Budaya

Tari Baksa Kembang, Tarian Penyambut Tamu Kerajaan

Tari Baksa Kembang, tarian dari Kalimantan Selatan, dulunya hanya ditampilkan di lingkungan kerajaan untuk menyambut tamu kehormatan atau kerabat kerajaan. Seiring perkembangannya tarian ini menjadi tarian rakyat yang dapat ditampilkan dalam berbagai acara. Nama kembang pada tarian ini, bukan tanpa alasan melainkan karena ciri khas dari tarian ini menggunakan kembang sebagai propertinya. Tarian ini biasanya […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tari Baksa Kembang, Tarian Penyambut Tamu Kerajaan
Foto: pinterest
Diterbitkan

Tari Baksa Kembang, tarian dari Kalimantan Selatan, dulunya hanya ditampilkan di lingkungan kerajaan untuk menyambut tamu kehormatan atau kerabat kerajaan. Seiring perkembangannya tarian ini menjadi tarian rakyat yang dapat ditampilkan dalam berbagai acara. 

Nama kembang pada tarian ini, bukan tanpa alasan melainkan karena ciri khas dari tarian ini menggunakan kembang sebagai propertinya. Tarian ini biasanya dimainkan oleh penari wanita tunggal atau bisa juga dengan berkelompok dengan syarat jumlah penarinya harus ganjil.

Awalnya, tari Baksa Kembang hanya ditampilkan di lingkungan kerajaan saja, untuk menyambut tamu kehormatan atau kerabat kerajaan, saja. Seiring perkembangannya,  tari ini menjadi tarian rakyat yang dapat ditampilkan dalam berbagai acara. Biasanya untuk menyambut tamu di upacara pernikahan, hajatan, festival budaya dan lainnya. 

Kisah Dibalik Tari Baksa Kembang

Menurut sejarah, tari Baksa Kembang dikaitkan dengan kisah dari seorang putri Kerajaan Uripana yang memberikan setangkai bunga teratai merah pada kekasihnya, pangeran bernama Suria Wangsa Gangga dari kerajaan Dipa dan Baha di Kalimantan.

Konon tarian ini sudah ada sejak zaman agama Hindu, sebelum masa pemerintahan Sultan Suriansyah, raja pertama dari Kerajaan Banjar. Setelah kemunculan dari kerajaan Banjar, tari ini difungsikan sebagai tari penyambutan tamu kehormatan keraton. 

Dalam perkembangannya, tarian ini juga ditampilkan pada berbagai macam acara, seperti acara adat, maupun festival kebudayaan di Kalimantan Selatan. Kesenian ini juga mulai dikreasikan dari segi busana dan gerakan supaya terlihat lebih menarik. 

Dikarenakan terdapat banyak versi, ada kesepakatan antara para pelatih tari dari Provinsi Kalimantan Selatan, bahwa para penari Baksa Kembang harus mengenakan properti mahkota Gajah Gemuling. 

Mahkota ini sendiri terbuat dari  sepasang kembang bogam yang digunakan pada bagian pelipis, serta untaian ornamen halilipan yang dirangkai dan dibiarkan menjuntai di belakang sanggul penari. Halilipan ini terbuat dari anyaman janur

Gerakan Tari Baksa Kembang menggambarkan seperti putri – putri remaja yang cantik sedang bermain di taman bunga. Mereka memetik bunga-bunga yang kemudian di rangkai menjadi kembang bogam. 

Dalam pertunjukannya, penari terkadang membawa rangkaian kembang untuk dihadiahkan kepada tamu yang datang. Tarian ini biasanya ditampilkan dengan diiringi oleh gamelan dengan irama lagu yaitu lagu Ayakan serta lagu Janklong maupun Kambang Muni.

Tari Baksa Kembang bukan hanya sekadar gerakan gemulai yang dibawakan oleh penari, namun juga melambangkan identitas diri dan bentuk kekayaan budaya Kalimantan Selatan. Sehingga tarian ini harus terus dijaga dan dilestarikan. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya02 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati