Pariwisata

Wisata Selam Maratua Dibawa Menyeberangi Pasar Malaysia dan Singapura

Pesona bawah laut Maratua diperkenalkan kepada pasar wisata selam Malaysia dan Singapura melalui pengalaman langsung di destinasi.

Oleh Ridwan

Wisata Selam Maratua Dibawa Menyeberangi Pasar Malaysia dan Singapura
Penyelam sedang menikmati pemandangan bawah laut Pulau Maratua di Kalimantan Timur. Foto: dok. Noah Maratua Resort via Kemenpar
Diterbitkan

Di Maratua, laut bukan sekadar bentang biru yang mengelilingi pulau. Di bawah permukaannya, dunia lain terbentang: ruang yang selama ini menjadi alasan para penyelam dari berbagai belahan dunia datang ke salah satu pulau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Kini, kekayaan bawah laut itu telah diperkenalkan lebih jauh. Bukan hanya kepada wisatawan perorangan, tetapi kepada industri wisata selam di dua negara tetangga: Malaysia dan Singapura.

Upaya tersebut dilakukan Kementerian Pariwisata melalui Famtrip Marine Maratua 2026, medio Agustus 2026. Sejumlah pengelola dive center dari Malaysia dan Singapura diajak melihat langsung potensi wisata selam, akomodasi, serta pengalaman wisata lain yang tersedia di Maratua.

Enam hari perjalanan itu memperlihatkan satu hal penting: Maratua sedang ditawarkan bukan semata sebagai tempat untuk menyelam, melainkan sebagai pengalaman perjalanan yang mempertemukan laut, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Ketika Laut Menjadi Pintu Masuk

Selama kegiatan berlangsung, peserta menghabiskan tiga hari untuk menyelam di sembilan titik. Mereka tidak hanya menikmati lanskap bawah laut, tetapi juga mengenal layanan penyelaman, akomodasi, dan kesiapan destinasi dalam menerima wisatawan mancanegara.

Cara tersebut membuat promosi wisata selam menjadi lebih konkret. Para pelaku industri dari Malaysia dan Singapura tidak sekadar menerima informasi mengenai Maratua dari materi promosi. Mereka datang, menyelam, menginap, dan melihat sendiri bagaimana produk wisata di destinasi tersebut bekerja.

Bagi industri perjalanan, pengalaman langsung semacam ini penting. Sebuah destinasi selam bukan hanya soal apa yang terdapat di bawah air. Ada operator yang membawa wisatawan ke laut, tempat menginap, transportasi, pemandu, hingga berbagai aktivitas yang dapat mengisi waktu sebelum dan sesudah penyelaman.

Karena itu, yang hendak diperkenalkan Kementerian Pariwisata melalui famtrip tersebut adalah sebuah ekosistem perjalanan.

Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan para peserta diharapkan dapat menggunakan pengalaman selama berada di Maratua sebagai referensi untuk memasukkan destinasi tersebut ke dalam paket wisata yang dipasarkan di Malaysia dan Singapura.

Sembilan Titik Selam, Lalu Menyusuri Daratan

Maratua tidak berhenti pada pengalaman bawah laut.

Di sela rangkaian penyelaman, peserta mengunjungi Goa Gumantung, menikmati matahari terbenam di Teluk Harapan, serta melakukan kunjungan ke sejumlah akomodasi. Perjalanan kemudian diperluas ke Kampung Dayak Tumbit untuk mengenalkan budaya dan produk lokal masyarakat.

Rangkaian itu membuat citra Maratua yang ditawarkan menjadi lebih lengkap.

Wisata selam memang menjadi magnet utamanya. Namun setelah laut, ada gua, lanskap pesisir, matahari yang turun di ufuk, kehidupan masyarakat, dan produk lokal yang dapat menjadi bagian dari perjalanan.

Di sinilah wisata bahari Kalimantan Timur memperoleh konteks yang lebih luas. Pengalaman wisata tidak harus berhenti pada satu atraksi. Laut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal bentang alam dan kebudayaan yang hidup di sekitarnya.

Pendekatan semacam itu juga memberi peluang agar manfaat pariwisata tidak terkonsentrasi hanya pada aktivitas penyelaman. Semakin beragam pengalaman yang dikemas dalam sebuah perjalanan, semakin banyak pula sektor lokal yang berpotensi terlibat.

Mengapa Malaysia dan Singapura?

Pemilihan Malaysia dan Singapura sebagai pasar sasaran bukan tanpa alasan.

Data Badan Pusat Statistik yang dikutip Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa hingga Juni 2026 terdapat 1.361.772 kunjungan wisatawan asal Malaysia ke Indonesia. Dari Singapura tercatat 739.721 kunjungan pada periode yang sama.

Bagi Kementerian Pariwisata, besarnya arus kunjungan dari kedua negara tersebut juga membuka peluang untuk mengembangkan segmen wisata yang lebih spesifik, termasuk wisata minat khusus seperti diving.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Kementerian Pariwisata Dedi Ahmad Kurnia menyebut Malaysia dan Singapura sebagai pasar strategis, tidak hanya karena jumlah kunjungan, tetapi juga karena peluang pengembangan berbagai segmen perjalanan.

