Tradisi

Tradisi Ngin-Angin, Prosesi Lamaran Bagi Calon Pengantin

Saat akan melamar, ada kebiasaan atau tradisi yang bernama ngin-angin di daerah Sumenep, Madura. Tradisi turun-temurun ini untuk mengetahui seputar informasi dari gadis yang ingin dilamar. Biasanya di sini ada perantara orang lain yang dimintai tolong oleh pihak keluarga laki-laki. Perantara bisa siapa saja, tapi yang umum dari kerabat atau famili si gadis. Perantara bisa […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Ngin-Angin, Prosesi Lamaran Bagi Calon Pengantin
Foto: seputarjatim.com
Diterbitkan

Saat akan melamar, ada kebiasaan atau tradisi yang bernama ngin-angin di daerah Sumenep, Madura. Tradisi turun-temurun ini untuk mengetahui seputar informasi dari gadis yang ingin dilamar.

Biasanya di sini ada perantara orang lain yang dimintai tolong oleh pihak keluarga laki-laki. Perantara bisa siapa saja, tapi yang umum dari kerabat atau famili si gadis. Perantara bisa siapa saja, tapi umumnya dari orang yang disegani dan dipercaya, seperti seorang ustadz atau kyai. 

Dalam Bahasa Madura, Ngin-angin sendiri memiliki arti memberi angin atau kabar. Tujuannya untuk mendapatkan informasi dari gadis yang ingin dilamar. Informasi yang ingin didapat ialah apakah sang gadis sudah ada yang melamar atau tidak.  Tahapan selanjutnya yaitu memasang “ngin-angin” oleh orang ketiga atau perantara.

Baca  juga: Rokat Tase, Tradisi Para Nelayan Madura

Memberi angin atau memberi kabar digunakan untuk mengetahui bagaimana respon dari pihak perempuan. Tahapan ini dimaksudnya untuk mengetahui sejauh mana pihak pria akan diterima oleh pihak perempuan. Pertimbangan dari pihak perempuan juga biasanya ikut dibahas. 

Dalam proses ini, keluarga pihak pria biasanya membawa makanan khas yang menyimbolkan keseriusan. Makanan itu seperti, pisang, kopi, dan gula. Jika “ngin-angin” ini mendapat tanggapan yang baik, maka langkah selanjutnya yaitu menentukan  hari yang bagus.

Jika tahap selanjutnya berjalan dengan baik maka akan berlanjut pada proses lamaran. Pihak pria akan mengunjungi rumah perempuan dengan membawa sejumlah seserahan. Misalkan seperti aneka macam kue, pakaian, kosmetik, dan beberapa peralatan yang biasa digunakan perempuan. 

Tahap ini idak berhenti sampai disitu saja. Setelah itu, ada jeda satu minggu untuk pihak perempuan berkunjung ke rumah pihak pria. Orang Madura menyebutnya “balessan” atau balasan. Maksudnya yaitu bahwa pihak keluarga perempuan membalas lamaran yang diajukan pihak pria.

Ketika datang ke pihak pria, keluarga perempuan juga membawa bawaan yang sama dan menyesuaikan dengan apa yang digunakan oleh pihak pria. Baru setelah itu, melakukan perencanaan pernikahan yang akan digelar tak lama kemudian. Hingga saat ini, prosesi adat ini masih eksis dan menjadi warisan budaya yang lestari di Madura. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi22 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati