Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengunjungi Situs Manusia Purba Sangiran di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs bersejarah ini dikenal sebagai pusat peradaban awal manusia.
Situs Sangiran ini menyimpan bukti arkeologi yang tersebar di lima klaster utama, yaitu Bukuran, Krikilan, Manyarejo, Ngebung, dan Dayu.
Disamping itu juga memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, dengan urutan geologi yang mencakup periode Pliosen atas hingga akhir Pleistosen Tengah.
Kawasan ini menjadi saksi evolusi manusia, fauna, dan budaya dalam kurun waktu 2,4 juta tahun terakhir. Selain itu, Sangiran juga menjadi lokasi lantai hunian arkeologi dari Pleistosen Bawah, yang berusia sekitar 1,2 juta tahun.
“Berbagai temuan di kawasan ini seperti Sangiran 17 atau S17, yang merupakan temuan Homo erectus terlengkap di Asia Tenggara, serta ratusan temuan Homo erectus lainnya yang berasal dari setidaknya 1,5 juta tahun yang lalu menunjukkan betapa tuanya peradaban manusia di Indonesia,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/2/2025) dikutip dari detik.com.
Lima Klaster Sangiran
Di Klaster Bukuran, ditemukan fosil Homo erectus dalam jumlah besar, menjadikannya sebagai situs utama dalam penelitian manusia purba. Klaster ini juga menampilkan fosil dari berbagai situs paleoantropologi dunia.
Situs ini juga menampilkan narasi audio visual yang menggambarkan kehidupan flora dan fauna purba. Lalu ada diorama rekonstruksi 3 tipe Homo erectus, yaitu Arkaik, Tipik, dan Progresif, yang pernah hidup di Jawa.
Sementara itu, Klaster Krikilan menjadi tempat dipamerkannya rekonstruksi Homo erectus berdasarkan fosil Sangiran 17. Serta berbagai fosil fauna purba seperti gajah dari jenis Mastodon, Stegodon, dan Elephas, serta hewan lainnya seperti kerbau, banteng, rusa.
Museum Lapangan Manyarejo menjadi contoh unik kolaborasi antara pengetahuan ilmiah dan tradisi lokal dalam proses penggalian fosil. Di lokasi ini ditemukan berbagai fragmen tulang rusuk dan panggul gajah serta tengkorak banteng.
Klaster Ngebung, yang merupakan titik keempat dalam kawasan Sangiran. Klaster ini menyimpan berbagai artefak budaya dan fosil yang merepresentasikan kehidupan manusia purba dari periode Pleistosen Bawah hingga Pleistosen Tengah.
Berbeda dengan klaster lain, Museum Dayu di Karanganyar fokus pada evolusi lingkungan Sangiran.
Museum ini menampilkan lima lapisan geologi yang mencerminkan perubahan lingkungan dari rawa, pengangkatan daratan akibat aktivitas vulkanik, hingga pembentukan daratan baru.
Baca juga: Menbud Fadli Zon Ingin Jadikan Sangiran Pusat Prasejarah Dunia
Bermanfaat Bagi Literasi
Fadli Zon menekankan bahwa berbagai penemuan di Sangiran membuktikan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia memiliki kontribusi besar dalam sejarah peradaban dunia.
Ia juga menyoroti pentingnya Sangiran sebagai sumber pengetahuan generasi muda dan masyarakat.
Ia menambahkan, ”Sangat menarik menelusuri lorong waktu jejak peradaban awal sejarah peradaban manusia di Sangiran. Melalui jelajah museum, kita mampu menggali berbagai kisah masa lampau yang tidak hanya bermanfaat bagi literasi namun juga memperkuat bukti ilmiah bahwa Indonesia adalah salah satu peradaban tertua di dunia yang patut menjadi laboratorium alam yang sangat lengkap dan saya rasa sangat langka untuk ditemukan di Asia, bahkan dunia.”
Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO,5 Desember 1996, Sangiran menyumbang lebih 50% dari total temuan fosil Homo erectus di dunia. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat ditemukannya fosil manusia purba Meganthropus Paleojavanicus.