Beberapa abad yang silam, Kesultanan Kartasura diliputi kesedihan mendalam. Sang permaisuri menderita sakit parah yang tidak kunjung sembuh, meskipun berbagai tabib telah dipanggil untuk memberikan pengobatan. Kondisi sang permaisuri semakin memburuk, tubuhnya kian kurus hingga hanya terlihat seperti tulang terbungkus kulit. Hal ini membuat seluruh rakyat Kartasura cemas, hingga roda pemerintahan pun tidak berjalan sebagaimana mestinya. Suatu hari, penasehat istana memberi saran kepada pangeran agar mencari tempat sepi untuk berdoa kepada Sang Maha Agung demi memohon petunjuk kesembuhan permaisuri.
Pangeran Kartasura kemudian melakukan pertapaan, menghadapi berbagai godaan hingga pada suatu malam, sebuah suara gaib terdengar. Suara itu memintanya menghentikan semedi dan memberitahu bahwa permaisuri akan sembuh jika diambil bunga karang dari Pantai Selatan. Pangeran segera kembali ke istana dan berkonsultasi dengan penasehatnya. Menurut penasehat, pantai yang dimaksud kemungkinan besar adalah wilayah Karang Bolong, Kebumen, Jawa Tengah yang terkenal dengan gua-gua karangnya.
Keesokan harinya, Pangeran menugaskan Adipati Surti untuk mencari bunga karang tersebut. Adipati Surti, bersama dua pengiring setianya, Sanglar dan Sanglur, berangkat menuju Karang Bolong. Setelah beberapa hari perjalanan, mereka tiba di lokasi dan menemukan gua karang. Di sana, Adipati Surti memulai pertapaan. Suatu malam, sebuah suara menghentikan semedinya. Adipati membuka mata dan mendapati seorang gadis cantik bernama Suryawati di hadapannya, yang merupakan abdi Nyi Loro Kidul, penguasa Laut Selatan.
Suryawati bersedia membantu Adipati dengan syarat bahwa ia harus tinggal bersamanya di Pantai Selatan. Setelah berpikir, Adipati Surti menyetujui persyaratan tersebut. Suryawati kemudian membawanya secara gaib ke lokasi bunga karang. Ternyata, bunga karang yang dimaksud adalah sarang burung walet, yang jika diolah bisa menjadi obat mujarab. Adipati segera mengambil sarang burung walet secukupnya dan kembali ke tubuh fisiknya di tempat semedi.
Setelah berhasil mendapatkan sarang burung walet, Adipati Surti kembali ke Kartasura bersama kedua pengiringnya. Pangeran sangat bahagia dengan keberhasilan Adipati dan segera memerintahkan agar ramuan obat dari sarang burung walet itu dibuat. Benar saja, setelah beberapa hari meminum ramuan tersebut, permaisuri sembuh dan kembali sehat. Kesultanan Kartasura pun kembali ceria.
Namun, Adipati Surti teringat akan janjinya pada Suryawati. Ia memutuskan untuk menepati janji tersebut dan meminta izin kepada Pangeran untuk pergi dan menetap di Karang Bolong. Kepergiannya disertai tangis haru para abdi istana, karena Adipati Surti dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan baik. Sanglar dan Sanglur juga memutuskan untuk ikut serta.
Sesampainya di Karang Bolong, mereka membangun rumah sederhana. Setelah itu, Adipati Surti kembali bersatu dengan Suryawati, memenuhi janjinya. Mereka menikah dan hidup bahagia di Karang Bolong, mendapatkan penghasilan yang besar dari sarang burung walet, yang semakin banyak dicari orang. (Achmad Aristyan – Sumber: mediahimapbsiuny.wordpress.com)