By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Perpaduan Rasa Eropa dan Jawa dalam Sepiring Selat Solo
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Warisan Budaya > Perpaduan Rasa Eropa dan Jawa dalam Sepiring Selat Solo
Warisan Budaya

Perpaduan Rasa Eropa dan Jawa dalam Sepiring Selat Solo

Achmad Aristyan
Last updated: 21/01/2025 03:13
Achmad Aristyan
Share
Selat Solo berisi sayuran dan bistik. Foto: Wikipedia/Danangtrihartanto
SHARE

Selat Solo adalah salah satu hidangan khas dari Kota Solo, Jawa Tengah, yang menjadi bukti nyata akulturasi budaya kuliner antara Jawa dan Eropa.

Meski namanya mengacu pada sajian “Salad”, hidangan ini lebih menyerupai bistik dalam kuah encer bercita rasa manis khas Jawa. 

Sebagian orang bahkan menganggap Selat Solo sebagai kombinasi unik dari salad, bistik, dan sup.  

Sejarah dan Asal-Usul  

Melansir dari detik.com, hidangan ini bermula pada era kolonial Hindia Belanda, ketika orang Eropa memperkenalkan bahan masakan dan teknik memasak mereka, seperti roti, keju, dan bistik, kepada masyarakat lokal.

Hidangan-hidangan ini kerap dinikmati kalangan ningrat dan terdidik, yang kemudian mengadaptasi cita rasa Eropa dengan sentuhan Jawa.  

Di Surakarta, ibu kota Kasunanan Surakarta, terciptalah Selat Solo sebagai hasil dari perpaduan itu.

Pengaruh Eropa terlihat dari penggunaan bahan seperti mustard, mayones, dan kecap Inggris, sementara kelezatan khas Jawa terpancar dari rasa manis yang dominan berkat kecap manis. 

Hidangan ini menjadi simbol keunikan perpaduan budaya yang terus lestari hingga kini.  

Bahan dan Penyajian Selat Solo  

Dilansir dari cookpad.com, Selat Solo menggunakan daging sapi bagian has luar yang direbus dalam kuah encer.

Kuah ini terbuat dari campuran bawang putih, cuka, kecap manis, kecap Inggris, air, serta rempah seperti pala dan merica. Hasilnya adalah kuah manis dan gurih dengan aroma rempah yang menggugah selera.  

Dalam penyajiannya, Selat Solo dilengkapi dengan telur rebus, sayuran seperti wortel, buncis, kentang, tomat, mentimun, kol atau brokoli, serta daun selada.

Hidangan ini sering diberi tambahan keripik kentang sebagai pelengkap tekstur dan sedikit mustard atau mayones untuk sentuhan rasa.  

Uniknya, Selat Solo juga dapat dinikmati dalam variasi yang lebih berkuah, menyerupai sup. Dalam versi ini, kaldu sapi yang digunakan memberikan rasa hangat dan gurih, sehingga cocok dinikmati sebagai makanan pembuka. 

Namun, penting untuk menyantapnya selagi hangat, karena saat dingin, lemak dari daging sapi akan tampak mengapung di permukaan kuah.  

Keistimewaan Selat Solo  

Selat Solo bukan sekadar hidangan, melainkan warisan budaya kuliner hasil percampuran budaya. Hidangan ini cocok untuk dinikmati dalam berbagai kesempatan, baik sebagai menu sehari-hari maupun sajian istimewa untuk tamu. 

Rasa manis yang bersahabat dengan lidah masyarakat Indonesia dan keunikan penyajiannya membuat Selat Solo terus dicintai berbagai generasi.

Bagi pecinta kuliner, mencicipi Selat Solo adalah pengalaman yang mengajak memahami lebih dalam bagaimana sejarah mampu membentuk identitas sebuah hidangan. 

Jadi, jika berkunjung ke Kota Solo, jangan lupa untuk menyempatkan diri menikmati Selat Solo, perpaduan sempurna antara tradisi Jawa dan sentuhan Eropa. (Dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Menggali Makna Rumah Gadang, Arsitektur Ikonik Minangkabau

Kisah Sang Ibu Menghibur Si Gadis dalam Tarian Nek Pung 

Rahasia ‘Kekebalan’ Penari Tari Piring: Mistik atau Teknik?

Sejarah Dibalik Kelezatan Bola Daging Bakso Malang

Lomba Permainan Tradisional, Lestarikan Budaya Kalimantan

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Achmad Aristyan
Content Writer
Previous Article Kampung Pitu, Kampung Tujuh Kepala Keluarga di Gunung Kidul
Next Article Tari Badui, Simbol Persatuan dan Dakwah Islam di Sleman
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?