Profil

Siti Aminah Marijo, Pelopor Bekatul Beras Merah di Wonosobo

Di balik gaya hidup sehat yang semakin diminati, ada sosok inspiratif dari Wonosobo yang telah mengembangkan produk pangan bernutrisi Bekatul Merah selama lebih dari 19 tahun. Siti Aminah Marijo, seorang warga Tempelsari, RT 01 RW 01, Maduretno, Kalikajar, Wonosobo, Jawa Tengah, adalah pencetus bekatul beras merah merek “Dewi Sri”. Berawal dari pengalaman pribadi dalam menjaga […]

Oleh Achmad Aristyan

Siti Aminah Marijo, Pelopor Bekatul Beras Merah di Wonosobo
Sosok Siti Aminah Marijo. Foto: Ivan Pratama
Diterbitkan

Di balik gaya hidup sehat yang semakin diminati, ada sosok inspiratif dari Wonosobo yang telah mengembangkan produk pangan bernutrisi Bekatul Merah selama lebih dari 19 tahun.

Siti Aminah Marijo, seorang warga Tempelsari, RT 01 RW 01, Maduretno, Kalikajar, Wonosobo, Jawa Tengah, adalah pencetus bekatul beras merah merek “Dewi Sri”.

Berawal dari pengalaman pribadi dalam menjaga kesehatan, ia berhasil mengubah bahan sederhana menjadi produk yang dipercaya memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Usaha ini bermula dari pengalaman pribadinya saat sakit gondok dan wasir stadium tiga.  

“Waktu itu saya menyekolahkan anak di Gontor dan mendapatkan majalah yang membahas kesehatan. Saya sendiri yang mencoba dulu, ternyata gondok saya kempes dan wasir saya sembuh tanpa operasi,” ungkapnya.  

Melihat manfaatnya, Siti Aminah memutuskan untuk membuat produk bekatul beras merah dan mengajukan izin resmi dari Dinas Kesehatan dan sertifikasi halal dari MUI sejak Agustus 2007.

Hingga kini, izin halal produknya diperbarui empat kali dan dalam proses perpanjangan kelima.  

Manfaat Bekatul Beras Merah  

Menurut Siti Aminah, bekatul beras merah memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.

Salah satunya adalah membantu mencegah pengeroposan tulang. Selain itu, bekatul ini juga dapat digunakan untuk mengatasi beberapa penyakit seperti wasir, gondok, dan diabetes. 

Konsumsi bekatul beras merah juga diyakini dapat mengurangi risiko hipertensi serta kolesterol tinggi. Manfaat lainnya termasuk mencegah penyumbatan pembuluh darah dan membantu penderita asma dalam meningkatkan fungsi hati. 

Tak hanya itu, bekatul beras merah juga bermanfaat dalam meningkatkan daya tahan tubuh serta mencegah obesitas.

“Kalau dikonsumsi rutin dua kali sehari, pagi dan sore, daya tahan tubuh bisa lebih kuat,” jelasnya.  

Bekatul beras merah “Dewi Sri” yang diproduksi oleh Siti Aminah Marijo. Foto: Aristyan

Proses Produksi dan Harga

Proses pembuatan bekatul beras merah ini cukup panjang. Siti Aminah hanya memilih bahan baku dari beras merah berkualitas, bukan  dari tempat penggilingan biasa. Bahan baku yang digunakan ini berupa beras merah pecah kulit.

“Bekatul diambil dari beras merah yang telah diselip, lalu disangrai supaya tahan lama bisa sampai satu tahun,” tuturnya.  

Ia juga menjelaskan bahwa setelah disangrai akan dilanjutkan dengan proses penyaringan sampai tiga kali hingga menghasilkan bekatul dengan tekstur halus.

Selama penyangraian, ia menambahkan daun pandan agar aroma lebih wangi dan meningkatkan manfaat kesehatan.  

Sekali memproduksi, bahan baku beras merah pecah kulit yang dipakai bisa mencapai 50 kg. Bekatul beras merah “Dewi Sri” dijual dengan kisaran harga Rp17.000 per 1 ons hingga Rp 30.000 per 2 ons.

“Cara konsumsinya, bekatul bisa dilarutkan ke dalam air mendidih, serta tambahkan susu, sereh, jahe, gula aren, atau madu. Kalau yang suka tawar juga bisa langsung dilarutkan dalam air mendidih dan diminum tanpa campuran lain,” jelasnya.  

Pemasaran dan Tantangan Produksi

Dalam hal pemasaran, produk ini sudah dikenal hingga Jakarta, Bandung, Bogor, bahkan pernah dibawa jamaah haji ke Arab Saudi. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan bahan baku.  

“Saya sering kosong stok karena bahan bakunya sulit didapat. Makanya sekarang lebih fokus menjual di sekitar Wonosobo saja,” katanya. Di sekitar Wonosobo, bekatul beras merah “Dewi Sri” ini dijual di beberapa apotek ternama.

Asal-usul Nama “Dewi Sri”  

Siti Aminah menamai produknya “Dewi Sri” sebagai penghormatan terhadap kepercayaan masyarakat Jawa yang menganggap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran, khususnya dalam pertanian.  

“Dewi Sri itu kan dewi padi, simbol kesuburan. Jadi saya ambil nama itu karena bahan dasarnya dari padi,” ungkapnya.  

Dengan ketekunan dan keuletannya, Siti Aminah terus mempertahankan kualitas bekatul beras merahnya meski menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan bahan baku. Ia berharap usahanya bisa terus berjalan dan membawa manfaat bagi lebih banyak orang.

TopikProfil
Profil22 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan