Sekaten merupakan upacara tradisional tahunan yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Upacara bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Biasanya diadakan mulai 5 Rabiul Awal atau dalam kalender Jawa disebut bulan Maulud.
Secara historis, awalnya ritual Sekaten digelar ebagai piranti dakwah Walisongo di tanah Jawa. Ketika menjalankan dakwah, para wali ini memakai kesenian dan budaya yang bersifat terbuka.
Tradisi Tahunan di 4 Keraton
Merujuk sumber Kasultanan Yogyakarta, ritual Sekaten sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Ritual ini untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pendapat lain menyatakan, Sekaten berasal dari kata ‘sekati’. Sekati sendiri merupakan nama seperangkat gamelan yang diyakini berasal dari era Majapahit.
Di sisi lain, istilah Sekaten juga disebut-sebut berasal dari bahasa Arab, ‘syahadatain”, yang merupakan kalimat untuk menyatakan diri memeluk Islam.
Hingga kini terdapat empat kraton yang memiliki tradisi tahunan itu, yakni Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Kasepuhan, dan Kanoman Cirebon.
Fokus ritual Sekaten merujuk pada piranti gamelan atau disebut ‘gangsa’ dalam bahasa Jawa.
Keunikan Tradisi Sekaten
Ciri khas dari tradisi ini adalah prosesinya yang diawali dengan membawa keluar gamelan dari keraton ke masjid dan diakhiri dengan membawa gamelan masuk kembali dari masjid ke kraton.
Gamelan dikeluarkan sejak tanggal 5 Maulud atau Rabiul Awal, dan selama 6 hari gamelan ditabuh dan pemberhentian suara hanya dilakukan sebelum waktu shalat atau malam Jumat.
Pada hari ketujuh, saat gamelan kembali ke keraton, digelar puncak acara berupa Grebeg Maulud.
Keunikan lainnya yaitu latar belakang terjadinya tradisi ini. Tradisi Sekaten bisa dikatakan sebagai budaya akulturasi antara agama Islam dan kebudayaan Jawa.
Anthony Reid dalam karyanya Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-168, Kekuatan Kejawen yang ada pada masa itu, membuat daerah-daerah berbahasa Jawa tampak unik di antara budaya-budaya Islam lainnya di Asia Tenggara.
Dalam konteks pembentukan “Islam-Jawa”, sebutlah demikian, Reid bahkan mencatat Sultan Agung berhasil membangun sintesis kebudayaan antara tradisi Jawa dan Islam, hal yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh Sultan Akbar di India.
Upaya tersebut dapat dilihat dari pengembangan bahasa Jawa ke dalam bentuk ngoko, kromo madya, dan krama inggil serta sistem kalender Saka dan kalender Hijriah (Islam) menjadi sistem kalender Jawa seperti yang dikenal sekarang.
Dalam mengajarkan agama Islam, Sultan Agung tidak diberlakukan secara ketat. Dia hanya memberlakukan hal-hal penting. Pada masa itu, Sekaten menjadi perayaan kerajaan terbesar sepanjang tahun.
Gamelan sebagai Media Dakwah
Terkait kehidupan agama, masyarakat Jawa sejak dulu juga telah dikenal memiliki karakter moderat dan memiliki toleransi tinggi terhadap penganut agama-agama lain.
Bahkan menurut temuan Ben Anderson, kemampuan untuk bersikap toleransi dan menghargai pluralisme kebenaran agama-agama lain adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang Jawa.
Hikmah utama dari ritual Sekaten ialah pelajaran tentang hubungan dan dialog antar agama dalam bingkai budaya Jawa. Dalam perkembangannya, upacara Sekaten merupakan penyebarluasan agama Islam menggunakan kesenian gamelan. (Anisa Kurniawati- Sumber: Indonesia.go.id)