Tradisi

Upacara Adat Peusijuek, Tradisi Syukuran Masyarakat Aceh

Upacara Adat Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan sampai sekarang. Masyarakat Aceh dikenal memiliki adat dan istiadat serta kaya dengan berbagai macam budaya. Salah satunya yaitu Peusijuek. Kata Sijuek dalam bahasa Aceh berarti dingin, kemudian ditambah awalan Peu yang artinya membuat sesuatu menjadi. Tradisi ini pada dasarnya sebagai media memohon keselamatan, ketentraman […]

Oleh Anisa Kurniawati

Upacara Adat Peusijuek, Tradisi Syukuran Masyarakat Aceh
Peusijuek dalam upacara pernikahan – Foto: RRI.co.id
Diterbitkan

Upacara Adat Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Masyarakat Aceh dikenal memiliki adat dan istiadat serta kaya dengan berbagai macam budaya. Salah satunya yaitu Peusijuek. Kata Sijuek dalam bahasa Aceh berarti dingin, kemudian ditambah awalan Peu yang artinya membuat sesuatu menjadi.  Tradisi ini pada dasarnya sebagai media memohon keselamatan, ketentraman dan kebahagiaan dalam kehidupan.

Peusijuek berarti menjadikan sesuatu agar dingin, bisa juga diartikan menyiramkan. Biasanya tradisi ini dilakukan pada momen-momen tertentu antara lain perkawinan, sukuran menempati tempat tinggal baru, hendak merantau atau berangkat haji.

Dilansir dari jurnal Tradisi Peusijuek Dalam Masyarakat Aceh oleh Marzuki, sejarah peusijuek tidak terlepas dari sejarah Islamisasi Aceh pada abad sekitar 7 Masehi. Pada saat itu sebagian adat masyarakat Aceh yang dianggap tidak bertentangan dengan Islam masih diperbolehkan.

Baca juga: Meugang, Tradisi Aceh Sambut Ramadan dan Hari Raya

Prosesi Peusijuek

Perjalanan tradisi ini diawali melalui organisasi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) pada tahun 1939. Organisasi yang  dibentuk  Abu Daud Beureueh ini mengeluarkan maklumat kepada umat Islam di Aceh untuk meninggalkan amalan-amalan yang dianggap syirik. 

Perselisihan ini terus berlanjut, hingga pada tahun 1965, melalui MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama), dikeluarkanlah suatu fatwa mengenai kebebasan menjalani pemahaman agama menurut keyakinan masing-masing. 

Sampai sekarang, peusijuek masih terus bertahan dan dilestarikan keberadaannya masyarakat Aceh. Tradisi ini sekarang disesuaikan dengan ajaran Islam. Di antaranya dengan mengubah mantra-mantra yang digunakan menjadi dengan doa-doa berbahasa Arab. 

Tradisi peusijuek dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama menaburkan beras padi (breuh padee). Kedua, menaburkan air tepung tawar. Ketiga, menyunting nasi ketan (bu leukat) pada telinga sebelah kanan dan terakhir prosesi pemberian uang. 

Perlengkapan seperti beras, air tepung mawar, dedaunan nantinya dipercikkan dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri serta sesekali disilang. Baru kemudian dibacakan doa-doa keselamatan, kedamaian dan kemudahan rizki dari Allah. 

Bila tradisi peusijuek digelar untuk perkawinan, hajatan atau berangkat haji, acara akan diakhiri dengan tahapan pemberian amplop berisi uang dari para tamu ke tuan rumah. Saat ini, upacara Peusijuek tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan adat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan spiritual dalam masyarakat Aceh.

TopikTradisi
Tradisi13 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →
Pranatacara menggunakan bahasa Jawa dalam kegiatan pelestarian tradisi bertutur di Sleman.

Bahasa Krama dan Masa Depan Tradisi Jawa

Paguyuban pranatacara di Sleman merawat bahasa Jawa krama melalui seni bertutur dan tata krama, sekaligus mendorong generasi muda memperoleh ruang untuk belajar dan mempraktikkannya.

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati