By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanus.comemmanus.comemmanus.com
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Jejak Karya Djoko Pekik, Seniman 1 Miliar Asal Grobogan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
emmanus.comemmanus.com
Font ResizerAa
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus.com > Blog > Profil > Jejak Karya Djoko Pekik, Seniman 1 Miliar Asal Grobogan
Profil

Jejak Karya Djoko Pekik, Seniman 1 Miliar Asal Grobogan

Anisa Kurniawati
Last updated: 22/01/2025 03:49
Anisa Kurniawati
Share
Seniman Joko Pekik Ffoto: twitter @hamemayuaji
SHARE

Djoko Pekik salah satu seniman besar Indonesia. Salah satu lukisan terkenalnya yaitu “Berburu Celeng” terjual dengan harga fantastis, yaitu satu miliar rupiah. Sehingga memberinya julukan “Seniman 1 Miliar.”

Lahir di Grobogan, Jawa Tengah, 2 Januari 1937, Djoko Pekik lahir di keluarga sederhana. Dia menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta yang sekarang merupakan ISI Yogyakarta pada tahun 1957. 

Gaya Melukis Bernilai Kerakyatan

Gaya pelukisan Djoko Pekik adalah realis-ekspresif dan dibumbui nilai-nilai kerakyatan. Karya-karya Djoko Pekik dikenal dengan kritik sosial yang tajam serta sering menampilkan tema politik, terutama terhadap pemerintahan Orde Baru. 

Astri Wright, pengamat seni lukis kontemporer Indonesia, menilai karya Djoko unik. Temanya berbeda dari yang lainnya. Tema yang sering diangkat Djoko berkaitan dengan kesulitan hidup. 

Salah satu keunikan lain dari gaya ekspresionis Djoko adalah teknik melukisnya yang dikenal sebagai teknik “basah.” Teknik ini terinspirasi oleh metode Affandi, namun Djoko mengembangkannya menjadi ciri khasnya sendiri. 

Dalam teknik ini, cat minyak dicairkan secukupnya dan diaplikasikan ke kanvas dengan sapuan lebar dan basah. Penggunaan teknik ini memaksa Djoko Pekik bekerja cepat, karena jika cat mengering, hasil yang diinginkan sulit dicapai. 

Pernah Ditahan

Semasa mudanya Djoko aktif di berbagai organisasi. Salah satunya yaitu mendirikan Sanggar Bumi Tarung bersama Amrus Natalsya dan Misbach Tamrin. Di samping itu, dia juga aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Organisasi Lekra adalah lembaga kebudayaan yang didirikan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah peristiwa G30S pecah 1965, Djoko Pekik pun ditangkap, karena keterlibatannya dengan PKI.

Djoko dipenjara selama tujuh tahun hingga 1972. Selama ditahan, ia mengalami siksaan yang mengakibatkan gangguan pendengaran. Setelah bebas, Djoko Pekik membutuhkan waktu untuk kembali ke dunia seni yaitu sekitar tahun 1990.

Karya Djoko Pekik 

Sebelum tahun 1965, ia menggelar 3–4 kali pameran di Jakarta, kemudian vakum. Tahun 1990, Djoko Pekik kembali menggelar pameran di Edwin’s Gallery Jakarta dan sejumlah pameran lain.

Beberapa karyanya yaitu Awal Bencana di Lintang Kemukus 1965 (1965), Kali Brantas Bengawan Solo Luweng (2008), Sirkus Adu Badak, Go to Hell Crocodile (2014). Salah satu karyanya yang paling terkenal yaitu Lukisan “Berburu Celeng” yang dibuat pada tahun 1998.

Salah satu karya Djoko Pekik berjudul “Berburu celeng” seharga Rp. 1 Miliar, dilukis tahun 1998.

Lukisan ini menjadi salah satu karyanya yang paling terkenal dan terjual dengan harga fantastis, yaitu satu miliar rupiah, memberinya julukan “Seniman 1 Miliar.”

Di masa tuanya, seniman Djoko Pekik tinggal di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Bantul, bersama istrinya, Sehatini Purwaningsih. Ia tetap berkarya meskipun kondisi kesehatannya menurun.

Pada, Sabtu, 12 Agustus 2023, pukul 08.00 WIB, di usia 86 tahun meninggal dunia karena faktor kesehatan dan dimakamkan di Kompleks Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, Minggu (13/8/23). (Dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Seno Gumira Ajidarma, Sastrawan Dengan Banyak Julukan

Panthera Tigris Sondaica, Harimau Jawa yang Kini Tinggal Cerita

Rizal Mantovani, Dari Musik Video ke Sutradara Horor

Tuti Maryati, Bintang Musik Keroncong Indonesia

Menjaga Napas Kesenian Lokal Lewat Generasi Muda Mergolangu

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Oemah Alam Mandala Wonosobo, Rumah Singgah Para Pendaki
Next Article Legenda Putri Mambang Linau, Cerita Rakyat Bengkalis, Riau
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanus.comemmanus.com
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?