Dalam konteks Maratua, targetnya bukan sekadar mendatangkan lebih banyak orang. Ada upaya untuk membangun hubungan dengan pihak yang memang memiliki pengetahuan dan jaringan dalam wisata selam. Karena itu, dive center menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Sejumlah dive center dari Malaysia dan Singapura mengikuti kegiatan “Famtrip Marine Maratua 2026” Kementerian Pariwisata untuk memperkenalkan potensi wisata bahari Pulau Maratua. Foto: Kemenpar

Dari Perkenalan Destinasi ke Kerja Sama Bisnis

Salah satu agenda dalam Famtrip Marine Maratua 2026 adalah networking event. Forum ini mempertemukan pelaku industri pariwisata lokal dengan dive center dari Malaysia dan Singapura.

Pertemuan tersebut memberi ruang bagi pelaku usaha di Maratua untuk memperkenalkan produk dan layanan mereka sekaligus membuka kemungkinan kerja sama dengan mitra dari kedua negara.

Di sinilah sebuah famtrip dapat memiliki arti lebih panjang daripada enam hari perjalanan.

Penyelaman menjadi pengalaman awal. Pertemuan bisnis menjadi jembatan. Setelah itu, peluangnya adalah lahirnya paket perjalanan yang menggabungkan aktivitas selam dengan wisata alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.

Dengan pola seperti itu, destinasi diving Indonesia tidak hanya dipasarkan berdasarkan foto bawah laut yang indah, tetapi juga berdasarkan pengalaman yang dapat dijual secara utuh kepada wisatawan.

Dampaknya Bisa Menjalar ke Banyak Sektor

Pengembangan wisata selam biasanya memiliki rantai ekonomi yang lebih panjang daripada sekadar transaksi antara wisatawan dan operator selam.

Ketika wisatawan datang, mereka membutuhkan tempat menginap. Mereka membutuhkan transportasi, pemandu, makanan, dan berbagai layanan pendukung. Mereka juga dapat membeli produk lokal atau mengikuti aktivitas lain di sekitar destinasi.

Kementerian Pariwisata melihat peluang tersebut dalam pengembangan pasar wisata selam Maratua. Peningkatan permintaan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada akomodasi, pemandu wisata, transportasi, kuliner, produk lokal, serta berbagai usaha pendukung pariwisata lainnya.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan promosi Maratua tidak semata-mata dapat dilihat dari berapa banyak wisatawan yang datang untuk menyelam.

Ada pertanyaan yang lebih panjang: seberapa jauh aktivitas tersebut menciptakan mata rantai ekonomi di tingkat lokal?

Ada paradoks yang selalu mengikuti destinasi bahari.

Semakin dikenal sebuah tempat, semakin besar peluang wisatawan datang. Namun semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kualitas alam dan pengalaman yang membuat destinasi tersebut menarik sejak awal.

Dalam kasus Maratua, laut adalah modal utama. Karena itu, pengembangan wisata selam pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari kualitas pengelolaan lingkungan, layanan wisata, keselamatan, serta keterlibatan masyarakat.

Kegiatan famtrip memang berada pada ranah promosi dan pemasaran. Namun ketika promosi tersebut berkembang menjadi kunjungan yang lebih besar, kesiapan destinasi akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan tersebut.

Pengalaman peserta selama enam hari di Maratua setidaknya memperlihatkan bahwa produk wisata yang ditawarkan sudah diarahkan lebih luas: dari bawah laut menuju daratan, dari atraksi menuju pengalaman, dan dari promosi menuju kemungkinan kerja sama bisnis.

Maratua, Antara Laut dan Kehidupan di Daratan

Pada akhirnya, kekuatan Maratua tidak hanya berada di bawah permukaan laut.

Ada pengalaman menyelam di sembilan titik. Ada Goa Gumantung dan senja di Teluk Harapan. Ada akomodasi yang menjadi bagian dari perjalanan. Ada Kampung Dayak Tumbit dengan budaya dan produk lokalnya. Dan ada pelaku usaha yang mencoba menghubungkan semua pengalaman tersebut dengan pasar wisata di luar Indonesia.

Melalui Famtrip Marine Maratua 2026, Kementerian Pariwisata mencoba membawa cerita tentang Maratua ke ruang yang lebih luas—ke meja para pelaku industri wisata selam di Malaysia dan Singapura.

Langkah berikutnya bukan lagi sekadar membuat orang mengenal nama Maratua. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman yang diperkenalkan selama famtrip itu dapat diterjemahkan menjadi produk perjalanan, kerja sama bisnis, dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Sebab sebuah destinasi pada akhirnya tidak hanya hidup dari keindahan yang dimilikinya. Ia hidup ketika keindahan itu dapat dikenali, dihargai, dikelola, dan memberi arti bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT