Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki banyak cerita rakyat yang kaya akan nilai moral dan budaya, salah satunya adalah Tampe Ruma Sani, sebuah cerita yang berasal dari Flores.
Kisah ini bukan hanya sebuah dongeng biasa, melainkan mengandung pelajaran hidup yang dapat menjadi cerminan bagi kita semua, terutama tentang nilai kesabaran dan ketulusan.
Kisah Tampe Ruma Sani
Melansir dari dongenceritarakyat.com, cerita ini dimulai dengan kehidupan seorang anak perempuan bernama Tampe Ruma Sani yang ditinggal mati ibunya.
Setelah kehilangan ibunya, ia tinggal bersama ayahnya, seorang nelayan, dan adiknya yang masih kecil, Laga Ligo. Sejak saat itu, Tampe Ruma Sani menjadi tulang punggung keluarga.
Setiap hari, ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan menjual hasil tangkapan ikan dari ayahnya ke pasar, meski usianya masih muda.
Pada suatu hari, dalam perjalanan menuju pasar, Tampe Ruma Sani bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian menjadi ibu tiri bagi dirinya dan adiknya. Pada awalnya, semuanya berjalan baik-baik saja.
Namun, seiring berjalannya waktu, ibu tiri mulai berubah menjadi orang yang suka memarahi Tampe Ruma Sani dan adiknya. Ketika ayahnya pulang, ibu tiri selalu menyiapkan hidangan lezat, tetapi saat ayahnya pergi melaut, Tampe dan adiknya hanya diberikan nasi dari beras yang hancur.
Ini mencerminkan ketidakadilan yang dialami Tampe Ruma Sani dan adiknya, namun ia tetap sabar dan menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran.
Baca juga: Legenda Manusia Harimau dalam Budaya Indonesia
Perjalanan Menuju Kebahagiaan
Seiring waktu, Tampe Ruma Sani dan adiknya tumbuh dewasa dan memutuskan merantau. Setelah diizinkan ayahnya, meski awalnya ayah mereka ragu, mereka pun memulai perjalanan mereka.
Namun, perjalanan itu sulit. Perbekalan makanan habis, dan mereka tersesat di tengah hutan.
Dalam pencarian mereka akan makanan, mereka menemukan sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni, namun selalu ada makanan yang baru dimasak setiap hari.
Tampe Ruma Sani dan Laga Ligo merasa kebingungan, memikirkan apa yang akan terjadi jika makanan itu tidak tersedia suatu hari nanti. Mereka pun memutuskan untuk menjual rempah-rempah yang mereka temukan di rumah itu, berharap mendapatkan uang untuk membeli makanan.
Pada saat yang bersamaan, sebuah rombongan raja yang sedang berburu menemukan rumah itu. Mereka terkejut melihat ada orang yang tinggal di rumah itu tanpa sepengetahuan raja.
Saat mereka memeriksa rumah, mereka menemukan Tampe Ruma Sani yang ketakutan dan sedang bersembunyi. Tampe Ruma Sani kemudian menceritakan kisah hidupnya kepada sang raja.
Mendengar cerita itu, sang raja merasa iba dan memutuskan untuk mengajak Tampe Ruma Sani dan adiknya untuk tinggal di istana sebagai anak angkatnya.
Mereka pun hidup bahagia di istana, jauh dari kesulitan yang pernah mereka alami sebelumnya.
Pesan Moral: Kesabaran yang Membawa Kebahagiaan
Cerita rakyat Tampe Ruma Sani mengajarkan kita tentang kesabaran dan ketulusan hati. Meskipun Tampe Ruma Sani dan adiknya menghadapi banyak kesulitan dan ketidakadilan, mereka tetap sabar menjalani hidup dengan penuh harapan.
Ketulusan hati dan kesabaran mereka akhirnya membuahkan kebahagiaan yang tak terduga.
Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini adalah bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian hidup akan membawa kebahagiaan yang datang pada waktu yang tepat.