Slamet Abdul Sjukur, dikenal sebagai seniman musik eksentrik. Karyanya dianggap aneh dan cenderung melawan arus. Seniman ini adalah pelopor musik kontemporer yang disebut Minimaks, yaitu menciptakan musik dengan menggunakan bahan yang sederhana dan minim.
Terlahir dari keluarga pedagang pada 30 Juni 1935 di Surabaya, Slamet Abdul Sjukur diminta menjadi apoteker karena ayahnya mempunyai toko obat.
Mengembangakan Musik Secara Personal
Tetapi ia menolak dan lebih memilih menekuni musik. Minat bermusik didapat dari sang nenek yang waktu itu menginginkan ia bisa bermain piano seperti tetangganya.
Awal mula Slamet mengenal musik adalah saat berusia 7 tahun, dimana waktu itu ayahnya membelikan piano. Menginjak usia 9 tahun, Slamet mulai serius belajar piano pada D. Tupan, ia juga belajar gamelan di Perguruan Taman Siswa.
Tahun 1956, Slamet menyelesaikan pendidikan musiknya di Sekolah Musik Indonesia “Semind” di Yogyakarta. Tahun 1962, Slamet mendapat beasiswa dari Pemerintah Perancis untuk melanjutkan studinya di Ecole Normale de Musique.
Meski mengenyam pendidikan secara formal, Slamet lebih suka mengembangkan musik secara personal sembari menerapkan ilmu yang dia dapat.
Selama 14 tahun di Perancis, Slamet bekerja serabutan di Perancis untuk membiayai kuliahnya mulai dari menjadi tukang cuci piring, pengamen, hingga menjadi pianis di sebuah sekolah balet.
Banyak diapresiasi Musisi Mancanegara
Sebagai komposer andal, ia mampu menciptakan berbagai komposisi dengan bahan yang sederhana. Namun bahan sederhana itu, Slamet melakukan eksplorasi musikal menghasilkan komposisi yang luar biasa, unik, dan tak ada duanya.
Beberapa karyanya antara lain Ketut Candu, String Quartet I, Silence, Point Cotre, Parentheses I-II-III-IV-V-VI, Jakarta 450 Tahun, dan Daun Pulus.
Menurut pengakuan Slamet, hanya Daun Puluslah yang paling terkenal di dalam negeri. Sisanya lebih banyak mendapat apresiasi masyarakat mancanegara.
Bahkan komposisi pianonya banyak dimainkan pianis-pianis top di mancanegara. Meski di dalam negeri ia kurang dikenal, nama besar Slamet justru lebih mengemuka di mancanegara, terutama di negara-negara Eropa.
Biang Penyebar Musik Kontemporer di Indonesia
Sebagai seorang seniman musik, ia berkarya menentang arus.
Misalkan seperti saat ia menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta (dulu LPKJ) pada 1976, Slamet membuat terobosan dengan menghapus dasar teori musik dan bertumpu pada kebutuhan kreatif.
Tahun 1983, ia malah dipecat sebagai Ketua Departemen Musik yang dijabatnya selama dua tahun.
Slamet juga sering dianggap menjadi biang penyebar paham musik kontemporer di Indonesia. Instrumen konvensional pun dimainkan dengan cara-cara yang tak lazim misalnya piano yang langsung dipetik dawai di dalamnya.
Hal unik lain yang pernah dilakukan seniman ini adalah mengumpulkan sekelompok orang bersuara sengau untuk paduan suara. Slamet juga dikenal sebagai komponis minimaksi, yakni membuat musik dengan bahan-bahan minimal.
Contohnya saat ia mengajak orang-orang kampung di Trawas membuat konser di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman. Bahan musiknya sederhana saja, mulut dan daun.
Menurutnya, desir angin, gesekan daun, gemericik air, bunyi gesekan sapu di jalanan, bahkan bunyi ketiak yang ditutup dengan telapak tangan, bisa dikategorikan sebagai musik.
Walau terkesan nyentrik, Slamet telah menghasilkan berbagai karya berkualitas dan dipentaskan di sejumlah festival di Eropa serta tampil dalam berbagai event musik di lokal maupun mancanegara.
Musisi dengan Banyak Penghargaan
Pada 1996, Majalah Gatra menobatkannya sebagai pionir musik alternatif. Enam tahun berselang, ia diangkat sebagai anggota Akademi Jakarta seumur hidup.
Pada tahun 2005, Gubernur Jawa Timur memberikan penghargaan karena dedikasinya pada musik.
Penghargaan lainnya antar lain, dari Walikota Surabaya (2011), Karya Bhakti Budaya dari Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (2013), hingga Millenium Hall of Fame (American Biographical Institute, 1998), dan Ordre des Arts et des Lettres (Prancis, 2000)
Komposisi karya Slamet yang lahir setelah era tahun 2000an antara lain Game-Land 5 (2012), Suroboyo (2013), dan Semut Ireng (2013). Seniman musik eksentrik itu meninggal di usia 79 tahun, pada 24 Maret 2015 di Surabaya, Jawa Timur. (Anisa Kurniawati-Sumber: tokoh.id)