Tradisi

Tradisi Ngebuyu, Acara Seru Rayakan Kelahiran Bayi Baru Lahir

Saat menyambut bayi yang baru lahir, masyarakat di Kabupaten Lampung memiliki cara unik yaitu tradisi Ngebuyu. Momen perayaan ini biasanya dilakukan dalam waktu 9–10 hari setelah bayi lahir. Tradisi ini masih digelar masyarakat Kecamatan Rajabasa, kecamatan Way Urang Kabupaten dan Ulun Lampung Saibatin di Kabupaten Lampung Selatan. Tradisi Ngebuyu, juga dikenal dengan nama “Ngabuyu; Kabuyon; […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Ngebuyu, Acara Seru Rayakan Kelahiran Bayi Baru Lahir
Keseruan acara Saweran dalam tradisi Ngebuyu di Lampung. Foto: Tnagkapan layar youtube/Ina Nabila
Diterbitkan

Saat menyambut bayi yang baru lahir, masyarakat di Kabupaten Lampung memiliki cara unik yaitu tradisi Ngebuyu. Momen perayaan ini biasanya dilakukan dalam waktu 9–10 hari setelah bayi lahir. 

Tradisi ini masih digelar masyarakat Kecamatan Rajabasa, kecamatan Way Urang Kabupaten dan Ulun Lampung Saibatin di Kabupaten Lampung Selatan. Tradisi Ngebuyu, juga dikenal dengan nama “Ngabuyu; Kabuyon; Diduayon; Tabur Uang; Saweran“.

Dilansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, tradisi ini dilaksanakan setelah bayi berumur 9-10 hari. Sebelum itu, bayi tidak boleh dibawa keluar rumah. Sebelum aqiqah, tradisi ini menjadi syarat wajib yang harus dilakukan.

Maksud dari tradisi ini yaitu sebagai ungkapan rasa syukur karena telah dikaruniai anak bagi orang tua. Sedangkan bagi orang-orang yang menghadiri tradisi Ngebuyu, disimbolkan sebagai saksi. 

Disamping itu, kehadiran para undangan adalah sebagai bagian dari falsafah sakai sambayan. Prinsip ini masih dipegang teguh oleh Masyarakat Lampung. Sakai sambayan memiliki makna  gotong royong, tolong menolong, dan meningkatkan silaturahmi. Selain itu juga  untuk mempererat hubungan baik antar kerabat maupun antar tetangga 

Pelaksanaan Tradisi Ngebuyu

Secara pelaksanaannya, tradisi ngebuyu merupakan upacara adat yang sederhana.

Tahapan awal yang perlu dipersiapkan adalah membeli perlengkapan upacara. Bahan tersebut seperti beras kuning, kemiri, uang (logam dan kertas), kertas hias, kayu/bambu, lem, dan permen. 

Kertas hias warna (biasanya merah dan putih), bersama dengan kertas hias dan kayu dirangkai menyerupai pohon. Nantinya puncak pohon buatan diberi foto sang bayi. Pohon ini digunakan hanya sebagai simbol pelaksanaan tradisi Ngabuyu. Sedangkan, beras kuning, kemiri, dan uang diletakkan di baskom yang sudah diberi alas kain.

Jika anak pertama melakukan tradisi Ngebuyu pada hari kedua, maka anak kedua dan seterusnya akan mengikuti pelaksanaan tradisi Ngebuyu pada hari kedua juga. 

Proses tradisi ini diawali dengan pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat terdekat. Tradisi Ngabuyu biasanya dilaksanakan pada pagi hari di halaman rumah penyelenggara. Upacara diawali dengan keluarnya sang penyelenggara beserta sang bayi dari pintu depan rumah.

Setelah memberi sambutan singkat, ibu dan bayinya menaburkan sedikit demi sedikit baskom berisi uang logam dan kertas, kemiri, dan beras kuning. Disisi lain, orang-orang yang hadir berebut mengambil uang yang ditaburkan. 

Taburan Bermakna

Bahan-bahan yang ditaburkan pada tradisi Ngebuyu memiliki makna masing-masing. Beras kuning memiliki makna saling tolong menolong dan menghargai makhluk Tuhan. Kemiri memiliki makna menjauhkan bayi yang baru dilahirkan dari pengaruh buruk yang datang dari makhluk halus. 

Sedangkan uang artinya sebagai media mempertemukan keluarga dan kerabat. Sementara Permen bermakna rasa saling menyayangi agar bayi diterima baik di keluarga maupun masyarakat. 

Setelah berusia lebih dari 9 hari, sang bayi baru boleh berada di luar dan boleh dibawa mandi ke sungai (kabuyon atau diduayon). Namun, seiring perkembangannya, tradisi memandikan bayi ke sungai diganti dengan memandikan di bak yang disiapkan di depan rumah.

TopikTradisi
Tradisi11 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati