Tradisi

Udan Dawet, Ritual Meminta Hujan di Banyuanyar Boyolali

Tradisi Udan Dawet Banyuanyar Boyolali, adalah tradisi unik untuk meminta hujan. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bisanya dilaksanakan setiap tahun pada hari Jumat Pon bulan keempat pada Kalender Jawa. Pulau Jawa dikenal memiliki banyak sekali budaya dan tradisi. Salah satunya yaitu tradisi udan dawet yang biasanya digelar di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, […]

Oleh Anisa Kurniawati

Udan Dawet, Ritual Meminta Hujan di Banyuanyar Boyolali
Foto: youtube desa wisata kampus kopi banyumas
Diterbitkan

 Tradisi Udan Dawet Banyuanyar Boyolali, adalah tradisi unik untuk meminta hujan. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bisanya dilaksanakan setiap tahun pada hari Jumat Pon bulan keempat pada Kalender Jawa. 

Pulau Jawa dikenal memiliki banyak sekali budaya dan tradisi. Salah satunya yaitu tradisi udan dawet yang biasanya digelar di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Kearifan lokal ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilestarikan. 

Tradisi yang merupakan warisan turun temurun ini adalah ritual untuk meminta hujan terutama pada saat musim kemarau panjang. Tujuannya sebagai ucapan rasa syukur karena telah diberi keselamatan, keberkahan dan kesehatan. 

Ritual ini biasanya dimulai dengan kirab gunungan yang berupa hasil bumi, jajanan pasar, tumpeng nasi, hingga gunungan dawet setinggi 1,8 meter. Biasanya peserta kirab terdiri dari tiga dukuh, yaitu Dukuh Bunder, Dukuh Ngemplak, dan Dusun Dukuh. 

Kirab budaya dilakukan dari masjid An-Nur Dusun Bunder dibawa ke Sendang Mande Rejo, Dusun Dukuh. Ratusan warga biasanya mengenakan pakaian adat, ibu-ibu membawa sesaji yang digendong dengan jarik batik. Bahkan, anak-anak ikut merayakan juga. 

Sesampai di Sendang Mandirejo, sesepuh desa akan berdoa agar diberikan hujah yang membawa berkah bagi warga sekitar. Kemudian dilanjutkan warga menyiramkan dawet ke Sendang Mandirejo yang dianggap sebagai tempat bernaung para pepunden seperti Dewi Nawang Wulan, Yosodipuro, Ki Dadung Awuk, Ki Dadung Melati. 

Tradisi udan dawet, meski ada beberapa yang menulis pro dan kontra dari ritual ini, namun tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan agar berkembang dari generasi ke generasi. Disamping itu, tradisi ini juga dapat memperkuat rasa kesatuan dan kebersamaan serta mengangkat perekonomian warga setempat. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi26 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati