, tetapi juga memiliki makna sakral yang mendalam bagi pemiliknya.
Kaliavo diukir dengan motif yang dipercaya membawa perlindungan dan keberuntungan, dan setiap ukiran pada Kaliavo memiliki makna khusus yang diwariskan turun-temurun dalam masyarakat Kaili.
Kini, Kaliavo lebih sering digunakan dalam upacara adat atau sebagai simbol perlindungan diri dan nilai kepahlawanan yang dijaga hingga kini.
Mengakui pentingnya warisan budaya ini, Pemerintah Kabupaten Sigi telah mendaftarkan Guma, Doke, dan Kaliavo sebagai bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal di bawah Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Inisiatif ini tidak hanya melindungi hak kekayaan intelektual masyarakat Kaili tetapi juga menjadikan replika senjata-senjata ini sebagai cenderamata khas Kabupaten Sigi, mempromosikan budaya lokal kepada wisatawan dan generasi muda.
Dengan demikian, keberadaan Guma, Doke, dan Kaliavo tetap hidup dan dikenal luas sebagai simbol kekuatan, keagungan, dan kebanggaan masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah.