Budaya

Mengenal Senjata Tradisional Identitas Budaya Suku Kaili

Senjata tradisional seperti Guma, Doke, dan Kaliavo sejak dahulu menjadi bagian integral identitas masyarakat suku Kaili, yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Dilansir dari laman sigikab.go.id, Senjata-senjata ini tidak hanya menjadi alat bertahan hidup, tetapi juga simbol status sosial, kekuatan, dan keagungan dalam budaya masyarakat Kaili. Masyarakat Kaili menetap di […]

Oleh Achmad Aristyan

Mengenal Senjata Tradisional Identitas Budaya Suku Kaili
Guma, Doke, dan Kaliavo dalam bentuk souvenir (kiri) dan Guma versi asli (kanan). Foto: disperindag.sigikab.go.id
Diterbitkan

Senjata tradisional seperti Guma, Doke, dan Kaliavo sejak dahulu menjadi bagian integral identitas masyarakat suku Kaili, yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.

Dilansir dari laman sigikab.go.id, Senjata-senjata ini tidak hanya menjadi alat bertahan hidup, tetapi juga simbol status sosial, kekuatan, dan keagungan dalam budaya masyarakat Kaili.

Masyarakat Kaili menetap di Kabupaten Sigi, yang berada di tengah bentang alam Sulawesi Tengah. Daerah ini, selain terkenal dengan pesona alamnya, juga kekayaan budaya dan warisan leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi.

  1. Guma: Senjata Kehormatan dan Lambang Status

Guma, yang kini dianggap sebagai simbol kebanggaan, dulu sering kali digunakan oleh Tadulako, pemimpin perang yang disegani dalam masyarakat Kaili.

Selain sebagai senjata, Guma juga memiliki nilai simbolis sebagai representasi status sosial dan martabat seseorang. Jenis gagang yang bervariasi menunjukkan kedudukan penggunanya, seperti bangsawan, raja, atau rakyat biasa.

Di masa kini, Guma bahkan dijadikan sebagai bagian dari mahar dalam pernikahan, terutama bagi keluarga bangsawan, sebagai wujud penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Baca juga: Suku Kaili Dan Sejarah Masa Lalu Kota Palu

  1. Doke: Tombak Serbaguna dalam Taktik Tempur 

Doke adalah senjata yang berperan strategis dalam peperangan tradisional Suku Kaili. Ujungnya yang runcing dan bentuk bilah belah ketupat memberikan kemampuan menikam yang efektif.

Tombak ini didesain agar fleksibel dalam penggunaannya: untuk pertempuran jarak dekat, Doke ditusukkan langsung ke arah lawan; sedangkan untuk jarak jauh, Doke dilempar, memberikan daya serang yang signifikan.

Pada zaman dahulu, keterampilan menggunakan Doke sering kali dipelajari sejak usia dini, menjadikannya simbol kesiapan dan ketangkasan pemuda Kaili dalam bertahan.

  1. Kaliavo: Tameng Berukir Makna dan Nilai Sakral

Kaliavo adalah perisai khas masyarakat Kaili, berfungsi sebagai pelindung utama dalam peperangan.

Tameng ini dihiasi ukiran-ukiran khas yang tak hanya memperindah tampilannya, tetapi juga memiliki makna sakral yang mendalam bagi pemiliknya.

Kaliavo diukir dengan motif yang dipercaya membawa perlindungan dan keberuntungan, dan setiap ukiran pada Kaliavo memiliki makna khusus yang diwariskan turun-temurun dalam masyarakat Kaili.

Kini, Kaliavo lebih sering digunakan dalam upacara adat atau sebagai simbol perlindungan diri dan nilai kepahlawanan yang dijaga hingga kini.

Mengakui pentingnya warisan budaya ini, Pemerintah Kabupaten Sigi telah mendaftarkan Guma, Doke, dan Kaliavo sebagai bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal di bawah Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Inisiatif ini tidak hanya melindungi hak kekayaan intelektual masyarakat Kaili tetapi juga menjadikan replika senjata-senjata ini sebagai cenderamata khas Kabupaten Sigi, mempromosikan budaya lokal kepada wisatawan dan generasi muda.

Dengan demikian, keberadaan Guma, Doke, dan Kaliavo tetap hidup dan dikenal luas sebagai simbol kekuatan, keagungan, dan kebanggaan masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah.

TopikBudaya
Budaya30 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan