Waduk Jatigede, terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat merupakan salah satu danau buatan terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 4.983 hektar.
Fungsi utamanya adalah sebagai penyedia cadangan air, pengendali banjir, sumber irigasi, dan pembangkit listrik tenaga air, serta menjadi destinasi wisata yang populer di Jawa Barat.
Dirancang Sejak Zaman Kolonial Belanda
Meski baru diresmikan pada tahun 2015 , rencana pembangunan Waduk Jatigede sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda.
Pemerintah kolonial saat itu merancang tiga waduk di sepanjang aliran Sungai Cimanuk, dengan Waduk Jatigede sebagai proyek utama. Namun, rencana ini tidak terlaksana karena adanya penolakan dari masyarakat setempat.
Pada tahun 1963, rencana pembangunan waduk ini dihidupkan kembali dengan tahap awal berupa relokasi desa-desa yang akan terdampak pembangunan.
Tercatat, ada 28 desa di Kecamatan Darmaraja, Kecamatan Wado, Kecamatan Jatigede, dan Kecamatan Jatinunggal yang termasuk dalam area genangan waduk.
Dilansir dari laman disparbud.jabarprov.go.id, proses relokasi pertama dilakukan pada tahun 1982, disusul dengan desain waduk pada 1988. Konstruksi fisik baru dimulai pada 2007 hingga selesai 2015.
Destinasi Wisata Kujang Sepasang
Kini, Waduk Jatigede memberikan dampak positif bagi warga Sumedang dan sekitarnya, termasuk bagi daerah persawahan di Kabupaten Majalengka, Kuningan, Cirebon, dan Indramayu.
Di sektor pariwisata, Waduk Jatigede menawarkan panorama alam yang menawan dengan pemandangan bukit-bukit hijau dan permukaan air yang merefleksikan langit biru.
Wisatawan bisa menikmati berbagai kegiatan menarik, seperti memancing dan berkeliling waduk menggunakan perahu. Beragam fasilitas juga tersedia, mulai dari tempat ibadah, gazebo, rumah makan, hingga spot foto.
Waduk ini semakin menarik dengan hadirnya Monumen Kujang Sapasang yang berdiri di salah satu sisinya, menjadi ikon Jawa Barat sekaligus daya tarik baru.
Monumen ini berdampingan dengan Masjid Al Kamil yang dihubungkan oleh jembatan kayu indah, menambah kesan megah dan memikat dari Waduk Jatigede.
PLTA Jatigede Dukung Swasembada Energi
Dari waduk inilah kemudian hadir PLTA Jatigede, yang merupakan salah satu dari 26 pembangkit listrik yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Januari 2025. PLTA ini merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi penyumbang besar dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
“Hari ini kita sangat bangga ya, kita bisa meresmikan 37 proyek, 26 pembangkit tenaga listrik di 18 provinsi yang menghasilkan energi 3,2 gigawatt lebih, kemudian jaringan, gardu-gardu, ini saya kira cukup membanggakan. Dan untuk itu, saya ucapkan selamat dan penghargaan kepada semua unsur yang telah bekerja keras,” ujar Presiden Prabowo dikutip dari laman presidenri.go.id, (20/1/2025).
PLTA Jatigede merupakan pembangkit berkapasitas 2×55 MW yang memanfaatkan air dari Waduk terbesar kedua di Indonesia dan dapat mengurangi emisi karbon 415.800 ton per tahun.
PLTA ini nantinya juga berperan sebagai pembangkit peaker yang memastikan keandalan pasokan listrik di Indonesia, sehingga dapat menjadi pendukung terwujudnya swasembada energi.